Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 17 Reno Ketahuan


__ADS_3

Keesokan hari.


"Kakak, kata Bunda kakinya terkilir ya? Kenapa Kakak tidur di sini?" tanya Kia pagi-pagi sekali.


"Kia, kamu mengagetkan ku saja. Ini hanya terkilir, aku tidak ingin mengganggu mu semalam jadi tidur di sini," jawab Asha.


"Apa Kakak akan bekerja dengan kaki terkilir begitu?"


"Tidak, hari ini libur tidak ada pemotretan. Bos yang mengontrak ku sedang berkabung, jadi diliburkan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,"


"Oh, ya sudah aku mandi dulu ya Kak,"


"Kia, tunggu aku ingin bicara,"


"Ada apa, Kak?"


"Sebaiknya ide gila untuk menghancurkan hati pria jangan kamu teruskan, lebih baik kita jalani hidup kita dengan bahagia dan apa adanya,"


"Memangnya kenapa Kak?"


Kia heran kenapa tiba-tiba kakaknya tidak mau melanjutkan ide itu.


"Aku tidak ingin melihat mu bersedih, aku juga tidak mau melihat orang terluka. Aku takut ide itu akan akan merusak hidup seseorang bahkan menghilangkan nyawa mereka,"


Asha tertunduk sedih, ia masih mengingat peristiwa kemarin. Dia merasa bersalah karena secara tidak langsung kejadian itu terjadi karena dirinya.


"Sebenarnya maksud ku agar kaum pria tidak semena-mena terhadap wanita, mereka akan berhenti menyakiti jika mereka tahu rasanya sakit itu sendiri," ucap Kia.


"Iya aku tahu, tapi aku hanya takut apa yang terjadi pada ku akan menimpa mu,"

__ADS_1


Asha mulai terisak, membuat Kia mengurungkan niatnya untuk mandi. Dia kembali duduk di dekat kakaknya dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Kakak ceritakan apa yang sudah terjadi kepada ku, walaupun mungkin Kia tidak bisa membantu tapi setidaknya beban di hati Kakak bisa berkurang,"


Asha menghentikan tangisannya, ia menatap lekat adik kesayangannya. Mungkin memang sebaiknya ia bercerita semua yang menimpanya supaya beban di hatinya sedikit berkurang.


Asha mulai menceritakan semuanya, mulai dari Jason yang memberi tawaran menjadi kekasihnya, kemudian kejadian di bar, tentang bu Samantha, pertemuan dengan Daniel dan sikap Jason yang berubah menjadi lebih baik. Asha juga menceritakan kejadian penculikan yang menimpanya sampai kedua pria yang menyukainya kehilangan nyawa mereka.


Kia menyimak dengan baik ketika kakaknya bercerita, tidak terasa dia juga ikut menangis karena terharu. Dia sangat menyayangkan kedua pria itu harus meninggal dunia. Ia kembali memeluk kakaknya untuk memberi kekuatan.


"Sabar ya Kak, ini semua adalah takdir. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, karena itu murni salah mereka. Justru Kakak adalah korban, kebetulan Kakak hadir di waktu yang tidak tepat," hibur Kia.


"Terima kasih ya Kia, aku sudah lega bisa bercerita kepada mu. Tolong jangan katakan apa-apa kepada Bunda, aku tidak ingin membuatnya sedih," pintanya.


"Iya Kak, aku janji tidak akan bercerita apapun. Aku mandi dulu ya, Kakak istirahat saja lagi,"


Kia segera beranjak ke kamar mandi, dia menjadi kepikiran dengan kata-kata kakaknya tadi. Dia berpikir mungkin sebaiknya ia menjauh dari Reno. Walaupun tante Geya sangat bersalah kepada keluarganya namun istri Reno tidak ada sangkut pautnya, jadi tidak sepantasnya dia membuat wanita itu terluka.


"Selamat pagi Sayang, setiap hari selalu cantik," sapa Reno saat melihat Kia keluar dari rumah.


