Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 26 Bertemu Ayah


__ADS_3

"Loh, Bapak yang tadi saya tabrak ya," ucap Asha.


Pria itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Walaupun usianya sudah matang tapi aura maskulin sangat lekat dalam penampilannya.


"Wah ternyata kita ketemu lagi, mungkin sudah jodoh ya. Kata Jimmy kamu menolak tawaran untuk main film karena ingin fokus modeling, kenapa tidak di coba dulu, aku yakin kamu mampu," ucapnya sambil tersenyum.


"Eh iya maaf, saya tidak ingin mengecewakan orang yang sudah memberi saya pekerjaan. Saya sudah tanda tangan kontrak selama satu tahun, jadi tidak bisa mengambil pekerjaan lain," jelas Asha.


"Jika nyonya Samantha mengizinkan apa kamu bersedia untuk main film?" tanyanya.


"Akan saya pikirkan nanti, saya harus kembali bekerja. Senang berkenalan dengan Anda, Pak Ari Sanjaya,"


Asha mengembalikan ponsel Jimmy dan kembali bekerja.


♥︎♥︎♥︎


Malam harinya, pukul 19.00.


Hujan rintik-rintik mulai membasahi pelataran, bau khas tanah yang tersiram air hujan menyamankan indra penciuman. Kia dan Asha sedang membantu ibunya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat masakan yang akan di jual di warung ibunya besok pagi. Semakin hari warung ibunya semakin ramai sehingga masakan yang di masak juga semakin banyak dan beraneka ragam. Awal berjualan bu Aida masih bisa melakukannya sendiri, namun akhir-akhir ini dia terlihat kelelahan sehingga kedua putrinya pasti membantunya jika senggang.


"Bunda, sebenarnya kita kasihan melihat Bunda harus bersusah payah mencari uang begini, padahal insyaallah kita masih bisa mencukupi semua kebutuhan rumah ini. Apa tidak sebaiknya Bunda berhenti saja," ucap Asha memulai pembicaraan.


"Tidak apa-apa, Bunda justru bosan jika tidak ada pekerjaan," balas bu Aida.


"Tapi kasihan Bunda setiap hari kelelahan," sahut Kia.


"Otot-otot Bunda justru jadi kaku kalau kurang gerak, tenang saja Bunda janji akan istirahat jika lelah. Sekarang juga sudah ada karyawan, lagian kasihan langganan jika sampai warung di tutup," balas bu Aida.

__ADS_1


Mereka tidak memperpanjang lagi karena dibujuk bagaimanapun ibunya tidak akan menutup warungnya. Pertama pasti karena langganannya sudah banyak jadi tidak ingin mengecewakan mereka. Yang kedua ibunya pasti bosan jika tidak punya kesibukan, yang penting bisa menjaga kesehatan saja.


Pukul 21.00 mereka semua beristirahat, bu Aida sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Kia dan Asha tidur bersama seperti biasanya.


"Kak, apa yang harus kita lakukan dengan pernikahan ayah?" tanya Kia.


"Entahlah, aku kasihan melihat Bunda," jawab Asha.


"Apa kita hancurkan saja pernikahan mereka?" tanya Kia membuat Asha berpikir.


"Mereka keterlaluan, begitu tega bahagia di atas penderitaan Bunda, Kak. Mereka harus di beri pelajaran," tegas Kia.


"Apa kamu lupa kejadian yang menimpa kita, sepertinya balas dendam bukan solusi yang baik," balas Asha.


Mereka menghela napas panjang. Membiarkan pernikahan terjadi dengan begitu mudah sama saja menyerah tanpa melawan, namun membuat ricuh pernikahan juga bukan hal yang baik. Malam ini mereka belum membuat keputusan tentang apa yang akan mereka lakukan dengan pernikahan ayah mereka. Rasa lelah mengantarkan mereka ke alam mimpi dengan begitu cepat, bersatu dengan dinginnya malam yang mampu menembus kulit.


♥︎♥︎♥︎


Seperti biasa Kia dan Asha berpamitan ke ibunya untuk bekerja, namun sebenarnya mereka sudah izin untuk tidak masuk. Hari ini mereka berencana berkunjung ke tempat mereka di lahirkan, mereka berniat menemui ayah mereka sebelum ia resmi menikah. Mereka mencium kedua pipi ibunya sebelum berangkat.


