Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 19 Mengunjungi Makam


__ADS_3

Reno juga keluar dari ruangan, dengan hati hancur ia menatap Kia dari kejauhan yang sedang melayani nasabah. Gadis itu hanya membalasnya sekilas kemudian sibuk lagi dengan nasabahnya. Reno segera berjalan ke ruangannya untuk mengemasi barang-barangnya, ia terlanjur malu karena kejadian tadi. Ia akan segera menyusul istrinya, ia berharap istrinya masih mau memaafkan perbuatannya itu, agar putri mereka bisa merasakan kasih sayang utuh sebuah keluarga.


Setelah berpamitan dengan pimpinan dia segera pergi tanpa menoleh lagi. Banyak staf yang mencibirnya karena kelakuannya ini.


"Kia," panggil Sisil.


"Ada apa, Sil?"


"Aku turut prihatin atas kejadian tadi ya, aku sudah memperingatkan diri mu, kalau pak Reno itu buaya darat. Kamu yang sabar, semua tahu kok kamu wanita baik-baik dan bukan pelakor," jawab Sisil.


Kia tersenyum untuk menunjukkan jika dia baik-baik saja. Ia merangkul sahabatnya itu. Memang selama ini dia begitu peduli dengannya, namun karena memang tujuan Kia adalah membuat Reno jera ia pura-pura tak mengindahkan ucapan Sisil.


"Aku baik-baik saja, terima kasih ya sudah begitu peduli dengan ku. Aku tahu kok kalian itu orang yang baik, ini sebagai pembelajaran buat aku,"


"Alhamdulillah kalau begitu. Aku antar kamu pulang ya, Pak Reno kan sudah tidak bisa mengantar jemput kamu lagi," ucap Sisil sambil nyengir.


"Wah terima kasih sekali ya, kamu memang pengertian sekali. Bolehlah nanti aku kasih makan gratis di warung bunda ku," seloroh Kia.


"Boleh juga tuh, refill sepuasnya pastinya dong ya," Sisil menanggapi tak kalah jenaka.


Begitulah mereka jika sudah bersama, kocak membuat orang yang mendengar sakit perut. Sisil memang menjauh saat Kia tengah dekat dengan Reno, karena dia merasa sungkan dengan Reno yang notabene adalah atasannya. Namun setelah kejadian tadi dia sadar, bahwa harusnya dia tetap bersama Kia agar tidak kena rayuan si Reno.


Mereka akhirnya berboncengan naik motor, terlihat tawa ceria mereka di sepanjang jalan. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di depan rumah Kia.


"Ayo turun, katanya mau makan sepuasnya. Masakan bunda itu rasanya lezat sekali, di jamin kamu pasti ketagihan," ajak Kia.


"Tidak, aku kan hanya bercanda Kia. Aku tulus kok mengantar mu pulang," tolak Sisil.

__ADS_1


"Iya aku juga tahu kalau kamu tulus, tapi kasihan itu perut sudah nyanyi dari tadi. Ayo jangan sungkan-sungkan, kejadian hari ini membuat aku juga lapar,"


Kia segera menarik tangan Sisil untuk masuk ke warung ibunya. Mereka segera menyalami bu Aida yang sedang melayani pembeli.


"Eh anak bunda sudah pulang, sama temannya ya Nak? Siapa namanya?" tanya bu Aida ramah.


"Saya Sisil Tante, senang bertemu dengan Tante,"


"Oh yang sering Kia ceritakan itu ya, yang selalu membantunya saat tidak mengerti dengan pekerjaannya. Terima kasih ya sudah sering menolong Kia, ayo makan dulu sebelum pulang,"


Bu Aida mempersilahkan Sisil untuk makan. Awalnya dia sedikit canggung, namun karena sikap bu Aida yang ramah dan cepat akrab seperti Kia membuatnya tidak sungkan lagi. Setelah makan Sisil menumpang untuk ke toilet, tidak sengaja ia berpapasan dengan Asha yang tersenyum ramah kepadanya.


"Kia, itu wanita yang ada di dalam rumah siapa?" tanya Sisil penasaran.