Kia hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah katapun. Setelah berpamitan kepada bu Aida mereka berangkat menuju kantor. Kia lebih banyak diam selama di dalam perjalanan, walaupun Reno mengajaknya bicara ia hanya menjawab seperlunya saja.


"Reno, nanti saat makan siang aku ingin berbicara serius dengan mu,"


Reno senyum-senyum mendengar ucapan Kia, dia mengira Kia akan menerima cintanya.


"Baiklah, kamu ingin makan siang di mana?"


"Terserah kamu saja, aku ikut saja pilihan mu,"

__ADS_1


Kia meninggalkan Reno yang hatinya masih berbunga-bunga.


***


Siang itu Reno akan mengajak Kia ke restoran dekat kantor mereka yang hari itu baru saja launching, namun Kia menolak.


"Tiba-tiba aku malas keluar, kita makan siang di kantin saja," ucap Kia datar.


"Bukankah tadi kamu bilang terserah aku, aku sudah memesan tempat di sana,"


"Jika kamu tidak mau, kamu pergi saja sendiri. Aku mau makan di kantin saja,"


Kia meninggalkan Reno yang masih terpana. Walaupun sedikit kesal dengan kelakuan Kia Reno akhirnya menyusul ya juga. Setelah memesan makan mereka duduk di pojok, sehingga bisa menatap pemandangan di luar gedung. Kia hanya diam saja membuat Reno sedikit bingung, biasanya dia selalu riang dan tersenyum.


"Apa aku punya salah kepada mu, Sayang? Apa aku tidak sengaja telah menyakiti mu?" tanya Reno pada akhirnya.


Kia menghela napas dalam, di tatapnya Reno dengan serius membuat pria itu tegang. Ia sudah merasa takut jika Kia telah mengetahui rahasia yang di tutupinya selama ini.


"Lebih baik hubungan kita sampai di sini, sebelum terlalu jauh melangkah. Aku masih ingin sendiri dan tidak ingin terikat dalam hubungan apapun. Maaf bukan maksud ku mempermainkan diri mu, tapi aku baru sadar jika aku belum siap menjalin hubungan dengan seorang pria,"


Begitu lancar kata-kata itu keluar dari bibir Kia seolah tanpa beban. Wajah Reno berubah pucat pasi, tidak menyangka pembicaraan serius yang ingin gadis itu katakan adalah tentang perpisahan. Ia merasa alasan Kia tidak masuk akal dan terlalu mengada-ada. Kemarin mereka masih bersenang-senang dan tidak tampak sama sekali raut wajah Kia jika ingin mengakhiri hubungan mereka yang bahkan belum di mulai.


"Aku tidak yakin dengan alasan mu, apa telah ada pria lain yang lebih menarik hati mu? Katakan saja sejujurnya siapa pria itu, Kia?" tanya Reno sembari menggenggam tangan Kia.


"Aku tidak memiliki pria lain, selama ini hanya kamu pria yang paling dekat dengan ku. Tapi maaf, aku benar-benar belum siap, lebih baik kita berteman saja agar tidak saling menyakiti," jawab Kia.


Kia melepaskan genggaman pria itu lalu bangkit dari tempat duduknya. Setelah tersenyum, ia pergi meninggalkan Reno sendiri yang masih belum bisa menerima keputusan Kia.


'Padahal aku benar-benar tulus mencintai mu, tapi mengapa kamu patahkan hati ku begitu saja.' batin Reno.

__ADS_1


Di saat ia masih termenung ponselnya berdering, notifikasi pesan wa dari istrinya. Ia membukanya perlahan. Matanya membulat tatkala melihat apa yang istrinya kirim lewat pesan wa. Puluhan foto kebersamaannya bersama Kia, saat di kantor, di mobil bahkan saat mereka pergi ke kafe. Entah darimana istrinya mendapat foto-foto ini, yang jelas ia harus segera menjelaskan kepadanya agar tidak salah paham.


__ADS_2