
"Re, sini.." panggil Heka saat Margareth baru saja sampai dirumah.
Margareth mengerutkan keningnya heran. Dia kira tidak ada orang dirumah.
Margareth mendekat dan mengambil tempat di samping Vivian, Ibunya. Dia menatap Vivian bingung, kemudian menatap Ayahnya.
"Papa denger temanmu yang datang kemarin itu dari keluarga Lee.."
"Siapa namanya? Hel siapa? yang datang sama Juan kemarin loh,"
"Helmi.." jawab Margareth ragu.
Heka tertawa puas setelah mendengar nama itu. Margareth semakin heran dibuatnya. Suasana di ruang keluarga saat ini terasa aneh, tidak seperti biasanya yang selalu terasa canggung setiap kali Heka memanggilnya untuk bicara.
"Hebat kamu. Berteman lama dengan anak Gubernur, dan sekarang juga berteman dengan pewaris grup Lee," ujar Heka dengan bangga.
"Besok undang teman-teman mu itu ke pesta ulang tahun perusahaan, sekalian Papa juga mau kasih pengumuman penting,"
"Temen-temen?" gumam Margareth.
"Iya, yang waktu kita kemping di pantai, bukankah semuanya itu temanmu?" sahut Vivian.
"I-iya.." jawab Margareth ragu-ragu.
Lagi-lagi suara tawa gembira dari Heka. Entah apa yang sudah terjadi seharian ini saat dia tidak ada dirumah. Semuanya terlihat aneh.
"Ya sudah, jangan lupa ya, undang mereka semua datang!" ucap terakhir Heka sebelum pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Margareth masih mengerutkan keningnya bingung. Dia menatap Vivian yang masih duduk disampingnya. Tatapan meminta penjelasan dia bebankan pada Ibunya itu.
"Sudahlah, besok kamu juga tau.." ujar Vivian kemudian pergi menyusul Heka.
"Oh iya.." Vivian menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Jam 7 malam, ya.." ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya pergi.
Margareth masih membeku di sana bersama dengan pikirannya yang berlarian kemana-mana.
Tahun-tahun sebelumnya dia tidak pernah hadir di pesta perusahaan. Heka juga tidak memaksa akan hal itu. Tapi hari ini, menggunakan nama temannya berarti memaksanya untuk hadir dalam acara itu.
"Orang-orang pada kenapa sih.." gerutu Margareth.
...****************...
"Ah, disana terasa geli!"
"Apa yang Madam lakukan pada bulu mataku!!"
Berisik. Suara teriakan Margareth beberapa kali terdengar hingga bawah sana. Entah darimana Vivian membawa wanita yang meminta dipanggil dengan sebutan Madam Elsa itu.
Dia sudah cukup menyiksa Margareth dengan gaun putih yang sangat kencang itu. Ditambah lagi kini dengan make-up yang tak kunjung selesai itu.
"Sudah, kau bisa membuka matamu.." ujar Madam Elsa.
Margareth tercengang dihadapan cermin besar itu. Dengan refleks tangannya menyentuh pipinya yang bersemu merah muda karena blush-on.
__ADS_1
"Eitss.. no no, jangan merusak karya seni ku," ujar Madam Elsa.
"Kau terlahir dengan wajah yang sempurna, aku hanya menyihirnya sedikit.." lanjutnya dengan senyum bangga diwajahnya.
"Terima kasih.." ucap Margareth.
Mungkin karena ini untuk acara resmi yang penting. Vivian secara khusus memanggil tukang rias profesional ke rumahnya.
Margareth pikir hasilnya akan biasa saja karena semua makeup akan terlihat sama padanya. Ternyata tidak. Dia benar-benar kagum dengan hasilnya. Bahkan tatanan rambutnya juga membuatnya panggling.
"Ingat, jangan mengusapnya dengan tangan. Jika mendesak cukup tap dengan tisu atau sapu tangan, perlahan saja.." tutur Madam Elsa.
"Apakah sudah siap?" tanya Vivian yang baru saja masuk kedalam kamar Margareth.
Vivian kehilangan kata-kata. Dia sampai ternganga karena penampilan luar biasa putrinya.
"Maa.. apakah tidak berlebihan memakai gaun putih? ini bukan acara pernikahan.." Margareth merajuk.
"Siapa tau.." Vivian tersenyum miring sambil menatap Madam Elsa, seperti memberi sinyal.
Margareth tampak curiga dengan keduanya. Dia menatap Madam Elsa dengan wajah cemberutnya setelah Vivian keluar. Sepertinya hanya dia yang tidak mengerti.
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Margareth curiga.
"Mengapa hanya aku yang tidak tau.." ujar Margareth sambil memanyunkan bibirnya.
Madam Elsa terkekeh pelan. "Kau menghancurkan karya ku kalau berekspresi seperti itu.."
__ADS_1
"Kau akan segera tahu.. selamat bersenang-senang," tutur Madam Elsa seraya menuntun Margareth keluar dari kamar.