
Seperti biasa, meskipun berbeda gedung tapi empat anak itu selalu berakhir bersama. Seperti F4 kampus.
Saat ini mereka berempat sedang berjalan ke taman untuk menemui Margareth. Namun perjalanan mereka terhenti karena seseorang yang menghalangi jalan mereka.
"Gue tunggu lu di Jalan Baru.." cetusnya lalu berbalik pergi.
Margareth dan Hana sudah terlihat di sebelah sana. Namun Helmi hanya menatapnya dan tak melanjutkan langkahnya.
"Kalian ke sana dulu, gue pergi.." ujar Helmi.
"Gue ikut!" sahut Julian lalu menyusul Helmi.
"Kalian berdua, jangan bilang Margareth!" teriak Julian dari depan sana.
Juan dan Dion berdiam ditempat seperti anak penurut. Namun sepupu Helmi itu merasa penasaran, setahunya Helmi dan Chandra baru bertemu kemarin. Tapi dari ada yang dilihatnya barusan, mereka seperti sudah saling mengenal.
"Gue pernah denger dari anak Geng sebelah.."
"Katanya Helmi ama Chandra tuh dulu temen deket, mereka dari SMA yang sama," ucap Dion.
"Kenapa katanya? bukannya elu udah satu Geng ama Helmi hampir 5 taunan? berarti sejak dia SMA, kan?"
"Helmi tu tertutup banget. Lu tau sendiri kan kita juga baru tau kalo ternyata dia anak pengusaha besar.."
Juan menghela napas beratnya. Ya, dia lupa kalau sepupunya memang seperti itu. Sejak kebejatan Ayahnya terungkap dan keluarganya berantakan, dia menjadi anak yang tertutup. Dia tidak mempercayai siapapun.
Juan menatap Dion yang sedang memainkan ponsel disampingnya. 'Terima kasih kepada anak-anak ini, setidaknya Helmi bisa melanjutkan kehidupannya karena dukungan secara tidak langsung dari mereka,' batin Juan dalam hati.
__ADS_1
Dion mengerutkan keningnya, melihat Juan yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Ngapain lu liat gue kayak gitu?"
Juan tersenyum tipis, lalu menepuk pelan pundak Dion.
"Jangan deket-deket lu! gue orang lurus!" seru Dion setelah melihat perubahan Juan.
Anak yang biasanya cuek dan tidak pernah menunjukkan keramahan sama sekali, saat ini sedang tersenyum padanya. Tentu saja Dion yang konyol itu akan berpikir yang tidak-tidak.
"Gila lu!"
Senyumnya memudar, wajah poker kembali terukir di wajah tampannya. Merasa kesal Juan pun pergi meninggalkan Dion.
"Dasar manusia gak jelas lu!" seru Dion di belakang sana.
Juan yang merasa kesal karena tidak mencapai tujuannya pun akhirnya berlari. Namun Dion juga ikut berlari, dia melarikan diri dari Juan.
"Hei bocah tol*l berhenti lu!"
"Gak habis pikir gue apa yang ada di otak sial*n elu itu!" umpat Juan.
"Jangan deket-deket! gue cowok lurus!" teriak Dion yang mengundang tawa orang sekitar.
"Ck!" decak Juan.
Dia sudah mengupayakan kekuatannya, namun dia masih tidak bisa mengejar laki-laki kerempeng di depannya itu. Juan semakin frustasi, dia hanya ingin mengatakan sesuatu. Tapi siapa yang sangka Dion malah memiliki pemikiran konyol seperti itu.
__ADS_1
"Halo, Hana? ngapain telepon gue?"
Seperti sepeda yang di rem dengan kuat. Dalam seketika Dion menghentikan langkahnya.
"Oi! dicariin Hana ni!"
Juan menyeringai saat Dion berjalan ke arahnya. Dia pun ikut melangkah maju. Dan...
"Bocah sial*n! lu kira gue cowok apaan?!"
Juan menempeleng kepala Dion sambil menepuki dahinya untuk membuatnya sadar.
"Ampun.. ampun.." seru Dion.
"Gue mau bilang, lebih baik kita gak mendekat dulu ke mereka.." ujar Juan.
"Iya..iya.. lepasin,"
Juan membenarkan bajunya yang berantakan, lalu menyiah rambutnya yang acak-acakan.
"Awas aja lu kalo ngatain gue bengkok lagi!" ancam Juan.
"Gue gak bilang lu bengkok tuh, gue cuma bilang gue lurus.."
Dion membelalakkan matanya, mengangkat tangannya dan mengacungkan jarinya dihadapan Juan. "Elu bilang sendiri, kan? jangan-jangan elu beneran bengkok?!"
Tawa renyah itu terdengar saat dia berlari kejaran Juan.
__ADS_1
"Jangan sampe gue nangkep elu! karena gue bakal hancurin mulut bangs*t elu itu!" umpat Juan yang mendapat sahutan tawa dari Dion.