Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.32


__ADS_3

"Rere, kami mau cari camilan ke warung, kamu jagain tendanya sebentar, ya.." panggil Vivian membuyarkan lamunan Margareth.


Margareth berjalan kearah tenda dengan tatapannya yang berfokus pada Chandra yang duduk di atas motornya.


Dia masih tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Secepat membalikkan tangan dia berubah.


"Aw~"


Itulah apa yang dia dapatkan karena tidak memperhatikan jalan. Dia terjatuh, dan sialnya lagi lututnya mendarat di atas karang. Alhasil, darah segar mengalir keluar dari lututnya.


Sedangkan seseorang yang duduk di atas motornya sana, hanya menatap pemandangan itu dengan dahinya yang mengerut.


"Ck~" decak nya.


Dia turun dari motornya. Tidak, bukan untuk menghampiri Margareth. Tapi pergi entah kemana.


"Udah besar masih aja ceroboh.."


Seseorang berjongkok dihadapan nya. Dengan saputangan abu-abunya dia menyeka darah yang bercucur itu.


Margareth menyeringai.


"Aku pasti benar-benar kesepian sampai-sampai aku melihat dia berkeliaran disini.." gumamnya.


tak~


Sentilan yang mendarat di keningnya itu cukup untuk membuatnya sadar.


"Kau kira aku bagian dari halusinasi mu? dasar anak nakal!"


"Tunggu, jadi kau sedang memikirkan ku?"


Margareth memanyunkan bibirnya sambil mengusap keningnya yang masih terasa panas. Namun dia masih diam tak menjawab, dan menatap sosok nyata dihadapannya yang sedang menutup lukanya dengan saputangan.

__ADS_1


"Ku rasa tidak ada yang jual hansaplast, jadi untuk sementara biarkan seperti ini. Kau bisa melepasnya nanti.." tuturnya.


"Juan~" panggil Margareth.


"Hm?"


Margareth menyipitkan matanya menatapnya dengan tatapan curiga.


"Kenapa kau disini?"


Juan menunjuk dirinya sendiri, lalu mengalihkan pandangannya untuk melihat sekitar. "Aku?" tanyanya.


"Siapa lagi yang ada disini kalau bukan kamu?!" seru Margareth dengan judes.


"Dia.." jawabnya sambil menunjuk kebelakang Margareth.


Margareth menoleh, dan betapa terkejutnya dia setelah melihat sosok dibelakangnya itu.


"Kak Helmi?!" serunya.


"Jangan sok imut lu!" seru Helmi.


Dia berada diantara para pria tampan itu saat ini. Tapi keberadaan mereka malah membuat kepalanya pusing.


Dia memang sempat pamit ke Juan, tapi dia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Dia menatap kedua lelaki itu secara bergantian, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kok malah pergi? aku udah jauh-jauh dateng kesini demi kau, bocah!" seru Helmi di belakang sana.


Margareth tak menghiraukan dan terus melajukan langkahnya ke tendanya. Sekilas dia menoleh dua tenda baru yang berdiri di samping tendanya.


"Halo bocah~"


Sapaan itu membuatnya kembali keluar dari tendanya, dan menengok tenda yang berdiri di samping tendanya.

__ADS_1


Sekali lagi dia dibuat terkejut. Tidak, dua kali lagi. Dua tenda yang baru saja berdiri itu, ternyata..


"Kak Gladis?"


"Kak Julian?"


"Kau kira kami cuma berdua? mana sudi aku berduaan dengan dia.." seru Helmi yang berjalan kearahnya dari belakang sana.


Margareth berjongkok dan mengacak-acak rambutnya gusar. Sebenarnya itu bukan hal yang buruk, karena dia tidak merasa kesepian lagi.


Masih ada 2 hari lagi sebelum dia kembali ke rumah. Dia tidak tahu bagaimana jadinya kalau dia harus menetap disini dengan suasana tak nyaman seperti itu.


'Syukurlah mereka disini..' gumamnya dalam hati.


broomm... broomm...


Dua motor besar itu berhenti di depan tenda Gladis.


"Tol*l.. kenapa motornya lu bawa kesini?!" seru Julian.


"La terus taruh mana bambang?" jawab Dion.


"Sono tuh ada parkirannya sendiri.."


"Pokoknya kalo ada yang negur gue pura-pura gak kenal sama lu!" sahut Gladis.


Margareth tertawa melihat kelakuan mereka.


Tawanya semakin mengecil dan berubah menjadi senyuman kecil. Dia menatap satu-persatu kawannya itu.


Mungkin Tuhan tidak ingin melihat gadis itu sedih. Selalu saja seperti itu. Setiap kali Chandra membuatnya sedih, Tuhan akan mengirim salah satu dari mereka.


Dan saat ini bukan hanya satu atau dua orang, tapi mereka semua datang untuk menemaninya. Seperti sebuah ikatan takdir.

__ADS_1


Karena semua hal yang terjadi bukan hanya kebetulan belaka, semuanya telah diatur.


__ADS_2