Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.27


__ADS_3

3 hari kemudian..


"Dra, hari ini kamu gak ada acara, kan?" tanya Albert saat sarapan.


"Kenapa, Pa?"


"Kamu datang ke sekolah Rere, dia wisuda hari ini. Om Heka sama Tante Vivian ada di luar Kota, jadi tidak ada yang mendampinginya," tutur Albert.


"Dia udah gede, Pa, dia bisa ngurusin dirinya sendiri. Lagian wisuda kan acara sepele," bantah Chandra.


brak!


Albert menggebrak meja makan. Kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya.


"Kalo kamu tidak mau pergi, Papa akan menyita ini!" tegasnya sambil mengayunkan kunci motor Chandra yang ada di tangannya.


"Pa!"


Chandra bangkit dari duduknya dan menatap tajam Albert. Ayah dan Anak itu kini saling beradu tatapan. Hingga sampai Rosa datang dan membuyarkan kekacauan itu.


"Kalian seperti anak kecil saja!"


Kedua laki-laki itu kini kembali duduk dan memakan makanannya. Namun tatapan permusuhan masih saling mereka tunjukkan.


"Sini, Pa," ujar Rosa yang kemudian merampas kunci itu dari tangan Albert.


Dia menatap putranya sejenak, kemudian menghela napas pasrah. Rosa mengembangkan kunci motor itu kepada Chandra.


"Terserah kamu mau pergi atau tidak," tutur Rosa.


Tentu saja pernyataan itu membuat Chandra bingung. Rosa selalu bersemangat saat menyangkut Margareth. Tapi kali ini dia menyerah begitu saja tanpa memaksa.


"Tapi kamu jangan menyesal kalo nanti dia digandeng sama orang lain," ujar Rosa yang mengundang tawa Albert.


"Rere itu cantik, ramah pula. Pasti dia jadi primadona di sekolahnya," lanjutnya.


"Tunggu!" seru Albert.


"Jangan-jangan diluar sana dia sudah punya pacar?"


plak~


Rosa memukul pundak suaminya itu.


"Tidak, dia harus menjadi menantuku!" seru Rosa tak terima.


"Papa cuma bercanda.."


"Ucapan itu adalah doa, gimana kalo nanti jadi beneran?"


"Kan Mama duluan yang mulai.."


Albert dan Rosa mulai mendebatkan calon menantu mereka itu. Sementara putra mereka yang mendengarkan perdebatan itu mulai merasa panas. Dia meletakkan roti yang belum sempat dia gigit karena mendengarkan perdebatan itu.


"Aku pergi!"


Albert dan Rosa tertawa puas setelah mendengar suara motor Chandra pergi. Mereka sengaja berdebat didepan Chandra untuk memprovokasi nya.


"Sifat gengsinya itu menurun dari Papa. Papa dulu juga seperti itu saat mengejar Mama," ujar Rosa yang membuat senyum Albert memudar.


"Kenapa?" tanya Rosa.


"Dari mana Mama tau?"

__ADS_1


"Ya dari Heka lah, siapa lagi teman terdekat Papa kalau bukan Heka.." jawab Rosa kemudian melahap rotinya.


"Anak itu tidak bisa menjaga rahasia sama sekali," gumam Albert.


...****************...


Ramai, tentu saja. Siapa yang tidak senang dengan kata 'wisuda'. Dari depan gerbang suara musik yang sangat kencang itu terdengar. Pensi tidak pernah ketinggalan saat acara wisuda.


Diantara banyaknya orang, kalian bisa melihat laki-laki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitamnya itu. Ditambah lagi dengan topi baseball putih dan kacamata hitam melengkapi penyamarannya.


Bukannya tak terlihat, dia malah semakin mencolok. Dengan penampilan seperti itu, tentu saja dia malah menarik perhatian.


"Ck~" decak Chandra.


Dia sudah mengelilingi aula, bahkan lapangan untuk pensi. Namun dia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Margareth tak terlihat di manapun.


Dia mengeluarkan ponselnya. Tapi saat mengingat dia tidak memiliki nomor Margareth, dia semakin kesal.


"Kau bodoh sekali.."


Suara candaan itu, dan suara tawa yang hanya mendengarnya saja sudah bisa menebak kalau orang itu sangat bahagia. Suara yang familiar itu.


Chandra menoleh.


Gadis mungil dengan baju daerah itu, dia terlihat sangat mempesona dengan riasan tipisnya. Sebuah getaran melintasi dada Chandra.


Namun tak bertahan lama, perasaan itu berubah menjadi amarah saat melihat tiga sosok lelaki yang mengelilinginya. Salah satunya adalah orang yang dikenalnya. Helmi.


"Kak Chan?"


Entah apa yang dipikirkannya dari tadi hingga dia tidak menyadari kalau Margareth telah berdiri dihadapannya.


