
Rendy segera menghubungi ambulan, pak Fredy mulutnya berbusa di dalam kamar mandi. Tergeletak butiran obat di sampingnya yang sedang tidak sadarkan diri. Rendy menangis, ia tidak tahu mengapa ayahnya bisa senekad ini.
"Pa, bangun. Jangan tinggalkan aku, Pa,"
Rendy berusaha membangunkan ayahnya, ia setia mendampingi ayahnya di dalam ambulan. Hatinya di liputi rasa kekuatiran yang mendalam.
Ayahnya segera di bawa ke UGD, dia dengan cemas menunggu ayahnya selesai di beri tindakan.
"Pak Rendy, kami sudah berhasil menguras isi perut ayah anda. Beruntung anda segera membawanya ke sini, jika tidak pasti akan berakibat fatal," ucap dokter itu.
"Syukurlah, terima kasih ya Dok. Apa boleh saya temui beliau?"
"Boleh. Karena kondisinya masih lemah pak Fredy harus rawat inap, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan. Tolong segera di urus masalah administrasinya,"
"'Baik, akan saya urus segera. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya,"
Rendi segera mengurus administrasinya. Ia minta ruangan vvip agar ayahnya cepat pulih. Ia harus tahu mengapa ayahnya sampai berbuat nekad seperti itu.
Beberapa saat kemudian. Derap langkah setengah berlari memenuhi koridor rumah sakit, Rendy bergegas menemui ayahnya. Dengan perlahan di bukanya pintu ruangan ayahnya. Pria itu masih tertidur, wajahnya pucat pasi. Hati Rendi berdesir, rasa iba menyelusup di dadanya. Dengan setia ia menemani di sisinya sampai ayahnya sadar.
"Pa, apa masih sakit?" tanya Rendy melihat tubuh ayahnya bereaksi.
"Rendy..."
"Iya Pa, aku di sini,"
"Kenapa aku masih hidup?"
"Mengapa Papa berkata seperti itu? Mengapa Papa begitu ingin meninggalkan dunia ini?" tanya Rendy dengan perasaan sedih.
"Aku kira hanya sebatas menyukainya saja, tapi ternyata penolakannya meninggalkan rasa sakit yang begitu teramat,"
Pria itu menitikkan cairan bening dari sudut matanya. Ternyata Kia adalah alasannya untuk mengakhiri hidup. Rendy tidak menyangka akan sedalam itu rasa cinta ayahnya untuk mantan kekasihnya itu.
'Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkan papa hidup dalam kepedihan. Bagaimana jika dia mencoba bunuh diri lagi? Tapi mana mungkin Kia juga akan menerimanya?' batin Rendy.
"Apa Papa akan bahagia jika bisa hidup bersama wanita itu?" tanya Rendy.
"Tentu saja, ia adalah semangat hidup ku saat ini," jawab ayahnya.
__ADS_1
Rendy menghela napas dengan sedikit kasar, kemudian tersenyum ke arah ayahnya. Ia menatap lekat ke dalam netra ayahnya.
"Baiklah, akan ku usahakan yang terbaik," putus Rendy.
"Maksud mu bagaimana?" tanya ayahnya.
"Aku akan membujuknya supaya mau menikah dengan Papa,"
"Tidak, aku tidak ingin menikahinya dengan terpaksa. Sudahlah, aku akan baik-baik saja,"
Ayahnya mengalihkan pandangannya ke tempat lain, Rendy tahu ia sedang menutupi kepedihan di hatinya. Ia sudah tahu rasanya patah hati, ia bisa mengerti apa yang tengah ayahnya rasakan.
Beberapa saat kemudian, ayahnya mulai tertidur setelah makan dan meminum obatnya. Hari sudah siang, Rendy ingin menemui Kia di kantornya. Saat yang tepat karena saat ini dia akan segera istirahat. Dengan langkah seribu ia bergegas ke kantor tempat gadis itu bekerja.
"Mbak apa melihat Kia?" tanya Rendy pada Sisil.
"Oh Kia, dia sedang makan siang di luar. Tadi ada yang mengajaknya makan di warung makan depan sana,"
Sisil menunjuk warung makan yang ada di seberang tempat kerjanya. Rendy segera berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
"Bukankah mereka sudah putus, untuk apa pria itu masih mencari Kia?"
