
"Siapa yang memencet bel, honey?" tanya istrinya.
"Oh tidak ada, hanya kurir mengantar paket dokumen dari rekan bisnis," jawabnya berusaha tetap tenang.
"Oh, hari ini apa kamu ke kantor?"
"Ya, nanti ada konferensi pers launching film yang baru,"
Setelah berhasil meyakinkan istrinya, ia segera masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu. Di keluarkan lagi semua isi di dalamnya, ia amati foto itu satu persatu. Ternyata penguntit ini telah mengawasinya sejak pertama ia mengenal Asha, tidak satu pun kebersamaannya dengan gadis itu yang luput dari jepretannya. Bahkan foto saat ia mencium bibir gadis itu terpampang jelas di depan matanya.
Tak ingin istrinya tahu, ia segera membakar semuanya sampai jadi abu. Saat ini dia benar-benar panik, seumur pernikahannya dengan Selena istrinya baru sekarang merasakan di posisi seperti ini. Belum lagi mampu menetralkan suasana hatinya, ponselnya berbunyi tiada henti. Ia merogoh sakunya dengan malas, ada panggilan tak terjawab dan notifikasi pesan wa. Dibukanya chat dari nomor tidak di kenal itu.
[Itu hanya sebagian saja, masih banyak yang ada di kamera ku. Bahkan aku telah membuat salinannya, kamu memang pria yang munafik.]
[Bagaimana jika sampai istri kesayangan mu tahu apa yang telah kamu lakukan di belakangnya, hahaha. Nasib pernikahan mu ada di tangan ku.]
Pak Ari benar-benar frustasi, siapa yang berani mempermainkan dirinya sampai seperti ini. Ia segera menghubungi nomor itu, namun beberapa kali mencoba sama sekali tidak ada respon.
"Brengsek," umpatnya.
Ia mencoba sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban, ia pun memutuskan membalas chat orang tersebut.
[Siapa kamu dan apa mau mu?]
[Kamu pengecut yang beraninya hanya menggertak, temui aku jika memang berani.]
Dua pesan segera ia kirim. Hanya sebentar saja orang itu pun membalas.
__ADS_1
[Yakin kamu ingin tahu siapa aku? Aku tahu semua kebusukan mu. Apa perlu aku kirim ke ponsel Selena supaya kamu sadar jika aku serius. Aku ingin uang yang banyak, berapa kamu bisa membayar untuk semua ini?]
"Kurang ajar, berani sekali dia memeras ku. Siapa orang ini sebenarnya, aku harus segera mencari tahu. Tapi bagaimana caranya, dia bisa siapa saja. Apa jangan-jangan ini ulah Vinu sialan itu ya," ucapnya.
Dia pun segera membalasnya.
[Aku tidak punya hubungan apapun dengan wanita itu, jangan coba menfitnah ku. Selena tidak akan percaya begitu saja dengan foto itu, semua orang bisa merekayasanya.]
Secepat kilat orang misterius itu pun membalas.
[Kamu pikir cukup pintar membodohi semua, bahkan satu studio tahu jika kamu memiliki perasaan kepada gadis itu. Aku ingin uang 10 milyar, waktu mu hanya sampai besok. Jika tidak, wanita yang berada di ruang makan itu akan menerima paket yang sama besok.]
"Kurang ajar, ia bahkan tahu di mana istri ku berada. Berani sekali orang itu mengawasi rumah ku," ucapnya.
Pak Ari segera mengedarkan pandangan ke sekeliling, di dalam ruangan bahkan ke sekitar rumahnya, namun tidak ada hal yang mencurigakan sedikitpun. Ia jelajahi semua ruangan di rumahnya tanpa membuat kecurigaan penghuni rumah lainnya. Sudah berjam-jam namun tidak ada hasil, tampaknya orang itu benar-benar pintar.
Setelah mematikan panggilan ia segera bergegas ke rumah Asha, ia ingin tahu apakah Asha mendapat ancaman yang sama atau tidak. Uang 10 milyar adalah nominal yang cukup besar, ia tidak ingin memberikan secara cuma-cuma kepada orang yang tidak ia kenal.
