
Reno mencoba menghubungi nomor istrinya, tersambung namun tidak di angkat. Ia memutuskan untuk menjelaskan lewat pesan wa agar istrinya membaca.
[Sayang itu adalah teman kantor ku, kita tidak ada hubungan apa-apa. Kamu jangan salah paham, tolong angkat telepon ku agar aku bisa menjelaskan.]
Pesan wa terkirim, di baca namun tidak kunjung di balas. satu menit, lima menit sampai waktu istirahat selesai istrinya belum juga membalas. Reno memutuskan menghubungi istrinya kembali, namun tetap tidak di angkat. Ia benar-benar gelisah, baru saja Kia menghancurkan segala harapannya sekarang istrinya mengetahui tentang kedekatannya dengan Kia selama ini.
[Sayang katakanlah sesuatu, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini. Demi anak kita, jangan kamu dengarkan orang yang ingin mengadu domba kita, mungkin dia hanya iri dengan kebahagiaan keluarga kita.]
Lagi-lagi hanya di baca saja. Karena pimpinan menyuruhnya menyelesaikan laporan segera, ia fokus menyelesaikannya terlebih dahulu, biar nanti ia menghubungi istrinya lagi.
Ketika akan menyerahkan laporan, ia melihat Kia yang sedang tidak melayani customer. Ia segera menghampirinya, namun gadis itu memilih acuh dan tidak mempedulikan kehadiran Reno.
"Kia, tolong jangan menjauh. Jujur aku masih belum bisa menerima keputusan mu, tapi aku akan berusaha menerima kenyataan ini," ucap Reno.
"Iya, tapi aku mohon bersikaplah profesional. Jangan pernah libatkan perasaan dalam pekerjaan kita, Pak Reno," Kia memberi penekanan dengan panggilannya terhadap bosnya itu.
"Reno, mana laporannya," teriak direktur dari lantai dua.
"Iya Pak, saya segera kesana," Reno bergegas ke ruangan direktur.
Sekitar pukul 14.00 customer di kantor Kia sedang rame sekali, Kia melayani semua nasabah dengan baik. Ia begitu ramah sehingga para nasabah merasa puas. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang ribut dengan security. Para staf berusaha menengahi.
__ADS_1
"Aku adalah istri sah Reno yang bekerja di sini, saya tidak terima ia selingkuh dengan karyawannya sendiri. Aku ingin bertemu mereka, mereka berdua harus segera di pecat," teriak wanita itu.
Wanita itu terus mengoceh walaupun anak yang di bawanya mulai menangis karena ketakutan. Security membawanya ke dalam ruangan agar tidak menjadi tontonan nasabah yang masih antri. Setelah mereka mendengar pengakuan wanita itu, dan menunjukkan foto kebersamaan Kia dan Reno akhirnya mereka mengerti permasalahannya. Kia dan Reno segera dipanggil ke ruangan itu.
Reno terkejut melihat kehadiran istri dan anaknya di kantornya. Wajahnya tertunduk malu tidak berani menatap siapapun di ruangan itu. Namun Kia terlihat lebih tenang, walaupun ia tahu di depannya adalah istri dan anak Reno.
"Kurang ajar Kamu, beraninya selingkuh dengan gadis ini. Aku sudah berkorban jiwa raga untuk mu, begitu tega kamu mengkhianati pernikahan kita," maki istri Reno sembari menunjuk-nunjuk wajah suaminya.
"Sayang ini tidak seperti yang kamu bayangkan, kita hanya sebatas teman kerja," sanggah Reno.
"Kalian tidak hanya bertemu di kantor, bahkan kamu mengajaknya ke kafe. Kamu pikir aku begitu bodoh apa, sampai-sampai percaya dengan alasan mu itu," ucap istri Reno berapi-api.
"Tenang dulu Bu, kita selesaikan semua ini baik-baik. Reno dan Kia adalah karyawan saya, saya akan menindak tegas mereka jika memang salah,"
"Coba Kia, kamu jelaskan semuanya agar tidak terjadi salah paham," pinta pak Direktur.
