
Hana sedikit merasa tenang. Dia mulai merasa lega karena bisa meluapkan isi hatinya yang mengurangi rasa sakitnya.
"Gimana kalo sementara ini kamu tinggal sama aku?" tanya Margareth.
Dengan yakin Hana menggeleng, lalu menjawabnya dengan tegas. "Tidak,"
Margareth menghela napas pasrah.
"Kalo gitu malem ini aku nginep disini, ok?"
Hana mengangguk.
Margareth tersenyum pahit melihat temannya yang biasanya sangat aktif, kini lemah tak berdaya. Seperti akan hancur berkeping-keping kalau disentuh sedikit saja, rapuh.
"Kamu udah makan belum?" tanya Margareth.
Lagi-lagi Hana hanya menjawabnya dengan isyarat. Dia menggeleng.
"Persediaan air mu habis, aku akan pergi sebentar ke minimarket yang ada didepan. Jangan buka pintunya sebelum aku pulang!" tutur Margareth.
Margareth bangkit dari duduknya, diikuti dengan Hana.
"Kunci lagi pintunya, akan akan segera kembali," ucap Margareth.
Pintu kembali tertutup, diikuti suara kunci. Lagi-lagi Margareth menghela napas panjang, lalu pergi.
tok..tok..
Belum Hana menghempaskan kembali tubuhnya di atas sofa, suara ketukan pintu sudah terdengar. Hana menatap pintu itu dengan curiga.
"Re?" ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah pintu.
__ADS_1
"Rere? itu kamu?" dia mengintip dari celah gorden, namun tidak terlihat.
"Hmm.." suara gumaman terdengar.
Hana menghela napas lega. "Aku kira siapa. Apa minimarket nya tutup?" ucapnya sambil membuka pintu.
"Halo, sayang?"
"Kenapa kamu mematikan ponselmu?"
Hana berteriak histeris, lalu menutup kembali pintunya. Namun dia kalah kekuatan dan akhirnya terjatuh.
Hana berlari masuk kerumahnya. Kamar tamu menjadi tujuannya, karena terlalu memakan waktu kalau harus menaiki tangga ke kamarnya.
Namun...
"Mau lari kemana lu?! hah?!" bentak Alfan yang langsung meraih rambut Hana.
Dengan kasar Alfan menarik tangan Hana hingga dia melepaskan pegangannya. Lalu kembali menarik rambut Hana untuk menyeretnya keluar.
"Lepaskan! sakit!" teriak Hana.
Hana terus memberontak, tangannya berusaha untuk menarik benda berat yang dia lewati. Dia berhasil menangkap kaki sofa. Namun benda itu tidak cukup untuk membantunya.
Jambakan Alfan semakin kuat, rasanya seperti kulit kepalanya akan terlepas. Sangat sakit.
"Aku mohon.. lepaskan. Itu sangat menyakitkan,"
"Berisik lu!" bentak Alfan seraya menendang pundak Hana.
"Bangs*t!"
__ADS_1
Suara yang terdengar sangat familiar ditelinga Hana. Seketika dia merasa lega.
bugh!
Pukulan keras yang Dion layangkan sukses membuat Alfan terlimbung. Beberapa pukulan lagi dia berikan hingga Alfan tak berdaya.
"Tidak apa, semuanya akan berakhir.." tuturnya pada Hana setelah meraihnya kedalam dekapannya.
Tubuhnya yang bergemetar hebat, tangis histeris yang dia tumpahkan. Dion mempererat dekapannya untuk membuat Margareth tenang.
"Helmi udah ngehubungin polisi, semuanya akan baik-baik saja," bisik nya untuk membuat Hana tenang.
Hana memeluk erat tubuh Dion dan menenggelamkan wajah di dadanya. Rasa takutnya perlahan mulai memudar.
Baik-baik saja. Sepertinya belum. Alfan, dengan setengah kekuatan yang masih tersisa itu, dia bangkit. Lalu meraih vas bunga yang ada di atas meja.
prang!
Hana langsung mengangkat kepalanya karena kaget. Tangisnya kembali terdengar saat darah segar meluncur dari kepala Dion. Deras menuruni pipinya, dan menetes dari ujung dagunya membasahi baju Hana.
"Dion!" teriak Hana.
"Lepasin dia!" bentak Alfan sambil menarik Hana dari dekapan Dion. Namun Dion tak melepaskannya meskipun Alfan memukuli tubuhnya.
"Angkat tangan!"
Sebuah benda menyentuh bagian belakang kepala Alfan. Membuat tubuhnya bergemetar. Perlahan dia mulai mengangkat kedua tangannya, lalu pergi diseret oleh beberapa polisi.
"Astaga! apa yang terjadi?!" teriak Margareth saat kembali.
Juan dan Helmi yang saat itu datang bersama polisi langsung memapah tubuh lemas Dion untuk berdiri. Namun Hana tak membiarkannya dan masih tak melepas pelukannya.
__ADS_1
"Lepasin, kamu mau dia kehabisan darah?" ujar Helmi. Perlahan, Hana mulai melepasnya.