Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.54


__ADS_3

"Tumben minta jemput?"


"Tumben bawa mobil?"


Terdengar seperti perdebatan, suasana disekitarnya juga suram. Mereka berdua saling terdiam setelah saling melemparkan pertanyaan.


Juan menghela napas pasrah setelah melirik Margareth yang tampak cemberut.


"Kamu tidak ingin menanyakan sesuatu?" tanya Margareth kemudian.


"Aku tidak akan bertanya. Kalo kamu gak cerita, berarti kamu gak pengen aku tau," tutur Juan dengan bijak.


Margareth menoleh dan menatap Juan dengan puppy eyes nya. Kemudian kembali dan menundukkan kepalanya sambil memainkan jari.


"Aku juga gak tau kenapa dia tiba-tiba mengantar jemput ku," ucap Margareth.


"Tapi terakhir kali bertemu dia meminta maaf padaku," lanjutnya.


"Ya syukur dong kalo gitu, kenapa malah cemberut?"


"Dia bilang aku harus ngejauhin kalian. Tapi aku menentang, terus dia ninggalin aku gitu aja dipinggir jalan,"


"Brengs*k!" gumam Juan.


Tidak ada jawaban setelahnya. Juan menahan emosi dengan mencengkeram erat stang mobilnya. Wajahnya memang tetap tenang, tapi siapa yang tahu didalam sana dia sedang menggertak kan giginya.

__ADS_1


Hingga tak terasa mobil telah sampai di kampus.


"Nanti kalo udah selesai hubungi aku," ucap Juan sebelum Margareth turun. Dan, Margareth pun menjawabnya dengan anggukan.


...****************...


"Woi.. sibuk main ama ceweknya terus nih," seru Galih, orang yang datang bersama Steven.


Chandra menerima tos dari dua temannya itu. Dia yang masih di atas motor itu kemudian turun dan melepas helmnya.


"Lu keliatan kayak cowok penyayang kalo lagi ama tuh bocah," ujar Galih.


"Gimana akting gue?" tanya Chandra sambil tersenyum licik.


"Iya, kata si Tomi gue harus ambil si Margareth, dengan gitu Helmi bakal kalah telak.." ucap Chandra dengan wajah tak berdosa nya.


"Gila lu, Dra.."


Melihat atmosfer keduanya yang terasa aneh, Galih pun mengangkat tangannya, "Kayaknya gue harus pergi," ucapnya kemudian pergi setelahnya.


"Gue udah menyaksikan dia dari dia segini," tutur Steven sambil menepuk perutnya.


"Dia anak baik, gue tau dia. Gak adil kalo lu perlakuin dia kayak gitu!" ucap Steven semakin meninggi.


brak!

__ADS_1


Chandra membanting helmnya. Kemudian mendekat dan meraih kerah baju Steven. "Tau apa lu?!" bentaknya.


Steven terdiam, namun dia tak memutus tatapannya. Dia benar-benar sudah tak habis pikir dengan Chandra. Steven mengenal Chandra dari TK. Dan sejak saat itu pula dia mengenal Margareth, karena Chandra menceritakan kelahiran Margareth pada Steven.


Seolah mengamati pertumbuhan Margareth. Karena dia selalu membuntuti kemanapun Chandra dan dirinya pergi. Terakhir kali dia juga menyaksikan saat Margareth mengejar motor Chandra, 4 tahun yang lalu. Tapi dia tidak bisa ikut campur, dia tidak berani mendekat.


Selama ini yang bisa dia lakukan hanyalah mengamati. Mungkin saat ini waktunya dia memberi nasihat untuk temannya itu.


"Lu bisa membereskan ini baik-baik, masih belum terlambat sebelum pertunangan kalian dilakukan. Lu tega nyakitin bocah yang selalu ngintilin elu dari kecil?" tutur Steven dengan nada rendah agar Chandra tidak semakin tertelan emosi.


"Karena dia ngintilin gue dari kecil, makanya gue gak bisa nerima dia!" bentak Chandra.


"Makanya lu bicarain baik-baik! gue yakin Margareth juga bakal ngerti! toh ya selama ini dia gak maksa elu buat suka sama dia, kan? dia juga gak ganggu elu!" bentak balik Steven.


Chandra terdiam. Ucapan Margareth beberapa yang lalu kembali berputar di kepalanya.


"Gue yakin, ada sedikit tempat buat dia di hati elu," lirih Steven.


Chandra melepas cengkeramannya dan menghempas Steven untuk menjauh darinya. Dia menyiah rambutnya dengan gusar.


"Dra.. gawat, Dra!" Galih kembali dengan teriakan hebohnya.


"Ngapain sih lu teriak-teriak?" tegur Steven.


"Cewek lu Dra.. cewek lu diseret ama Geng nya Fara!"

__ADS_1


__ADS_2