Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 27 Merelakan Yang Harus di Lepaskan


__ADS_3

"Bunda," panggil Asha dan Kia bersamaan.


"Aida, kamu datang," ucap mantan suaminya.


"Kia, Asha, kenapa kalian ada di sini? Bukankah tadi kalian berangkat bekerja? Apa kalian membohongi bunda?" tanya bu Aida.


"Maafkan kami Bunda, kami hanya ingin berbicara sebentar dengan Ayah sebelum dia menikah lagi," jawab Asha.


"Bunda sendiri sedang apa di sini?" tanya Asha.


"Apakah kamu mau kembali bersama ku, Aida?" tanya ayahnya.


Ketiga perempuan cantik itu serempak menolehnya, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu setelah apa yang dia lakukan. Aida menghampiri mantan suaminya, ia segera melepas cincin kawinnya yang selama ini selalu melingkari jari manisnya.


"Aku kembalikan ini kepada mu, rasa cinta ku pada mu telah sirna tepat di saat aku melihat mu bercumbu dengan sahabat ku sendiri di depan mata ku. Jangan pernah berharap kita bisa bersama kembali," jawab bu Aida.


"Kamu bohong, hanya aku pria yang selama ini kamu cintai. Tidak mungkin kamu bisa melupakan aku begitu saja, aku akan membatalkan pernikahan ini jika memang kamu mau bersama ku kembali,"


Dia menggenggam tangan mantan istrinya, namun segera di tepisnya dengan kasar. Ia tersenyum dengan sinis kepada pria yang telah merajut cinta bersamanya hampir seperempat abad.


"Kamu memang cinta pertama dan terakhir ku, tapi kamu juga satu-satunya pria yang sudah menorehkan luka paling dalam di dalam hidup ku. Hari ini aku relakan semua yang memang pantas aku lepaskan," ucapnya mantap.


"Aku kira kamu kesini untuk membatalkan pernikahan ini, aku tidak menyangka kamu akan datang karena aku tidak pernah memberi tahu mu tentang hal ini," balasnya.


"Tidak pernah memberi tahu, tapi undangan pernikahannya bisa sampai di rumah kita," sindir Kia.


"Maksudnya bagaimana, aku tidak pernah mengirim undangan," ucap ayahnya.


"Sudahlah Nak, sebaiknya kita pergi sekarang. Kita tidak ada urusan lagi di sini," ajak bu Aida.


Ia menggandeng kedua putrinya meninggalkan pria itu, namun baru beberapa langkah sudah ada yang menghentikan mereka.


"Wah ternyata semua ada di sini ya, terima kasih ya sudah berkenan hadir di pernikahan kita," ucap Geya si pelakor.


"Selamat ya, sampah memang pantas bersanding dengan barang bekas. Semoga dia tidak berselingkuh di belakang mu seperti saat bersama ku," balas bu Aida tenang.

__ADS_1


"Jangan terlalu mengolok ku, putri mu juga seorang pelakor, jadi jangan terlalu bangga," sindir Geya.


"Putri ku semua baik, tidak seperti diri mu yang rela menikam orang yang telah menolong mu," balas bu Aida.


"Kia itu adalah pelakor, dia sudah membuat pernikahan Reno berantakan dan nyaris bercerai," ucap Geya.


Kia baru ingat kalau wanita ini adalah tante dari istri Reno, ia juga seperti pernah melihat wajahnya saat dia mengalami kecelakaan waktu itu.


'Apa jangan-jangan kecelakaan itu ada campur tangan tante Geya ya?' batin Kia.


"Aku bukan pelakor, aku bahkan belum menerima cintanya sudah memilih menjauh darinya. Beda dengan diri mu, sudah tahu pria beristri mau di sikat juga, dasar pagar makan tanaman," ucap Kia.


"Sudah ayo kita pulang saja, tidak ada faedahnya berdebat dengannya," ajak Asha.


"Kalian memang pecundang, beraninya main keroyokan," ledek Geya.


