Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.59


__ADS_3

Seperti yang diharapkan dari pesta orang kalangan atas. Aula besar itu dihiasi dengan dekorasi yang elegan.


Setelah mobilnya berhenti, seseorang membukakan pintu untuknya. Bukan Mas Cahyo supirnya, tapi Chandra.


Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Margareth turun.


Tidak seperti sebelumnya yang hanya karena keterpaksaan, kali ini Chandra benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati. Bukan karena tuntutan orang tuanya, tapi karena kemauannya sendiri.


Margareth menatap telapak tangan Chandra sejenak, lalu menatap pemiliknya. "Apa Tante yang menyuruh Kakak?" tanya Margareth dengan senyum sinis.


Chandra memalingkan tatapannya, "Tidak bisakah kau langsung menerimanya tanpa banyak bicara?" ucapnya datar.


Melihat Chandra yang menghindari tatapannya, sudah bisa ditebak kalau itu bukan karena paksaan. Margareth tersenyum tipis, kemudian menutup mulutnya dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat untuk menggoda Chandra.


"Ini inisiatif Kakak sendiri? beneran? Kakak gak sakit, kan?" tanyanya heboh.


"Kau mau digendong seperti tuan putri?" tanya Chandra kesal sambil menatap Margareth kembali.


Margareth terkekeh, kemudian menerima uluran tangan Chandra dengan senang hati.


Putri dari pemilik pesta itu, dia merasa minder dengan pakaiannya. Gaun putih mermaid nya itu terlihat terlalu mewah dibandingkan dengan para tamu undangan lainnya. Membuatnya terlihat seperti tokoh utama.


"Kenapa?" tanya Chandra saat menyadari Margareth yang merasa kurang nyaman itu.

__ADS_1


"Bukankah gaun ini terlalu berlebihan?" lirih Margareth.


"Aku tidak terlihat seperti orang yang sedang menghadiri pesta, tapi seperti tokoh utama di acara pernikahan ku sendiri.." lanjutnya dengan tawa kecilnya.


Chandra menghentikan langkahnya, yang otomatis juga membuat Margareth menghentikan langkahnya karena mereka bergandengan.


"Kau gak tau?" tanya Chandra sambil mengerutkan keningnya.


"Tau apa?" tanya Margareth heran.


"Ree..."


Suara panggilan itu membuat keduanya teralihkan. Senyum cerah langsung terlihat di wajah Margareth setelah menoleh pada sumber suara itu.


Di belakang Hana, orang-orang itu yang paling menarik perhatian Margareth. Cara berjalan yang seperti model catwalk, wajah-wajah rupawan. Margareth tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagumnya.


"Sebentar.." gumam Margareth seraya melepas tangannya dari gamitan Chandra.


Perasaan tak senang mulai muncul saat Margareth melepas gamitan nya hanya demi orang-orang yang baru saja datang itu.


Margareth menghampiri gerombolan Gengnya yang baru saja tiba itu, lalu memeluk Hana, Sania, dan Gladis, secara bergantian.


"Aku gak dapet?" ujar Helmi sambil membuka lengannya lebar-lebar.

__ADS_1


Juan mewakili mereka semua untuk memukul Helmi, membuat Margareth terkekeh.


"Heh bocil, ini acara nyokap bokap lu, apa acara nikahan elu?" cetus Sania.


"Aahh.. aku sudah mengeluhkan tentang hal ini beberapa kali. Apa Kakak mau tukeran baju sama aku?" rengek Margareth.


"Cantik," gumam Juan yang bisa didengar.


Sorakan pelan mulai terdengar setelah kata itu keluar dari mulut Juan. Margareth juga tertawa kecil setelah mendengarnya.


"Apaan sih..norak!" seru Chandra yang menghampiri dan menarik tangan Margareth.


Margareth terdiam. Ingin dia melepas tangan Chandra, namun dia tidak ingin menghancurkan kerukunan ini. Dia yakin Chandra pasti marah kalau Margareth angkat bicara untuk teman-temannya.


"Selamat menikmati pestanya.." ujar Margareth pada Juan dan kawan-kawan seraya melepaskan diri dari genggaman Chandra dan pergi meninggalkannya.


Hana mencoba menahan tawanya. Tapi tidak dengan Dion yang selalu bersikap blak-blakan itu.


"Makanya jadi orang tuh jangan songong! ditinggalin kan.." ledek Dion.


Chandra berbalik, menatap tajam Dion, lalu mendekat padanya. Tangannya yang terasa gatal itu mulai diangkatnya. Namun Helmi menahan tangan yang mengincar kerah baju Dion itu.


"Lu bisa gak, gak pake kekerasan? masih gak sadar juga kenapa Rere ninggalin elu?!" ucap Helmi dingin.

__ADS_1


Tatapannya beralih pada Helmi, kawan lamanya itu. Chandra menghempas tangan Helmi dengan kasar. "Jangan ikut campur lu, bacot!" ujar Chandra sekasar hempasan tangannya.


__ADS_2