Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 32 Menjadi Pemain Film


__ADS_3

"Kamu memang pria brengs*k," ucap Kia.


Dia lalu mengacuhkan Roki dan sibuk membantu Rena, setelah berupaya memberi pertolongan pertama akhirnya Rena bisa sadar. Semua orang meninggalkan mereka berdua, termasuk Roki.


"Kenapa kamu sampai pingsan? Bukankah kamu sudah tahu jika Roki itu berbohong, Rena?" tanya Kia sembari mengusap rambut panjang gadis itu.


"Tapi aku tidak sanggup menerima kenyataan Kia, ternyata selama ini dia tidak mencintai ku dan hanya memanfaatkan ku agar keluarga ku tetap berinvestasi untuk bisnis keluarganya. Ia memanfaatkan penyakit karangannya itu untuk terus mengikat ku dalam hubungan pertunangan ini," tangis Rena pecah tatkala menceritakan semuanya.


"Hubungan toxic seperti ini tidak akan berhasil Rena, kamu harus mengambil keputusan. Keluarga mu juga harus tahu, agar tidak terjadi salah paham," ucap Kia.


"Mereka setuju atau tidak, aku akan tetap memutuskan pertunangan ini. Aku tidak bisa terus hidup dalam kepura-puraan, aku tidak bahagia, Kia,"


Rena memeluk erat Kia, semua kepalsuan ini bisa terungkap juga berkat andil Kia. Jika Semua gadis yang selama ini Roki dekati tidak pernah ambil pusing dengan perasaannya, berbeda dengan Kia yang justru tidak ingin menyakitinya.


"Terima kasih Kia, semua ini bisa terungkap karena keberanian kamu," ucap Rena.


"Tidak Rena, ini adalah rencana Tuhan yang kebetulan mengambil ku sebagai perantara. Aku hanya tidak ingin menyakiti hati wanita lain, cukup bunda ku yang merasakan perihnya di tikam sahabat sendiri, yang menjadi orang ketiga di pernikahan ayah dan bunda ku," balas Kia.


"Astaga ternyata ujian keluarga mu juga berat ya, sabar ya Kia. Setelah hujan pasti ada pelangi, yang penting jangan berhenti untuk terus berbuat baik ya,"


Setelah saling menyemangati, Rena pamit untuk pulang. Walaupun Kia masih merasa kuatir atas keadaannya namun Rena tetap memaksa pulang, ia harus segera memberitahukan hal ini kepada keluarga besarnya. Banyak hal yang harus ia lakukan, jadi dia harus tetap kuat. Setelah Rena pergi, Kia kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak memperdulikan Roki yang terus menatap ke arahnya penuh tanda tanya.


♥︎♥︎♥︎


Sementara itu, di warung bu Aida tampak sibuk melayani pembeli yang tak kunjung sepi. Asha masih menunggu kesempatan untuk berbicara dengan ibunya tentang tawaran main film itu. Setelah menunggu sekitar 30 menit barulah warung mulai sepi, Asha mendekati bu Aida.


"Bunda, bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Asha.


"Tentu saja, Sayang," jawabnya.


Bu Aida menggandeng Asha ke dalam rumah, ia duduk di sebelah putrinya. Seraya mengelus lembut rambut Asha dia mulai bertanya.

__ADS_1


"Apa ada hal serius yang ingin kamu bicarakan, Nak?" tanyanya.


"Begini Bun, aku mendapat tawaran main film langsung dari produser. Semua orang mengatakan ini adalah kesempatan ku untuk semakin menaikkan pamor ku di jagad hiburan, tapi Bunda kan tahu aku belum pernah berakting sebelumnya, aku takut tidak mampu dan justru akan mengecewakan banyak pihak," jawab Asha.


"Loh, bukannya kamu sudah di kontrak eksklusif selama satu tahun? Berarti tidak boleh mengambil pekerjaan lain bukan, Sayang?"


"Iya benar, tapi bu Samantha sudah mengizinkannya bunda. Dia ingin aku berkembang dan mencoba hal baru, toh katanya ini hanya untuk satu bulan ke depan. Paling lama hanya memakan waktu 1,5 bulan saja,"


"Ehm... Kalau menurut bunda ini memang kesempatan bagus untuk mengembangkan karir mu. Kamu bisa membaca naskahnya dulu, jika menurut mu bagus bisa di lanjutkan tapi jika tidak suka tidak masalah jika di tolak, tapi menolaklah secara baik. Bos mu sudah memberi lampu hijau, ini kesempatan bagus,"


Setelah mendengar pendapat ibunya Asha mulai memantapkan keputusannya. Ia segera bersiap-siap menuju agency, ia akan menjawab tawaran itu melalui Jimmy.