Setelah perjalanan cukup lama karena macet, ia tiba di rumah Asha. Ternyata gadis itu sudah menunggunya. Hatinya kembali bergetar manakala melihat gadis pujaannya tampil begitu menawan, ia masih mengingat betapa lembut dan manisnya bibir ranumnya.
"Selamat pagi menjelang siang," sapanya ramah.
Duh senyumnya membuat pak Ari makin mabuk kepayang, namun ia segera kembali kedalam kesadarannya.
"Ayo kita berangkat, Asha," ajaknya.
Setelah berpamitan keduanya segera masuk ke dalam mobil, hari ini jalanan lumayan padat. Membuat perjalanan mereka akan semakin panjang. Melihat ekspresi wanita di sampingnya yang begitu tenang sepertinya tidak ada yang mengancamnya.
__ADS_1
"Pak, apa nanti Vinu juga akan hadir?" tanya Asha.
"Tenang saja, dia tidak akan berani muncul," jawab pak Ari.
"Maaf ya Pak, harusnya saja profesional dalam bekerja. Tapi cerita Bapak kemarin membuat saya tidak ingin bertatap muka dengannya. Saya takut tidak bisa menahan emosi, sehingga semua orang tahu apa yang terjadi,"
"Tidak apa-apa, aku sangat mengerti perasan mu. Wanita mana yang tidak akan marah jika bertemu dengan orang yang ingin melecehkannya,"
Asha tidak tahu saja jika pria ini sudah berbuat tidak senonoh terhadapnya, walaupun sebatas mencium bibirnya namun itu sudah menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat. Justru orang yang paling berbahaya adalah orang yang berbuat jahat namun bisa berpura-pura baik.
Sesampainya di tujuan telah banyak wartawan yang datang, para pemain yang lain juga sudah berkumpul. Mereka segera berbaur dengan yang lain. Banyak pertanyaan dari wartawan berkenaan dengan film itu, alhamdulillah mereka bisa menjawab dengan baik.
Namun beberapa wartawan juga mengulik cerita para pemain film tersebut di dunia nyata, ada juga yang bertanya tentang ketidak hadiran Vinu dalam konferensi pers tersebut. Namun sejauh ini semua berjalan lancar. Namun tiba-tiba saja ruangan menjadi hening tatkala ada yang bertanya tentang hubungan Asha dan sang produser.
"Maaf apa benar tentang rumor yang beredar bahwa pemeran utama film ini terlihat cukup dekat dengan pak Ari sebagai produser?"
Semua merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini, namun mereka harus menjawab karena sekian pasang mata sekarang mengarah kepada mereka berdua. Namun pak Ari memang pandai bersilat lidah, dengan mudah ia menjawab semuanya.
"Asha adalah pemain baru yang sangat berbakat, ia sangat totalitas dalam berkarya. Saya harus menjaganya dengan hati-hati karena saya yang telah mengajaknya ke dunia perfilman ini. Saya ingin dia terus berkarya, saya tidak mau seseorang merusak moodnya untuk terus berakting. Terserah bagaimana orang menilainya, yang jelas saya tulus,"
Sesi tanya jawab telah selesai, mereka di minta berfoto dengan beberapa pose. Namun Asha merasa tidak nyaman karena ponselnya terus berdering. Ia segera mengambil ponsel di tasnya dan mengganti menjadi mode silent. Setelah semua selesai barulah dia bisa bernapas lega. Ia senang ternyata Vinu benar-benar tidak datang ke acara ini.
"Asha, terima kasih banyak atas partisipasinya. Aku berharap kamu bisa bermain lagi untuk film selanjutnya," ucap Pak Ari.
"Saya sungkan dengan bu Samantha, sepertinya cukup dulu saya main film," balasnya.
Sambil mengobrol ia sembari membuka ponsel yang tadi sempat terabaikan. Ada banyak sekali pesan wa dari nomor tidak di kenal. Asha shock setelah membukanya.
__ADS_1