Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 23 Pengakuan


__ADS_3

"Apa mereka sudah mengaku siapa yang membayar mereka, Pak?" tanya Asha.


"Belum, mbak Asha bisa datang kesini sekarang?"


"Baik Pak, saya segera kesana,"


Asha segera berpamitan kepada ibu dan adiknya, ia juga mengatakan bahwa polisi sudah berhasil membekuk pelaku, namun dalang dari semua ini masih abu-abu.


Hanya 20 menit mengendarai motor, Asha sudah sampai di kantor polisi. Ia segera melihat kedua pelaku, yang pria bukan Reno yang ia curigai. Ia sama sekali tidak mengenal mereka.


"Mereka adalah pelaku yang membuat Nona Kia celaka, apa mbak Asha kenal?" tanya petugas itu.


Asha menggeleng cepat.


"Saya tidak kenal Pak, barusan juga saya kirim foto mereka kepada adik saya. Katanya dia juga tidak mengenal mereka,"


"Kenapa kalian ingin membuat adik ku celaka? Bagaimana perasaan kalian jika keluarga kalian yang di buat seperti itu? Apa uang segalanya buat kalian, sehingga mampu menghabisi nyawa orang lain?" tanya Asha lembut.


Polisi di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah Asha, jika orang lain pasti sudah menghajar dan memaki kedua pelaku ini. Namun Asha berkata kepada mereka seolah bicara kepada teman saja, tutur katanya lembut tapi maknanya dalam. Kedua pelaku itu hanya tertunduk tidak membalas tatapan Asha.


"Petugas sudah menginterogasi mereka, namun belum berhasil membuat mereka bicara sampai sekarang,"


"Orang seperti mereka hanya akan bicara jika ada uang, Pak,"


Asha mengeluarkan segepok uang senilai 10 juta rupiah di hadapan kedua pelaku. Mereka bingung, polisi juga tidak mengerti dengan apa yang Asha lakukan.

__ADS_1


"Aku akan memberikan uang ini bahkan 10X lipat akan aku carikan, syaratnya hanya satu. Tolong bunuh orang yang kalian sayangi," ucap Asha begitu tenang.


Mata semua orang membulat tidak percaya dengan yang mereka dengar.


"Mana mungkin kita membunuh orang yang kita sayangi, bahkan di beri 1 milyar juga kita tidak akan mau," jawab si pelaku wanita.


"Apa masih kurang kok tidak mau?" sindir Asha.


"Kita tidak mungkin tega, kasihan keluarga juga," jawab pelaku pria.


"Jika kalian tidak tega, baiklah aku akan menyuruh orang lain menghabisi orang yang kalian sayangi. Aku yakin mereka tidak akan menolak,"


"Maksud mu apa? Kita saja tidak saling kenal, kenapa kamu ingin menghabisi orang yang kami sayangi?"


Kedua pelaku merasa tidak terima, mereka bangkit dari duduknya dan menunjuk Asha. Asha tetap saja tenang, sedangkan petugas menyuruh kedua pelaku itu untuk duduk kembali.


"Kalian bahkan tidak mengenalnya, tidak tahu kebaikannya, dia tidak pernah menyakiti tapi kalian begitu tega ingin melenyapkannya hanya demi uang. Sekarang dia terkapar di rumah sakit, sedang meringis kesakitan karena perbuatan kalian. Bukan hanya uang 1 milyar, nyawa kalian bahkan tidak bisa menggantikan kehadirannya di mata orang yang menyayanginya,"


Asha begitu tenang mengatakannya, halus tapi langsung mengena di hati. Kedua pelaku seketika diam menunduk, sepertinya mereka baru sadar dengan akibat dari perbuatannya. Ternyata dari info petugas kepolisian keduanya adalah sepasang suami istri.


Keduanya tiba-tiba menangis sesenggukan, kemudian saling berpelukan. Petugas sam⁰pai bingung dengan tingkah laku mereka, ternyata kata-kata dari Asha mampu mempengaruhi psikis kedua pelaku.


