Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 16 Semoga Tenang Di Sisinya


__ADS_3

Daniel dan Jason segera di larikan ke rumah sakit, Asha juga ikut mendampingi mereka beserta anak buah Daniel dan Jason. Ia merasa sangat shock dengan semua kejadian ini, ia menangis sepanjang perjalanan.


"Sebaiknya anda juga di periksa, sepertinya kaki anda juga terluka," ucap seorang dokter muda.


"Aku tidak apa-apa, tolong selamatkan mereka berdua," tolak Asha.


"Mereka sedang di tangani, saya harap anda juga mau di periksa sambil menunggu mereka,"


"Baiklah," akhirnya ia setuju setelah berpikir beberapa saat.


Dokter itu membawa Asha ke ruangannya, ia segera melihat luka di kaki Asha.


"Tidak ada yang perlu dikuatirkan, ini hanya terkilir. Saya sudah mengobatinya dan memberikan perban elastis, tolong beristirahat dulu sekitar dua hari," ucap dokter itu.


"Terima kasih, Dok," balas Asha.


Saat ia keluar ruangan banyak sekali perawat yang berlarian, tampak juga anak buah Daniel dan Jason mengikuti mereka. Perasaan Asha menjadi tidak enak, ia segera menarik salah satu perawat yang berlarian.


"Ada apa Sus, mengapa orang-orang banyak berlarian?" tanya Asha heran.


"Kedua pria yang tertembak tadi kritis," jawab perawat itu lalu bergegas pergi.


Perasaan Asha menjadi tidak menentu mendengar jawaban suster tadi. Ia hanya bisa berdoa agar mereka berdua selamat. Asha melangkah perlahan menuju ruangan operasi.


"Innalillahi wainnalillahi rojiun," ucap beberapa perawat membuat mata Asha membulat.


Dengan kaki yang masih sakit ia segera berlari menghampiri mereka.


"Siapa yang meninggal, Sus?" tanya Asha kuatir.


"Anda teman kedua pria yang tertembak tadi ya, maaf kedua teman anda tidak tertolong, mereka terlalu banyak kehilangan darah. Kami turut berbela sungkawa," jawab suster itu.


"Mereka dimana, Sus?" tanya Asha tidak dapat membendung tangisnya.


"Sabar ya bu, mereka sudah di bawa ke kamar jenazah,"

__ADS_1


"Terima kasih,"


Asha segera ke kamar jenasah untuk melihat mereka berdua untuk terakhir kalinya. Dia di dampingi petugas untuk melihat jenazah mereka. Di bukanya perlahan kain putih penutup jasad mereka, wajah keduanya tampak pucat. Asha menangisi kepergian keduanya yang sangat cepat, Jason dan Daniel kehilangan nyawa karena api balas dendam di antara mereka.


Asha memang baru mengenalnya, tapi kebersamaan mereka yang singkat justru mampu membuat keduanya menjadi lebih baik. Tidak ada manusia yang sepenuhnya terlahir jahat, pasti ada setitik kebaikan di hati setiap insan. Asha segera menutup kain putih itu kembali setelah puas memandangi wajah kedua pria yang mengaku menyukai bahkan mencintainya. Ia segera kembali ke ruang tunggu dan terus menangis.


"Asha, apa yang terjadi Nak? Di mana putra ku, Jason?" tanya bu Samantha yang baru datang.


Asha segera memeluk wanita itu dan menangis sejadi-jadinya. Bu Samantha mengusap lembut punggung Asha, berusaha menenangkannya. Setelah mulai tenang, ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wanita yang begitu menyayangi putranya itu.


"Maafkan aku Bu, dia telah pergi,"


Asha akhirnya mampu berkata setelah mengumpulkan semua tenaganya.


"Apa maksud mu?"


"Putra ibu sudah tenang di sisinya, ibu harus kuat ya,"


"Apa?"


Brukk...


"Sus, tolong Sus," panggil Clara.


Perawat segera memberi pertolongan kepada bu Samantha. Clara menemani wanita itu di sisinya. Sayup-sayup ia mendengar suara yang tidak asing baginya. Setelah memastikan bu Samantha sedang beristirahat, Asha segera keluar ruangan itu.


"Bella, Bang Jimmy," Asha segera memeluk Bella, air matanya kembali tumpah.