"Halo Kia, Rendi baru saja ke sini mencari mu. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai di tempat mu," ucap Sisil.
"Kok tumben dia datang, padahal sudah berhari-hari tidak ada kabar. Ya sudah, terima kasih ya,"
Panggilan pun selesai. Kia melihat ke sekitar, benar saja ia melihat Rendy baru saja menyeberang jalan.
'Apa dia mau mengajak balikan karena tidak sanggup hidup tanpa aku ya?' batin Kia.
Bibir gadis itu tersenyum simpul, hatinya berbunga-bunga. Ia sedang membayangkan suasana romantis saat Rendy memintanya kembali padanya.
'Ah tidak... kenapa aku jadi begini' batin Kia, ia merasa geli dengan tingkahnya sendiri. Untung pria yang di depannya tidak menyadari tingkahnya.
"Kia, aku ingin berbicara dengan mu," ucap Rendy.
"Ya sudah, aku pergi dulu Kia. Terima kasih sudah menerima undangan makan siang ku," ucap pria itu.
"Saya yang harusnya berkata seperti itu. Terima kasih atas makan siangnya, pak Romi," balas Kia.
__ADS_1
Sekarang tinggal mereka berdua, Rendy duduk di hadapan Kia. Ia menatap gadis itu dengan penuh arti. Jantung Kia terasa berdegup lebih kencang.
"Bicara saja, Ren," ucap Kia.
"Papa mencoba bunuh diri, saat ini dia berada di rumah sakit," jelas Rendy.
"Apa? Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Kia.
"Sekarang sih sudah melewati masa kritis dan sudah berada di ruangan," jawab Rendy.
"Aku turut merasa prihatin ya, semoga beliau segera sembuh,"
"Apa kamu tidak ingin tahu kenapa papa ku sampai ingin bunuh diri?"
"Tidak perlu, itu kan privasi. Aku tidak ingin mencampuri urusan orang lain,"
"Tapi dia nekad mengakhiri hidup karena diri mu, karena penolakan mu. Dia sangat mencintai diri mu,"
Kia terkesiap untuk beberapa saat ia terpaku, ia benar-benar tak menyangka penolakan dirinya bisa berakibat sefatal ini. Ia pikir pak Fredy adalah orang yang dewasa, apalagi usianya sudah tua harusnya bisa berpikir lebih bijaksana.
"Maaf Ren, aku tidak tahu jika akan jadi begini. Tapi kamu tahu kan, aku tidak mungkin mau menikah dengan ayah mu. Selain karena usia, aku sama sekali tidak mempunyai perasaan padanya,"
"Aku tahu, tapi apa kamu mau papa ku bunuh diri lagi?" tanya Rendy sungguh-sungguh.
"Apa maksud mu? Apa kamu meminta ku menerimanya?"
Rendy tertunduk, ia bingung harus berbuat apa. Nyawa ayahnya sangat berharga, namun ia juga tidak mungkin egois dengan memaksa Kia menerima ayahnya. Benar-benar pilihan yang sulit.
"Jawab Rendy, apa kamu ingin meminta ku menerima perasaan ayah mu?"
Ada rasa perih yang mengalir ke sekujur tubuh gadis itu. Ia pikir pria ini mencarinya untuk memutuskan kembali menjalin tali kasih yang sempat terputus, ternyata...
"Aku bingung Kia, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya tidak ingin papa ku meninggal begitu cepat, apalagi dengan cara yang begitu menyakitkan,"
Kedua mata pria itu mulai berkaca-kaca, hatinya juga sakit seperti yang Kia rasakan.
"Aku pikir kamu datang menemui ku untuk mengikat kembali tali cinta kita yang sempat terputus. Aku pikir kamu benar-benar tulus mencintai ku, ternyata kamu justru tidak pernah memikirkan perasaan ku. Kamu sangat egois, Ren,"
Kia bangkit dari duduknya, ia benar-benar tersulut emosi. Ia berlalu meninggalkan pria itu begitu saja.
__ADS_1