
"Asha, jangan pernah mau di rayu Vinu. Dia pria yang suka selingkuh, menjaga jaraklah darinya. Istrinya sangat pencemburu, tapi entah mengapa pria itu tidak pernah berubah," ucap Pak Ari serius.
"Ya, saya mengerti. Kru dan pemain lain juga berkata seperti itu, tenang saja saya tidak tertarik kepadanya, Pak,"
Pak Ari menepikan mobilnya, ia beralih menatap Asha dengan serius.
"Aku serius Asha, aku tahu kamu tidak akan tertarik. Namun dia bisa melakukan apapun untuk memikat mu, aku hanya takut itu terjadi,"
Asha spontan menepuk pundak pak Ari. Dengan senyum manisnya ia berusaha menyakinkan pria itu untuk tidak terlalu mengkuatirkannya.
"Tenang saja Pak, ada kru dan pemain lain yang pasti membantu,"
Untuk menutupi perasaannya yang yang tidak karuan pria itu kembali mengemudikan mobilnya. Wanita ini benar-benar membuatnya muda kembali. Setelahnya hanya keheningan yang terasa sampai mereka tiba.
"Terima kasih, Pak. Ayo mampir dulu," ajak Asha.
"Mungkin lain kali Asha, besok aku yang akan menjemput mu," balas Pak Ari.
"Tidak perlu, saya bisa naik motor Pak,"
"Sudah, jangan menolak. Cepatlah masuk di luar udaranya sangat dingin,"
Asha segera melambaikan tangan lalu masuk ke dalam rumah, sedangkan pria itu tetap menatapnya sampai tidak terlihat lagi baru melakukan mobilnya menuju rumahnya.
"Sayang kamu dari mana sih, aku telepon dari tadi tidak di angkat. Kata kru kamu sudah pulang sejak tadi?" tanya istrinya sembari menggelayut manja di lengan kokoh suaminya.
"Tadi aku mengantar pemain, aku tidak ingin Vinu menjebaknya. Kalau saja Vinu bukan aktor yang bagus, aku malas mengikutsertakan dia dalam film ini. Entah berapa gadis yang berhasil dia jebak, pria itu sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya," jawab Ari.
"Tumben kamu perhatian kepada pemain, biasanya tidak pernah mau ambil pusing urusan mereka. Pasti gadis itu cantik ya," ucap istrinya merajuk.
"Jangan cemburu Sayang, aku sudah tua tidak ada yang mau dengan ku lagi. Bagi ku tetap kamu yang paling cantik, Sayang,"
Pria itu mengecup kening istrinya sembari memeluk pinggangnya, mereka memang sangat romantis walaupun usia pernikahan mereka sudah puluhan tahun.
__ADS_1
"Kamu tidurlah dulu, nanti aku akan menyusul. Masih ada yang harus aku kerjakan, Sayang,"
Ia melepaskan pelukan istrinya dan berkutat lagi dengan laptopnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, ia beranjak untuk mengambil minuman. Bayangan Asha memenuhi imajinasinya.
"Oh tidak, mengapa bayangannya selalu hadir. Semakin berusaha ku tepis semakin tak bisa hilang, apa aku mulai menyukainya ya," gumannya.
"Sayang apa kamu masih belum selesai, aku merindukan mu,"
Istrinya tiba-tiba datang dan melingkarkan tangan di lehernya, mulai mencumbuinya. Sepertinya dia menginginkannya malam ini. Tanpa pikir panjang pria yang masih perkasa itu membopong tubuh istrinya ke dalam kamar, sambil terus bercumbu mereka melewati koridor. Ya, mereka hanya berdua di rumah ini. Pembantu mereka sudah tidur sejak tadi, sedangkan anak mereka telah memiliki rumah sendiri. Itu membuat mereka lebih bebas melaksanakan hasrat mereka.
♥︎♥︎♥︎
Keesokan harinya.
"Selamat pagi, Asha nya ada Bu?" tanya pak Ari.
Bu Aida yang sejak tadi fokus melayani pembeli menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria dengan setelan jas yang rapi tersenyum ke arahnya. Walaupun pria itu sudah berumur tapi tidak mengurangi ketampanannya.