"Tumben sekali pakai cium Bunda segala, biasanya hanya salaman saja," ucap Bu Aida sambil tersenyum senang.


Hari ini adalah hari pernikahan mantan suaminya, ayah dari kedua putrinya. Tentu saja dia ingat, namun ia tidak ingin putrinya tahu betapa hancur hatinya sebagai seorang wanita. Dia benar-benar tidak menyangka akan semudah itu pria yang pernah dicintainya itu berpaling kepada perempuan lain. Begitu mudahnya dia melepaskan dirinya dan beralih kepelukan wanita lain. Selama ini ia mengira mereka akan selesai hanya sampai berselingkuh dan tidak berlanjut ke hubungan yang lebih serius, namun ternyata ia keliru.


"Memangnya tidak boleh ya, kita kan sayang Bunda," ucap Kia.


Setelah selesai berpamitan mereka berangkat, Asha membonceng Kia dengan motornya setelah Kia memarkir motornya di parkir umum 24 jam. Mereka mengendarai motor dengan kecepatan sedang, karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh mereka memutuskan bergantian menyetir. Setelah sekitar 2,5 jam mengendarai motor akhirnya mereka tiba di kota kelahiran mereka.

__ADS_1


Tidak ada perubahan yang mencolok, semua masih tetap sama. Pemandangan, ruko, warung, sekolahan, bahkan rumah yang telah mereka tinggali selama puluhan tahun tidak banyak berubah. Pernikahan ayah mereka di gelar di rumah itu, hanya acara sederhana. Entah mengapa perempuan itu tidak membuat pesta, padahal ia telah berhasil merebut ayahnya dari ibunya.


Asha dan Kia segera membaur dengan orang-orang yang tengah membantu, tidak ada yang tahu kehadiran mereka karena memakai masker. Mereka melihat pelakor itu tengah di make up di kamar ayah dan ibunya dulu. Karena tidak melihat ayahnya mereka terus menyusuri rumah itu. Langkah kaki mereka terhenti saat melihat ayahnya berada di kamar yang mereka tempati dulu, terlihat ia sedang memandangi foto keluarga mereka yang lengkap dulu.


"Kenapa yang di pandang fotonya, jika rindu harusnya datangi orangnya," ucap Kia membuat ayahnya tersentak dari lamunannya.


"Kalian? Ayah pikir kalian tidak akan pernah datang kemari lagi," ucap Pak Harry begitu senang.


Ia menghampiri kedua putrinya untuk meluapkan semua kerinduannya selama ini, namun keduanya menghindar saat ia akan memeluk mereka. Ternyata hanya dengan suara ayahnya tahu itu mereka, akhirnya maskerpun dibuka. Terlihat sorot kekecewaan dari mata keduanya.


"Aku pikir setelah kita pergi ayah akan segera mencari dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, tapi ternyata ayah lebih memilih wanita itu dan membuang kita bertiga," ucap Asha sedih, matanya mulai mengembun.


Ayahnya pun ikut bersedih, ia tertunduk menahan malu.


"Bunda mu tidak ingin kembali kepada ayah walaupun sudah meminta maaf, lalu apa salahnya jika ayah menikahinya sekarang," balas ayahnya.


"Apa ayah pikir piring yang sudah ayah pecahkan akan kembali utuh hanya dengan kata maaf? Walaupun ayah berusaha merekatkannya kembali apa akan bisa kembali seperti semula?" tanya Kia penuh emosi.


"Sekian lama bunda mendampingi dalam suka dan duka, bukan kebahagian justru sakit hati yang di dapat. Pria memang tidak pernah bersyukur, mau di mengerti tapi tidak mau mengerti. Mulai detik ini, ayah bukan orang tua ku lagi," imbuh Kia.


"Kia, kamu tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun aku adalah ayah mu, kamu tidak boleh memutuskan hubungan begitu saja," balas Ayahnya.


Kia dan Asha menjauh.


"Kia benar Yah, mungkin kita tidak akan pernah bertemu kembali. Selamat menempuh hidup baru, semoga apa yang menimpa bunda tidak menimpa kalian berdua juga," ucap Asha.


Asha menarik tangan Kia untuk segera pergi dari tempat itu. Ayahnya mengejar mereka, namun langkah mereka bertiga terhenti saat melihat seorang wanita anggun melihat ke arah mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2