Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.40


__ADS_3

Dari kejauhan Margareth melihat sosok yang melangkah ke arahnya seperti seorang bocah yang baru saja mendapat permen.


Margareth menggelengkan kepalanya heran setelah wajah tak asing itu berhenti dihadapannya dengan senyum lebar di wajahnya.


Sekotak coklat dan setangkai mawar merah terlihat didekapnya. Margareth menyipitkan matanya menelisik benda mencurigakan itu.


"Dari siapa itu?" tanya Margareth penasaran.


Hana hanya tersenyum malu tanpa menjawab pertanyaan Margareth. Reaksinya itu membuat Margareth mengerutkan keningnya heran, siapa yang sudah membuat sahabatnya itu kasmaran.


"Mungkinkah dari Kak Dion?" gumam Margareth.


"Ngawur!" seru Hana yang langsung merubah ekspresi nya 360 derajat. Sesaat kemudian dia kembali tersenyum bahagia sambil mencium wangi setangkai mawar nya.


"Terus dari siapa? ayolah cerita.."


"Dari Alfan," lirih Hana.


"What? aku gak salah denger?" seru Margareth dengan nada tinggi.


Ini masih pagi, dan Margareth sudah menguras tenaganya dengan berteriak.


"Apaan sih nih anak ayam teriak-teriak?"


"Elu kali yang anak ayam!"


Kedatangan empat orang yang saling berdebat itu menambah keriuhan tempat itu. Masing-masing dari mereka langsung mengambil tempat untuk duduk.


Sementara Hana yang masih berdiri itu langsung membelalakkan matanya saat melihat beberapa luka di wajah dan lengan Helmi.

__ADS_1


"Kakak habis jatuh?" tanya Hana.


"Hm?" gumam Helmi sambil melirik lengannya yang terluka.


"Ah iya, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh.." jawab Helmi kemudian.


Julian dan Dion secara bersamaan menoleh dan menatap Helmi dengan kening yang berkerut. Helmi yang menyadari hal itu langsung menepuk kaki keduanya, agar mereka berhenti menatapnya.


"Apa ini hari ulang tahunmu? ku rasa aku juga harus memberimu kado.." Helmi mengganti topik sambil menunjuk barang di tangan Hana dengan alisnya.


"Palingan dari gebetannya," sahut Julian.


Dion yang mendengar hal itupun langsung menoleh ke arah Hana dan menatap benda-benda di tangannya. Dan, Hana yang menyadari tatapan itupun langsung berpindah posisi untuk menghindarinya.


Dion menyeringai.


'Mungkin ini belum waktunya gue dapet jodoh..' gumam Dion dalam hati.


Dion berbalik menatap teman-temannya yang duduk di belakang sana. "Gue ke kelas dulu, ya.." pamitnya, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.


Dia belum sempat berjuang, namun kesempatannya sudah hilang. Dia rasa, dia sudah kalah. Karena kekalahan itu adalah ketika orang yang kalian cintai, mencintai orang lain.


"Ck~" decak pelan Margareth.


Margareth menggaruk rambutnya dengan frustasi. Dia tahu kalau Dion hanya beralasan. Dia juga tahu kalau Dion menyukai Hana.


Dion memang tidak pernah mengatakannya, tapi semua itu sudah terlihat jelas tanpa dia mengatakannya. Dan, Margareth menyadari hal itu.


ting~

__ADS_1


Ponsel Helmi berbunyi.


^^^'Kenapa Kakak membuat ini jadi canggung?'^^^


Ini pesan dari Margareth.


Helmi langsung menoleh kebelakang untuk menatap Margareth. Dia menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua pundaknya sebagai isyarat bahwa dia tidak bermaksud melakukan hal itu, lalu menunjuk Julian yang duduk disebelahnya.


Julian pun juga sama, dia melambaikan kedua tangannya sambil menggelengkan kepala.


"Dua bocah itu memang kurang peka," bisik Juan pada Margareth.


"Sepertinya gue juga harus masuk ke kelas.." ujar Julian yang kemudian beranjak dari duduknya.


"Kalian masih mau disini?" lanjutnya.


"Gue juga balik," sahut Helmi.


Margareth memelototi kedua anak itu. Setelah membuat rusak suasana, dia memilih untuk kabur begitu saja. Margareth mengacungkan kepalan kecilnya sebelum keduanya melesat pergi.


"Sepertinya gue juga harus masuk kelas, Re.." ujar Hana.


"Aku juga mau ke kelas kok, kamu duluan aja.." sahut Margareth.


Margareth menghela napas panjang setelah anak-anak itu pergi. Kini tinggal dirinya dan Juan. Margareth menatapnya dengan wajah cemberut mengingat kejadian semalam.


Sama seperti kemarin, Juan hanya tersenyum tanpa beban melihat reaksi lucu Margareth.


"Nih, wajahmu akan cepat tua kalau cemberut terus.." ujar Juan seraya menyodorkan susu strawberry favorit Margareth.

__ADS_1


Senyum tipis mulai terukir di wajah Margareth. Dia tidak bisa menolak kalau masalah susu strawberry.


"Terima kasih,"


__ADS_2