"Kami minta maaf, kami butuh biaya untuk mengobati anak kami yang sedang sakit makanya mau menerima tawaran ini," ucap pelaku wanita.


"Dengan cara membuat orang lain sakit bahkan nyaris kehilangan nyawa begitu?" tanya Asha.

__ADS_1


"Kami tidak berpikir sampai sejauh itu, kami benar-benar khilaf," jawab si pria.


"Walau adik ku memaafkan kalian, tapi hukum pasti akan tetap berjalan. Berpikirlah sebelum bertindak, karena suatu kejadian tidak akan pernah bisa kembali hanya dengan permintaan maaf,"


Kedua pelaku merasa benar-benar menyesal, sudah masuk penjara, nama baik juga jadi tercemar, belum lagi memikirkan buah hati yang baru saja sembuh sudah harus mereka tinggalkan. Mereka tidak tahu harus berada di penjara berapa lama, apalagi memikirkan apakah anaknya akan di urus dengan baik oleh keluarganya.


Mereka baru sadar jika perbuatannya menanggung resiko yang sangat besar. Sekarang sudah terlambat untuk menyesal, nasi telah jadi bubur. Mungkin satu-satunya cara meringankan beban mereka di dunia dan akhirat adalah dengan memberi tahu kepada polisi tentang pelaku yang sebenarnya. Mereka sebenarnya juga bukan orang jahat, hanya saja keadaan yang membuat mereka terpaksa melakukannya.


"Saya akan memberi tahu siapa yang menyuruh kami mencelakakan wanita itu," ucap pelaku pria.


"Baik silahkan katakan, kita akan catat dan segera mencari keberadaannya," balas Pak polisi.


"Saya mengenalnya tidak terlalu dekat, tapi dulu dia masih berasal dari desa yang sama dengan kita. Katanya wanita itu telah mengkhianatinya, padahal mereka telah bertunangan. Mereka masih teman satu kantor, namanya Reno,"


Pelaku pria yang ternyata bernama Badar itu menceritakan semua yang ia ketahui. Reno mengarang cerita agar mereka mau membantu menjalankan aksinya, ia tega menfitnah Kia lantaran merasa sakit hati kepadanya. Ia merasa benar-benar kecewa Kia telah menolaknya, apalagi setelah kejadian itu istrinya benar-benar menggugat cerai dirinya. Konflik berkepanjangan ini membuat putrinya kembali harus di bawa ke rumah sakit yang membuat istrinya semakin benci kepadanya.


"Reno itu justru jatuh cinta kepada adik ku, tapi dia menolaknya. Dia itu sudah mempunyai istri dan seorang anak, Reno mengaku jika dia itu sudah untuk menarik simpati wanita di luaran. Itulah akibatnya jika kalian terlalu percaya kepada orang asing yang kalian tidak tahu kesehariannya," jelas Asha.


Badar dan istrinya Narmi saling bersitatap, mereka semakin menyesal setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Uang benar-benar telah membutakan mata mereka. Akhirnya mereka memberi tahu alamat Reno di desa.


Petugas segera menyatroni kediaman Reno sesuai info yang di berikan Badar. Asha memutuskan kembali ke rumah sakit sambil menunggu perkembangan penangkapan Reno, dan segera memberitahu keluarganya siapa pelaku sebenarnya.


Kia dan bu Aida terperanjat ketika mendengar cerita Asha. Khususnya Kia, ia benar-benar tidak percaya pria yang mengatakan mencintainya ternyata tega akan menghabisinya. Tadinya ia justru menyangka semua adalah perbuatan istri Reno yang kemungkinan merasa sakit hati kepadanya.


Sore hari ini Kia sudah di izinkan pulang dengan catatan benar-benar harus beristirahat ketika, merekapun segera berkemas. Saat akan mengurus administrasi ponsel Asha berbunyi, petugas kepolisian kembali menghubunginya.

__ADS_1


"Mbak Asha, kami sudah berhasil menangkap saudara Reno dan sedang membawanya ke kantor,"


__ADS_2