"Apa kamu tidak apa-apa, Asha?" tanya Jimmy.


"Aku baik-baik saja, tapi mereka berdua sudah pergi," jawab Asha dengan berurai air mata.


Mereka berusaha menenangkan Asha dan menghiburnya. Mereka menyuruh Asha duduk karena kakinya terlihat terluka. Bella memeluk Asha, mereka ikut larut dalam suasana yang menyedihkan itu. Dokter mengatakan jika jasad keduanya telah siap di bawa, tinggal menunggu pihak keluarga saja.


"Bu Samantha ada di dalam, dia pingsan ketika tahu Jason telah pergi. Kalau Daniel aku tidak tahu kemana harus menghubungi keluarganya, coba suruh anak buahnya menghubungi keluarganya," ucap Asha.

__ADS_1


Malam itu juga suasana berkabung menyelimuti keluarga besar Daniel dan Jason. Mereka sepakat untuk segera menguburkan jasadnya malam itu juga. Asha ikut menghadiri pemakaman Jason menemani bu Samantha, sehingga tidak bisa hadir di pemakaman Daniel.


Setelah semua acara selesai dan bu Samantha sudah bersama keluarganya, Asha pamit pulang. Kedua keluarga tidak membawa masalah ini ke jalur hukum dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Asha punya andil besar dalam mendamaikan kedua belah pihak. Ia menceritakan semua yang ia tahu kepada keluarga mereka, akhirnya kedua keluarga bisa berlapang hati dengan kejadian ini.


Jimmy dan Bella segera mengantar Asha pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan larut dalam angan masing-masing.


"Terima kasih sudah mengantar ku pulang," ucap Asha.


"Iya, kamu harus segera beristirahat. Sementara tidak perlu bekerja, kita tidak tahu juga sampai kapan pemotretan produk ini akan berjalan lagi, karena bu Samantha pasti juga masih berduka. kamu tunggu kabar saja," balas Jimmy.


Asha hanya mengangguk dan kembali memeluk Bella.


"Sabar ya, aku tahu kejadian ini pasti membuat mu trauma. Tapi kita harus bersyukur Jason meninggal dalam keadaan lebih baik, dan itu berkat diri mu," ucap Bella.


Asha hanya tersenyum menanggapi ucapan Bella. Bu Aida menyuruh mereka mampir namun mereka memutuskan untuk segera pulang agar Asha bisa segera beristirahat.


"Kamu kenapa Sayang, kok kelihatan sedang bersedih? Loh kaki mu kenapa, Asha?" tanya bu Aida.


"Tidak apa-apa Bunda, ini hanya terkilir saat pemotretan tadi," jawab Asha.


"Lalu kenapa kamu bersedih, Nak?"


Asha diam tidak menjawab, ia duduk di depan ibunya.


"Bunda tidak memaksa, jika kamu tidak ingin bercerita," imbuh ibunya lembut.


"Pemilik perusahaan perhiasan yang mengontrak ku dan juga seseorang yang aku kenal hari ini meninggal dunia Bunda, mereka kehilangan nyawa karena balas dendam," cerita Asha.


"Innalillahi wainnalillahi rojiun, semoga mereka tenang di sisinya, amin,"


Bu Aida mendoakan mereka.


"Balas dendam memang tidak akan pernah berakhir baik, itu kenapa bunda memilih melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru. Ikhlas lebih baik, daripada sakit hati tidak berkesudahan,"


Asha mengiyakan ucapan bundanya, ia sudah tidak ada tenaga untuk berbicara. Jiwa dan raganya begitu lelah, ia segera berpamitan untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia segera berbaring di kasur, ia memilih tidur sendiri di kamar sebelah karena tidak ingin membuat adiknya terganggu.

__ADS_1


Kejadian dari sejak Jason menjemputnya bekerja tadi pagi, sampai adegan baku tembak tadi begitu melekat dalam ingatannya, apalagi saat ia melihat kedua jasad mereka membuatnya sangat sedih. Dia memang baru mengenal keduanya, namun mengetahui jika sebenarnya mereka mempunyai sisi baik membuat dirinya merasa kehilangan mereka. Tak terasa air mata kembali membasahi kedua pipinya.


"Semoga Allah memaafkan mereka, semoga mereka tenang di sisinya," Asha mendoakan keduanya sebelum terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2