
Dua hari kemudian..
Seperti biasa, Margareth datang lebih awal dan duduk di bawah pohon favoritnya sebelum kelas dimulai.
Baru saja dia merasakan ketenangan, namun tak lama setelah Hana datang dengan hebohnya.
"Reeee!!"
"Kenapa dulu gak elu penjarain aja tuh mak lampir?!"
Mendengar hal itu Margareth hanya mengerutkan keningnya bingung, tak tahu apa maksud sahabatnya itu.
"Mak lampir? Fara?" Margareth menebak dengan hati-hati.
"Iya, siapa lagi kalo bukan dia?!"
Margareth tersenyum tipis, kemudian menepuk tempat disampingnya untuk mengundang Hana duduk. Dia melirik dua susu strawberry favoritnya yang di beli tadi. Kemudian mengambilnya satu dan dia berikan pada Hana.
"Minum dulu.. terus cerita pelan-pelan ada apa," tutur lembut Margareth.
"Gue gak tau tuh cewek jurusan apa, yang gue tau dia transferan dari luar negeri. Kata tuh si mak lampir, dia ceweknya Chandra! Kan gak bener banget tuh mulutnya!!" jelas Hana dengan emosi.
"Mana tuh cewek sombong banget lagi. Apa lagi waktu dia denger kalo gue temen elu, pengen gue colok matanya!"
Diam, hanya itu reaksi yang bisa Margareth berikan. Meski wajahnya terlihat tenang, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Dia kacau.
Diingat-ingat lagi, setelah hari pertunangan itu mereka berdua sama sekali belum berinteraksi. Chandra masih belum memberikan penjelasan apapun pada Margareth. Dia malah menghindarinya.
Margareth tersenyum tipis. Kemudian beranjak dari duduknya, dan pergi setelah membuka susunya.
"Kok gue malah ditinggal, sih.. dasar kampret!" seru Hana seraya bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Margareth sudah jauh didepan sana.
"Re, berhenti lu!!" teriak Hana.
"Sini.. orang aku gak lari kok," ujar Margareth yang berjalan mundur dengan santai sambil menatap sahabatnya yang ngos-ngosan itu.
Dia terkekeh, kemudian berbalik untuk berjalan normal. Namun, sialnya dia menabrak seseorang.
"Mata lu buta apa?!" bentak orang yang tak sengaja ditabraknya seraya membenarkan rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
"Maa-" ucap Margareth terhenti setelah mengenali wajah orang yang tak sengaja ditabraknya itu. Angela.
"Bisu juga? gak punya sopan san-" ucap Angela juga terhenti setelah menatap wajah orang yang telah menabraknya.
Dia menyeringai. Kemudian menatap Margareth dengan tatapan merendahkan seraya mengibaskan rambutnya yang di keriting gantung.
"Oh, temen kecilnya Chandra?"
"Opps, sorry, udah ganti status ya.."
"Tapi keknya ceritanya tetep sama. Karena Chandra gak sepenuhnya nerima elu. Lebih tepatnya terpaksa.." lanjut Angela dengan senyum liciknya.
"Apa maksud kamu?" tanya Margareth.
"Bukannya udah jelas, atau elu yang bodohnya berlebihan?"
"Dalam hatinya, dia itu masih belum bisa move on dari gue. Dia pernah janji mau nikahin gue. Dan sekarang gue kembali, lu pikir dia bakal bertahan sama elu yang sama sekali gak dia cinta?"
"Sadar diri lu!" bisik Angela kemudian mendorong tubuh Margareth dengan jarinya.
"Bacot lu!" seru Hana yang kemudian membalas perbuatan Angela, Hana mendorongnya hingga terjatuh.
Disaat yang tidak tepat, Chandra muncul di sebelah sana. Angela yang menyadarinya pun segera berdiri dan menarik tangan Margareth yang memegang susu, dalam seketika susu dalam botol itu membasahi wajahnya.
Hana dan Margareth yang kaget dengan aksinya itu hanya bisa berteriak kaget. Angela, dia menjalankan misi terakhirnya. Duduk tersungkur di tanah. Kini dirinya terlihat seperti sosok yang menyedihkan.
"Apa aku telah berbuat salah pada kalian? apa salahku?" teriak Angela untuk menarik perhatian Chandra yang ada disebelah sana.
Semuanya berjalan sesuai rencananya, dengan khawatir Chandra berjalan ke arah mereka bertiga.
"Gila ya lu?" ujar Hana yang masih belum mengerti dengan situasi itu.
"Ada apa ini?" kehadiran Chandra membuat Margareth dan Hana membelalakkan matanya.
Chandra meraih tubuh Angela untuk berdiri, lalu menyeka wajah Angela dengan lengan bajunya.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Chandra pada Angela.
"Aku tidak melakukan ap-"
__ADS_1
"Diam! aku tidak bertanya padamu!" bentak Chandra menghentikan ucapan Margareth.
Angela menyeringai. Kemudian memeluk Chandra dengan ketakutan.
"Aku tidak tau apa salahku.." lirih Angela tak berdaya.
Chandra mendekap tubuh Angela yang gemetar, kemudian menatap Margareth dengan tatapan kecewa yang bercampur amarah.
"Wanita jahat! aku gak menyangka kau berani menyentuh dia yang tidak tau apa-apa ini.." ucap Chandra setelah melepas dekapannya pada Angela.
Dia berjalan mendekat ke arah Margareth, kemudian meraih tangannya. Dengan paksa dia menarik cincin yang melingkar di jari manis Margareth.
"Apa yang kau lakukan, Kak?!" teriak Margareth seraya memberikan perlawanan pada Chandra untuk mempertahankan cincin yang ingin direbutnya itu.
Namun, sayangnya dia gagal. Chandra berhasil melepas cincin itu daei jari Margareth.
"Anggap saja pertunangan kemarin tidak pernah terjadi! Aku akan bertanggung jawab pada keluarga mu.." ujar Chandra kemudian melempar cincin itu kesembarang arah.
"Kau sudah gila!"
"Kau tidak percaya padaku? bahkan kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan!"
"Sepercaya itukah Kakak pada wanita licik itu?!"
"Diam!" bentak Chandra.
"Aku hanya percaya pada apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri!" lanjutnya.
"Wanita itu berbohong padamu!" sahut Hana.
"Kau lebih mempercayai dia daripada orang yang kau kenal dari bayi?" lanjut Hana.
"Menurutmu aku harus percaya pada omong kosongnya daripada bukti yang ada?"
Chandra memapah Angela yang berpura-pura pincang itu pergi.
"Seharusnya aku tidak mengubah keputusan ku untuk membencimu.." ucap Margareth menghentikan langkah Chandra.
Chandra berbalik, disaat bersamaan Margareth juga berbalik pergi. Diikuti oleh Hana.
__ADS_1