Beberapa menit kemudian ia keluar kembali bersama Asha.
"Pak Ari, Bapak sarapan di warung bunda saya?"
Asha dan ibunya menatap pria yang tengah lahap menyantap sarapannya. Sayur lodeh, ayam goreng lengkuas, dadar jagung, rempeyek udang dan sambal itu yang terlihat memenuhi piringnya.
"Maaf ya, aku tadi belum sempat sarapan. Lihat menu yang ibu mu jual membuat ku menelan saliva, masakan ibu mu benar-benar mantap,"
Pak Ari menunjukkan kedua jempolnya untuk memuji masakan bu Aida. Mereka berdua tersenyum melihat betapa nikmatnya pak Ari makan. Melihatnya membuat Asha juga merasa lapar, akhirnya dia menemani pria itu sarapan. Mereka makan sambil sedikit bercanda.
"Bu, masakan anda benar-benar lezat. Besok boleh saya memborong untuk sarapan semua kru dan pemain tidak?" tanyanya.
"Apa? Tapi masakan saya hanya sederhana seperti ini, apa Anda tidak keberatan?"
"Mereka pasti suka, karena rasanya luar biasa. Nanti saya akan infokan kepada Asha berapa totalnya, untuk wadahnya pakai kardus saja seperti nasi kotak biasa ya Bu,"
__ADS_1
Setelah deal, mereka segera berpamitan. Bu Aida benar-benar tidak menyangka mendapat rezeki yang tidak di sangka-sangka. Sepertinya jika banyak pesanan seperti ini dia berniat untuk mendirikan catering, dan harus mengambil beberapa karyawan lagi untuk membantu. Tapi ia harus membicarakan dulu niatnya kepada kedua putrinya.
♥︎♥︎♥︎
Sementara itu di tempat syuting, Pak Ari benar-benar mengawasi Asha, sepertinya ia sangat peduli kepada gadis itu sehingga tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Asha, nanti aku akan mengantar mu pulang. Kamu tidak keberatan bukan?" tanya Vinu.
"Tidak perlu Vinu, aku tak ingin ada salah paham dengan istri mu," tolaknya.
"Tidak akan ada yang tahu, toh hanya mengantar pulang saja. Bukankah kemarin pak Ari juga mengantar mu pulang, jadi tidak ada masalah kan,"
Asha bingung untuk berasalan apalagi, ia melihat sekeliling barangkali ada yang bisa menolongnya. Namun semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Aku mau ke toilet dulu," ucap Asha.
Baru selangkah Vinu sudah menarik tangannya sehingga membuat Asha hampir jatuh, dengan cekatan Vinu menangkap tubuh Asha sehingga saat ini mereka terlihat seperti pasangan. Vinu menahan tubuh Asha, sedangkan tangan Asha melingkar di leher Vinu, wajah mereka hanya berjarak beberapa centi, membuat Vinu dapat merasakan lembut aroma parfum gadis itu.
Pak Ari yang melihat pemandangan itu bergegas berlari ke arah mereka. Dengan kasar ia melepas tangan Vinu dari tubuh Asha, menarik tubuh gadis itu mendekati tubuhnya sembari menatap nanar ke arah Vinu.
"Jangan coba-coba menggodanya, dia dalam pengawasan ku. Bersikaplah baik jika masih ingin tetap bermain dalam film ini," ancam pak Ari.
"Bapak kenapa sih? Saya tadi hanya menangkapnya, kalau tidak Asha pasti terjatuh," kilah Vinu.
"Iya Pak, tadi saya hampir terjatuh jadi Vinu menolong saya," bela Asha.
"Ingat yang aku katakan kemarin pada mu, pria ini sudah beristri jadi jangan pernah bermain api dengannya," ucap Pak Ari serius.
"Pak Ari tolong jangan mencampuri urusan saya, bersikaplah profesional dalam hal ini,"
Vinu berkata dengan tegas, ia merasa tidak suka dengan sikap produsernya yang dianggap terlalu ikut campur dengan hidupnya.
"Apa jangan-jangan Anda menyukai Asha ya, jujur saja agar saya tidak mendekatinya," imbuh Vinu.
__ADS_1