"Ehemm~" dia berdehem pelan, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jaketnya dan menyodorkannya pada Margareth.


Seperti biasa, dia mengatakan alasan itu dengan ketus.


Margareth tersenyum kecil, kemudian menerima hadiah kecil itu dan membukanya. Itu bukan hadiah yang besar, dan kelihatannya juga bukan sesuatu yang bernilai mahal.


Margareth menatap Chandra yang memalingkan wajahnya setelah tatapan mereka bertemu.


"Pakaikan!" serunya sambil menyodorkan kembali kotak itu.


"Selalu saja merepotkan orang lain!"


"Menurutku tidak!" sangkal Helmi, Juan, dan Dion secara bersamaan.


Chandra menatap mereka satu-persatu dengan tatapan memusuhi. Jika bukan ditempat seperti ini dia pasti sudah melayangkan tinjunya.


"Cepetan.." ucap Margareth.


"Ck!" decak Chandra.


Akhirnya, gelang tali berwarna putih dengan bandul bunga daisy itu melingkar di pergelangan tangan kanan Margareth.


Senyum cerah tergambar di wajah Margareth. Senyum yang sudah lama tidak Chandra lihat. Chandra mengerutkan keningnya, kemudian berbalik untuk pergi dari sana karena tujuannya telah selesai.


"Kakak mau kemana?" tanya Margareth.


"Pulang," jawabnya ketus tanpa menghentikan langkahnya.


Namun, dengan keberanian penuh Margareth meraih lengannya. Yang tentu saja hal itu membuat Chandra menghentikan langkahnya.


"Kau tidak ingin berfoto denganku?"

__ADS_1


Chandra, dia hanya terdiam, juga tidak menoleh. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Sesulit itukah menjawab pertanyaan Margareth?


Setelah beberapa saat, dia menoleh dan menatap Margareth yang masih memegang lengannya sambil menunduk.


"Cepat!" serunya seraya melepas kacamata hitamnya.


Margareth mengangkat kepalanya, dengan bola mata yang hampir keluar itu dia menatap Chandra.


"Benarkah?" tanyanya.


Kemudian menoleh kebelakang menatap ketiga temannya dengan senyum bahagia.


"Cepat, sebelum aku berubah pikiran!"


"Ah~ tangan gue gatel banget.." gerutu Dion yang mengundang tawa Juan.


"Kak, fotoin, ya?" ujarnya pada Helmi.


"Aku? kenapa gak dia aja?" ucapnya sambil menunjuk Juan.


"Karena diantara kalian bertiga hanya Kakak yang paling jago motret,"


Helmi menggaruk rambutnya yang tak gatal. Kemudian dengan terpaksa menerima uluran ponsel Margareth.


"Cepetan! gue muak liat muka lu!" cetusnya sambil menatap malas Chandra.


"Gue juga muak liat wajah lu!"


Margareth mengerutkan keningnya melihat interaksi keduanya yang sepertinya sudah saling mengenal. Dia mulai melamun dan bergulat dengan pikirannya.


Namun..


deg!


Chandra menarik Margareth mendekat dan merangkul pundaknya.


"Yang satunya melotot, yang satunya lagi kayak setan. Kalian mau foto dengan gaya seperti itu? Ini masih belum Helloween!" seru Dion.


"Diem lu, bocah!" seru Chandra.


"Haishh~ mending kita cabut aja daripada muntah disini.." ujar Dion sambil menarik Juan untuk pergi.


Margareth mendongak dan menatap Chandra yang mengerutkan keningnya itu. Kemudian menghela napas panjang dan mulai mengulurkan tangannya ke wajah Chandra.


Dia mengusap alisnya, lalu menarik sudut bibirnya dengan telunjuk.


Benar apa yang dikatakan Margareth, Helmi sangat pandai memotret. Berbagai aksi yang mereka berdua lakukan saat ini, Helmi menjepret nya tanpa kehilangan satu moment pun.


"Dah, Re, aku dah muak liat mukanya.." ujar Helmi.


"Aku nyusul anak-anak, nanti aku hubungi.." lanjutnya kemudian pergi meninggalkan kedua orang itu.


"Iya, Kak, makasih.."


Margareth berbalik dan menatap Chandra, lagi-lagi Margareth menunjukkan senyum manisnya. Dia mendekat, kemudian menarik kerah jaket Chandra dan berjinjit.


cup~


Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Chandra. "Terima kasih, Kak Chan.." bisik nya kemudian melarikan diri.


"Berani-beraninya kau melakukan hal itu lagi?!" teriaknya.


Namun bukannya membuat Margareth menoleh, teriakannya itu malah membuat orang-orang sekitar menoleh.

__ADS_1


Segera dia memakai kembali kacamata hitamnya dan melesat pergi.


__ADS_2