"Oh pasti tadi kamu ketemu kak Asha, dia kakakku. Kakinya sedang terkilir jadi libur kerja," jawab Kia.


"Wah kalian sekeluarga cantik semua ya. Kamu, bunda mu, kakak mu, kalian semua membuat orang yang memandang tidak akan pernah bosan," puji Sisil.


Karena hari semakin sore, Sisil berpamitan untuk pulang.


♥︎♥︎♥︎


Dua hari kemudian.


Pagi-pagi Asha sudah bersiap-siap untuk pergi, namun tidak seperti biasanya yang selalu stylist hari ini hanya menggunakan pakaian sederhana. Namun pun begitu tidak mengurangi aura kecantikannya.


"Kakak mau kemana? Apa sudah mulai pemotretan lagi ya?" tanya Kia.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin pergi saja," jawab Asha.


Kia dapat melihat tatapan kakaknya yang masih di penuhi kesedihan, hatinya memang begitu lembut. Kia yakin kakaknya masih merasa bersalah atas kematian kedua orang pria yang menyukainya itu.


"Kakak harus bangkit agar pengorbanan mereka tidak sia-sia. Aku yakin Daniel ataupun Jason tidak suka jika kakak selalu bersedih seperti ini," ucap Kia.


Asha menerawang jauh, mungkin kata-kata Kia benar. Mereka tidak akan senang jika melihat Asha begini.


"Maaf ya Kia, aku akan berusaha. Terima kasih sudah selalu mengerti perasaan ku," Asha memeluk Kia penuh rasa sayang.


"Sama-sama Kak, sebenarnya kakak mau kemana? Kalau kakinya masih sakit sebaiknya pesan taksi online saja,"


"Aku ingin ke makam Daniel, aku belum mengunjunginya sama sekali,"


Keduanya menghela napas panjang. Setelah selesai bersiap Asha dan Kia berpamitan kepada ibunya. Mereka berpisah di pertigaan jalan, Kia langsung menuju kantor dan Asha mengunjungi makam Daniel.


Hari masih pagi, pemakaman umum itu begitu lengang membuat Asha sedikit merinding. Suasana yang sedikit mendung menambah kesan mistis di area itu. Asha berhenti di sebuah makam baru tertulis nama Daniel Ananta, Asha meletakkan bunga dan berdoa untuknya.


Asha kembali mengingat saat mereka tidak sengaja bertabrakan di mall, itu merupakan awal pertemuan mereka. Ia juga teringat detik-detik mereka akan menikah dan Daniel menggendongnya saat kakinya terkilir.


Asha tak kuasa menahan air matanya agar tidak tumpah, ia menangis tertahan. Selama ini ia memang tidak pernah dengan dengan seorang pria karena ayahnya yang posesif. Baru saja berteman dengan pria ia justru membuatnya meninggal. Iya, Asha masih merasa dia adalah penyebab kematian mereka berdua secara tidak langsung.


Ia masih ingat akan janjinya mau membuka hati untuk Daniel jika ia selamat, namun ternyata takdir berkata lain. Setelah hampir 1,5 jam berada di sana, ia memutuskan untuk pergi. Ia mengusap nisan Daniel sebagai tanda perpisahan.


Dalam perjalanan ia memutuskan untuk sekalian mampir ke makam Jason yang berada tidak jauh dari sana, sebelum belok ke arah makam ia berhenti membeli bunga untuk nyekar. Sepuluh menit kemudian ia telah sampai.


Seperti halnya makam Daniel, makam Jason masih penuh dengan bunga segar. Itu pertanda jika banyak yang mengunjungi mereka setiap harinya. Asha segera berdoa untuk almarhum. Ia mulai mengingat kenangan saat bersama almarhum, perlakuannya yang kadang menyebalkan namun terkadang berubah sangat perhatian. Asha tersenyum mengingat semuanya, air matanya menetes mengingat segala pengorbanannya. Dadanya terasa sesak bila mengingat hari naas itu.

__ADS_1


"Calon menantu ku, ternyata kamu ada di sini,"


Asha segera menoleh ke arah suara itu berasal.


__ADS_2