"Apa? Serius kamu mau menerimanya?" tanya Jimmy tidak percaya.


"Iya, Abang katakan saja kepada pak Ari. Aku siap mulai kapan saja," jawab Asha.


Jimmy sangat senang dengan keputusan Asha, walaupun itu membuat agency akan kehilangan model berbakat sepertinya untuk beberapa waktu tapi tidak masalah baginya. Ia merasa senang jika modelnya bisa lebih di kenal di dunia hiburan, karena secara tidak langsung akan membawa nama baik kantor agencynya juga.


"Abang tidak sibuk memangnya? Aku berangkat sendiri saja supaya tidak membuat repot,"


"Ah tidak apa-apa, aku senang jika nama mu semakin di kenal masyarakat luas. Kamu akan menjadi model multi talenta, ayo berangkat,"


Mereka segera berangkat menuju alamat yang telah produser shareloc. Perjalanan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit saja. Sesampai di sana pak Ari menyambut mereka dengan rasa gembira, ia segera mengenalkan mereka kepada yang lain.


"Jim, jika kamu banyak pekerjaan biarkan nanti Asha aku yang mengantarnya," usirnya secara halus.


"Ya baiklah, saya titip Asha ya pak Ari," ucap Jimmy.


Pria itu hanya tersenyum dan mengantar Jimmy keluar. Asha cepat sekali berinteraksi dengan semua kru dan pemain, dalam waktu yang begitu singkat mereka sudah sangat akrab. Ari melihat lawan main Asha Vinu Sebastion selalu memandang wanita itu tak berkedip, sontak saja ia meledeknya.


"Hei Vinu, ingat istri di rumah. Lihat yang bening-bening langsung mau lompat saja itu mata," selorohnya.

__ADS_1


Langsung saja tawa membahana di seluruh ruangan membuat Vinu salah tingkah, spontan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pak Ari, ada-ada saja. Kalau di rumah beristri, kalau di luar aku single Pak," guraunya.


"Huh dasar, Vinu memang playboy kelas teri," sahut yang lain.


Hari ini memang hanya pengenalan karakter masing-masing untuk membangun chemistry antar pemain, penguatan karakter dan segala hal dasar lain. Syuting akan di mulai esok hari. Untuk mengapresiasi terbentuknya tim yang sesuai keinginannya, pak Ari mentraktir semuanya makan siang.


"Bagaimana menurut mu Asha? Apakah ini menyenangkan?" tanya pak Ari.


"Ya, mereka sangat baik sekali. Berada di antara mereka sangat menyenangkan, semoga saya tidak mengecewakan semuanya," jawab Asha.


"Kamu itu sangat berbakat, cepat sekali belajar, aku sangat yakin kamu bisa melakukannya,"


"Ah, pak Ari terlalu memuji. Jangan segan tegur saya jika berbuat salah,"


"Itu pasti, aku selalu profesional dalam bekerja,"


Hubungan mereka terlihat biasa saja pada kenyataannya, namun tidak untuk wartawan pencari berita. Kedekatan mereka bisa berubah menjadi gosip dan salah paham, Asha belum terlalu paham tentang seluk beluk ranah hiburan.


"Aku akan mengantarkan mu pulang, besok pagi-pagi sekali kita akan mulai syuting. Syuting pertama nanti akan di lakukan di outdoor masih di sekitar sini, seminggu lagi semua akan di lakukan di Bali. Kamu harus mempersiapkan semuanya ya," ucap Pak Ari.


"Baik, saya akan berusaha sebaik mungkin. Tolong antarkan saya ke kantor bang Jimmy saja, motor saya ada di sana," balas Asha.


"Kamu harus membeli mobil, berbahaya untuk wanita secantik kamu naik motor," ujarnya.


Pria itu menepuk pundak Asha, dan membukakan pintu mobil gadis itu ketika sudah sampai. Tidak sengaja kepala Asha membentur mobil saat akan keluar, reflek pak Ari memegang kepalanya.


"Hati-hati dong, Asha," ucapnya.


Tanpa mereka sadar, seseorang telah memotret adegan demi adegan sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2