Bu Aida mendekati wanita itu, ia menatap lekat mata Geya membuat wanita itu sedikit ketakutan.


"Jangan terlalu banyak bicara, apa perlu aku katakan kepada semua orang tentang perselingkuhan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya sekarang, aku tidak akan pernah kembali lagi, jadi jangan pernah mengganggu kami lagi," ancam bu Aida.


"Kalian kesini naik motor?" tanya bu Aida melihat motor anaknya terparkir di halaman.


Mereka berdua tertawa membuat bu Aida gemas. Jarak yang lumayan jauh mereka tempuh dengan motor, itu sangat berbahaya.


"Kalian bareng Bunda saja, biar nanti paman kalian yang bawa motornya," putus Bu Aida.


"Jangan Bunda, besok kan di pakai bekerja. Kita akan hati-hati kok, janji deh" bujuk Kia.


"Tapi itu terlalu beresiko, Kia," tolak bu Aida.


"Kalau lelah kita pasti berhenti, Bunda tenang saja ya," sahut Asha.


"Baiklah, tapi harus hati-hati dan jangan menyebut paham,"


Akhirnya bu Aida mengizinkan mereka. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam. Akhirnya ibunya benar-benar mengikhlaskan ayah mereka bersama wanita lain. Hal itu pasti teramat sulit, namun akan terasa lebih sakit jika masih dibiarkan bersemayam di dalam hati.

__ADS_1


Ketika sudah hampir sampai rumah, mereka berhenti untuk membeli puding kesukaan ibunya dan sebuah buket bunga. Hal sederhana seperti ini akan terasa sangat bermakna jika di dasari rasa kasih sayang.


Saat tiba di halaman, terlihat ibunya sudah menunggu mereka di teras. Raut wajahnya begitu senang tatkala melihat kedua putrinya tiba.


"Kenapa kalian lama sekali, Bunda sudah sangat kuatir. Di telepon juga tidak ada yang mengangkat," ucap Bu Aida.


"Maaf Bun, ponsel di silent semua. Kita mampir untuk membelikan ini khusus untuk Bunda tersayang," ucap Kia.


Mereka memberikan bunga dan puding yang tadi mereka beli. Ibunya merasa sangat senang, ia sangat bersyukur memiliki anak yang baik dan perhatian seperti mereka.


"Terima kasih ya, Sayang," ucap Bu Aida sembari merangkul kedua putrinya.


♥︎♥︎♥︎


Di tempat lain Harry dan Geya telah resmi menikah, Geya terlihat sangat bahagia. Akhirnya penantiannya selama 4 tahun lebih sekarang menjadi kenyataan, ia berhasil merampas pria yang di dicintainya. Namun sepertinya Harry tidak merasa sebahagia istrinya, kehadiran mantan istri dan kedua putrinya berhasil membuatnya dilema.


"Mengapa kamu seperti tidak bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Geya.


"Bukan seperti itu, aku hanya masih terkejut dengan kedatangan mereka tadi," jawabnya.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Geya menyelidik.


Harry tidak menjawab, tentu saja ia masih mencintai Aida. Wanita itu adalah cinta pertamanya dan juga ibu dari kedua putrinya, kebersamaan mereka selama puluhan tahun tentu saja sangat berarti baginya. Seandainya ia bisa mrmilih, mungkin dia memilih tidak bertemu Geya agar bisa tetap bersama keluarga kecilnya. Namun nasi sudah jadi bubur, rasa sesal sudah tidak ada gunanya lagi.


"Aku akan segera memberi mu bayi yang cantik dan tampan," ucap Geya.


Ia mulai menggoda suaminya dengan gerakan-gerakan nakal, itulah kelihaian Geya yang membuat Harry mabuk kepayang. Dia memang tipe wanita agresif dan pintar dalam bercinta, itu membuat Harry puas dengannya.


"Apa kamu suka, Sayang?" tanya Geya sembari mengerling nakal.


"Tentu saja, akh..." jawab Harry.


"Terus Aida, terus..."


Geya langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2