Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 44 Cinta Tak Harus Memiliki


__ADS_3

"Aduh, perut ku kenyang sekali. Kita bicara lain kali saja ya Kia, aku permisi dulu,"


Pak Fredy segera bangkit dari duduknya, setelah berpamitan dengan bu Aida pria itu bergegas masuk ke dalam mobil.


"Bejo, cepat pulang. Perut ku kenyang sekali," perintah Pak Fredy.


"Baik, Bos,"


Bejo segera melajukan mobil menuju arah pulang.


♥︎♥︎♥︎


Sepulang pak Fredy, Kia langsung menghubungi Rendi.


"Apa? Jadi papa sudah pulang? Dia sudah ngomong belum?" Rendi bertanya berturut-turut.


"Tadi sih sempat mau bicara, tapi tidak jadi karena kekenyangan," Kia menjawab sembari menahan tawa.


Kia menceritakan tentang idenya tadi yang berhasil membuat ayah Rendi pulang tanpa mengatakan maksudnya. Mereka tertawa, sejenak terlupa akan kisah cinta mereka yang semakin rumit.


"Sebelum papa mengatakan maksudnya, lebih baik aku mengenalkan kamu kepada papa. Kita harus menghadapi ini semua," ucap Rendi.


"Tapi bagaimana jika papa mu tidak merestui hubungan kita?" tanya Kia.


"Kita pikirkan itu nanti, yang penting sekarang kita harus berani jujur. Aku yakin walau berat, cepat atau lambat papa pasti merestui kita," jawab Rendi.


"Nanti malam aku akan menjemput mu, kamu siap-siap ya. Aku akan mengajak mu makan malam bersama papa," imbuh Rendi.


"Tapi bagaimana, aku tidak enak dengan papa mu," ucap Kia.


Rendi berusaha meyakinkan Kia untuk mau menemui ayahnya, toh ayahnya belum sempat menyatakan perasaannya. Jadi tidak ada alasan Kia merasa tidak nyaman.


♥︎♥︎♥︎


Malam harinya.

__ADS_1


"Kia, kamu yakin akan menemui pak Fredy sebagai kekasih Rendi?" tanya Asha.


"Mau bagaimana lagi Kak, Rendi inginnya begitu. Akan lebih mudah untuk hubungan kami jika pak Fredy tahu segalanya sebelum beliau melamar ku," jawab Kia.


"Cinta itu aneh ya, datangnya tidak liat-liat umur," ucap Asha.


"Aku juga heran mengapa pak Fredy itu bisa menyukai ku, padahal kata Rendi papanya tidak pernah membuka hatinya untuk wanita manapun setelah mamanya meninggal," balas Kia.


Mereka terus saja bercerita, sembari Kia bersiap-siap. Hari ini gadis itu begitu cantik dengan dress lengan pendek di bawah lutut berwarna putih, mencetak jelas lekuk tubuhnya yang bak gitar spanyol.


"Wah kamu cantik sekali pakai baju itu, mau pergi dengan Rendi ya?" tanya bu Aida.


"Iya Bunda, Rendi mau mengajak makan malam sekalian ketemu orang tuanya," jawab Kia.


"Apa hubungan kalian sudah seserius itu?"


Kia hanya tersipu malu, ia tidak menjawab namun terlihat jelas gadis itu juga sangat berharap terhadap Rendi.


Tok... tok... tok...


"Kia, sepertinya kita tidak jadi menemui papa ku," ucap Rendi saat di dalam perjalanan.


"Tidak masalah jika kamu belum siap, aku hanya perlu menghindari berbicara dengannya sampai kamu siap," balas Kia.


Setelah itu hening, tidak ada yang bicara sampai mereka tiba di sebuah restoran. Mereka memang pergi makan malam, yang batal hanya rencana menemui pak Fredy.


Mereka melangkah bersama, namun ada yang berubah dari Rendi. Wajahnya tidak seceria biasanya, ia lebih banyak diam seperti memikirkan sesuatu. Kia yang merasa sangat bahagia tidak menyadari perubahan itu.


"Makan yang banyak ya Kia, ingat walaupun tidak bersama ku kamu harus tetap semangat," ucap Rendi.