"Baik, Pak. Saya belum sempat menjalin hubungan dengan pak Reno, bahkan tadi siang saya memutuskan untuk menjauhinya dan menganggapnya sebatas teman dan rekan kerja. Pak Reno memang menyatakan perasaannya namun saya belum menerimanya karena masih belum yakin. Saya tidak tahu jika dia masih mempunyai istri bahkan anak karena dia mengaku duda kepada saya," jelas Kia terus terang.
Kia memang memutuskan tidak melanjutkan idenya untuk menghancurkan pernikahan Reno, karena ia ingat kata-kata kakaknya. Entah siapa yang telah melaporkan semua perbuatan Reno kepada istrinya sehingga wanita ini sampai datang ke kantor dan membuat rusuh.
"Jadi semua sudah jelas ya Bu, mereka tidak berselingkuh walaupun suami Ibu punya niatan itu,"
__ADS_1
"Kamu tega sekali mengaku duda, apa kamu sama sekali tidak menganggap kehadiran ku dan putri kita ini. Kamu jahat, Mas,"
Istri Reno mulai menangis, ia sama sekali tidak menyangka suaminya begitu kejam. Demi pria itu dia rela meninggalkan keluarganya yang tidak menyetujui hubungan mereka. Reno dulunya hanya pria biasa, ia bisa kuliah dan mendapat pekerjaan yang bagus semua adalah berkat kerja keras istrinya. Istrinya membantunya mencari uang dan menjual semua perhiasan miliknya agar dia bisa tetap kuliah dan mendapat pekerjaan yang layak.
Reno menunduk menahan malu, ia tidak tahu harus melakukan pembelaan bagaimana lagi. Sekarang ia benar-benar merasa terpojok.
"Aku tahu Reno karyawan yang baik selama ini, namun Kia juga berprestasi bagus. Agar masalah ini tidak berlarut-larut saya harus bertindak tegas. Kia akan tetap bekerja di kantor ini, sedangkan Reno akan di mutasi ke kantor lain. Saya harap setelah ini tidak ada karyawan yang mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan."
Pak Direktur sudah mengambil keputusan dan tidak bisa di bantah, mereka mau tidak mau harus menerimanya.
"Kia kembalilah bekerja, kasihan nasabah telah menunggu mu. Reno sebaiknya bawa istri mu pulang, selesaikan masalah ini di rumah. Jangan membuat reputasi kantor ini jelek karena ulah mu," perintah pak Direktur.
"Baik, Pak," jawab Kia segera kembali ke meja kerjanya dan melayani nasabah seperti biasanya.
Reno Dan istrinya masih terdiam, hanya suara tangisan anak mereka yang terdengar. Anak itu ingin menghampiri ayahnya namun di larang oleh istri Reno.
"Jangan Nak, papa mu sudah tidak sayang kepada kita. Dia sudah mencintai orang lain dan berniat meninggalkan kita," cegahnya.
Anak itu menurut dan tidak jadi menghampiri Reno. Hati Reno terasa sakit, ia benar-benar telah membuat mereka terluka.
"Sayang, tolong maafkan aku. Aku khilaf, aku mohon beri aku kesempatan lagi. Demi anak kita, aku mohon kepada mu," Reno memohon dan mencoba memegang tangan istrinya namun segera di tepisnya.
__ADS_1
"Sudah cukup rasa sabar ku selama ini. Ini bukan kali pertama kamu selingkuh, kamu sudah melakukannya berulang-ulang. Entah apa kurangnya diri ku selama ini sehingga kamu tidak pernah puas dengan hanya memiliki aku. Bahkan kamu seolah tidak ingat dengan putri mu. Aku benar-benar kecewa kepada mu, tolong segera ceraikan aku. Aku sudah tidak bisa hidup bersama mu lagi, terlalu sering kamu menyakiti hatiku. Jika kamu tidak mau menceraikan aku, maka aku yang akan menggugat mu,"
Dengan linangan air mata ia pergi membawa putrinya meninggalkan Reno yang masih shock. Kia tersenyum saat melihat istri Reno menoleh ke arahnya sebelum ia pergi. Ada rasa bersalah menyelinap di dalam hatinya yang paling dalam.