Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.34


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak camping yang berakhir canggung itu. Hari itu, setelah Margareth kembali, suasana menjadi canggung.


Air matanya cukup terlihat jelas berkat pencahayaan dari api unggun. Mereka juga tidak bodoh, karena toilet adalah alasan umum yang digunakan untuk melarikan diri.


"Rere~"


Suara cempreng yang terdengar itu membuyarkan lamunannya. Sosok mungil dengan tumpukan buku tebal di gendongannya itu berjalan kearahnya seperti arwah tak beraga.


bruk~


Dia mengambil tempat di samping Margareth yang tengah duduk di rerumputan taman Kampus. Lalu membaringkan tubuhnya dengan alas bantal kaki Margareth.


"Wah~ dosennya killer banget.." seru Hana.


"Bukannya perhotelan itu pelajarannya santai, ya?" sahut Margareth dengan senyum meledek.


Hana tak menjawab dan malah membuat ekspresi seperti akan menangis. Melihat hal itu bukannya merasa kasihan, Margareth malah tertawa.


"Chandra.."


Suara itu mengalihkan perhatian mereka berdua, dan membuat mereka menoleh ke arah sebelah sana. Seorang gadis dengan sebuah kotak kado ditangannya. Juga cocok pria jakung yang berdiri dihadapannya.


"Melihat ini aku jadi mengingat mu, lalu membelinya untukmu.." ujar gadis itu sambil menyodorkan benda di tangannya pada Chandra.


Hana dan Margareth sangat menanti bagaimana tanggapan Chandra akan perempuan cantik dihadapannya itu. Sesuai dugaan, Chandra menerimanya.

__ADS_1


Wajah Margareth mulai suram. Dia berpaling dari pemandangan yang tadi dilihatnya.


Awalnya dia tidak menyangka kalau Universitas itu adalah tujuannya setelah pindah dari New York. Dia pikir Chandra lebih memilih Universitas Angkasa yang melegenda itu, karena pindahan dari luar negeri sepertinya pasti akan mudah untuk masuk ke sana.


Namun siapa sangka dia bertemu dengannya disini saat mengurus registrasi.


"Hei, bocah beton!"


Kini giliran Chandra yang teralihkan dengan suara yang terdengar menyebalkan itu.


Empat laki-laki sedang berjalan ke arah Margareth. Melihat hal itu membuatnya mengerutkan kening. Dan tanpa sadar dia meremas kotak kado pemberian gadis yang masih berdiri di hadapannya.


"Loh~" seru gadis itu.


"Pergi!" seru Chandra.


Senyum kecil mulai terukir di wajah Steven. Dia menyadari kalau perubahan temannya itu dikarenakan pemandangan yang ada di depan sana.


Steven menepuk pundak Chandra. "Kau gak suka melihat mereka mendekati istri kecilmu?" tanyanya.


Chandra menghempas tangan Steven. Kemudian berbalik dan menatapnya dengan tajam.


"Gue gak peduli!" tegasnya, lalu pergi.


...****************...

__ADS_1


Sementara di tempat lain...


puk~


Selembar foto di tangannya jatuh karena pundaknya yang ditepuk lumayan keras. Alfan mengambilnya kembali dan berbalik menatap seseorang yang telah mengganggunya.


"Lu mau mati, hah?"


"Sorry bro.."


"Emang lagi liat apaan sih, serius amat.."


"Cantik gak?" tanya Alfan pada kedua temannya itu.


Temannya berencana merampas foto itu dari genggamannya, namun dengan sigap Alfan menyembunyikannya.


"Jangan liat liat!" serunya.


Temannya menyeringai. Seperti biasa, mereka meremehkan Alfan, dan meramal bahwa sasaran nya akan meleset.


"Kalian mau taruhan berapa? gue yakin bisa dapetin ini cewek.." ujarnya dengan percaya diri.


"Tapi gue masih perlu melatihnya dulu, karena dia sangat suka memberontak. Mulut mungilnya itu juga sedikit kurang ajar. Dan matanya itu selalu memancarkan rasa jijik setiap kali ngeliat gue.." lanjutnya.


Dia menghisap potongan kecil terakhir putung rokoknya, lalu meniup asapnya pada foto yang dipegangnya.

__ADS_1


"Gue bakan menjinakkannya.."


__ADS_2