"Kamu ada-ada saja, ngomongnya seolah-olah mau pergi meninggalkan aku," balas Kia.


"Ya kita kan tidak tahu yang namanya takdir, barangkali saja suatu saat aku tidak ada bersama mu, kamu harus terus melanjutkan hidup,"


Rendi berkata tanpa senyum, sorot matanya di penuhi kesedihan. Kia baru menyadari perubahan pria itu yang sedikit tidak wajar.

__ADS_1


"Rendi, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja,"


Kia menatap lekat ke dalam mata pria itu, berusaha meyakinkan bahwa ia tidak akan meninggalkan dirinya apapun yang terjadi.


"Maafkan aku Kia, mungkin ini akan menjadi pertemuan dan makan malam terakhir kita berdua,"


Dengan berat hati Rendi berhasil mengatakan apa yang ingin ia sampaikan. Kia menatapnya dengan tajam.


"Apa maksud mu, Ren? Aku kira kita hanya akan menunda bertemu papa mu, kamu tidak berkata jika kamu memang tidak menginginkan kami bertemu. Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"


Kia sangat kesal mendengar kata-kata Rendi, baru saja mereka bersatu pria itu sudah bicara tentang perpisahan. Kia merasa Rendi telah mempermainkan perasaannya. Padahal ia begitu serius dengan yang ia rasakan.


"Aku tidak ingin kehilangan orang tua ku yang tinggal satu-satunya, maafkan aku jika aku egois. Sepanjang hari papa bercerita tentang diri mu, ia sangat mencintai mu. Aku baru tahu jika selama setahun ini papa mengalami sakit jantung, hubungan kita pasti akan membuat shock dan membahayakan nyawanya," jelas Rendi.


Kia terhenyak, lidahnya tiba-tiba kelu tak mampu berbicara. Ia dapat mengerti apa yang Rendi alami, tapi tetap saja rasanya ia tidak rela. Mengapa semua harus berakhir di saat semua baru saja di mulai?


"Apa tidak ada jalan lain lagi?" tanya Kia lirih.


Rendi menggeleng pelan, pria itu tertunduk. Terlihat jelas kesedihan menyelimuti hatinya. Sekalipun ia berusaha kuat namun masih juga kentara. Baru saja ia menemukan cinta namun sekarang harus rela melepasnya.


"Papa mungkin tidak akan terlalu sakit jika kamu menolaknya. Tapi jika dia tahu alasan kamu tidak menerimanya adalah karena diri ku, aku yakin hatinya akan sakit," jawab Rendi.


"Jadi kita tidak bisa bertemu lagi? Tidak bisa bersama lagi seperti ini?"


Kali ini Kia tidak dapat menahan air matanya yang luruh begitu saja membasahi pipinya. Rendi adalah cinta pertamanya. Baru beberapa hari merasakan indahnya yang namanya kasmaran, sekarang mereka terpaksa berpisah karena takdir.


"Kia, aku mohon jangan menangis,"


Rendi menyeka air mata gadis yang di cintainya itu. Mereka berpelukan sangat lama sekali, seolah tidak rela harus berpisah.


"Aku pasti berjuang jika saja ini tidak menyangkut nyawa papa ku. Aku mohon kamu bisa mengerti ya, Kia,"


Gadis itu mengangguk, ia menyeka air matanya dan mencoba tersenyum. Ia tidak ingin menjadi beban pikiran untuk Rendi.


"Tenang saja, obat terbaik dari patah hati adalah waktu. Aku hanya butuh waktu untuk bisa membalut luka ku. Aku tahu kamu mencintai ku, tapi berbakti kepada orang tua adalah hakikat cinta yang sebenarnya,"

__ADS_1


Rendi terharu mendengar ucapan Kia, ternyata gadis yang ia kenal manja dan sedikit urakan mampu berpikir bijaksana walau hatinya sedang rapuh. Seandainya waktu bisa di putar kembali ia akan memilih untuk tidak mengenalnya, karena kesakitan terbesarnya adalah melihat gadis yang ia cintai terluka justru karena dirinya.


__ADS_2