Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 45 Patah Hati


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sekitar pukul 06.30 pak Fredy kembali mendatangi kediaman Kia. Dengan berdandan necis dan penuh percaya diri ia bermaksud untuk melamar gadis itu. Bahkan ia telah menyiapkan sebuah cincin berlian untuk gadis pujaannya.


"Maaf ya Kia, aku datang pagi-pagi lagi ke rumah mu," ucap Pak Fredy.


Kia tidak menampakkan kesedihannya, walaupun matanya sedikit sembab karena kejadian semalam namun tidak begitu kentara. Apalagi di poles dengan senyumnya yang manis, tidak akan membuat pria di depannya tahu apa ya telah gadis itu alami.


"Tidak apa-apa, tapi saya tidak bisa menemani terlalu lama karena harus siap-siap bekerja," balas Kia.


"Aku to the point saja ya Kia. Sebenarnya aku sudah lama menyukai mu, sejak kamu menolong ku dari perampokan waktu itu. Aku tidak pernah merasa tertarik dengan seorang wanita setelah kematian istri ku, namun ketulusan mu membuat ku bisa membuka hati kembali. Aku sadar aku sudah tua dan mungkin tidak pantas untuk mu, tapi aku tidak bisa menahan perasaan untuk mengatakan perasaan ini. Maukah kamu menjadi pendamping ku, menemani sisa-sisa hari bersama ku?"


Mungkin jika Kia tidak tahu ia akan kena serangan jantung karena sangat terkejut. Tapi karena sudah tahu, ia bisa bersikap lebih tenang.


"Maaf Pak, sepertinya anda telah salah paham. Saya menganggap anda sama seperti yang lainnya. Saya juga masih belum ada keinginan untuk mencari pendamping, karena saya baru saja patah hati. Saya mohon anda bisa mengerti dan tidak merasa tersinggung," jawab Kia.


Walaupun ia sudah tahu akan ada kemungkinan di tolak, tetap saja ia merasa sangat kecewa. Senyum merekah yang sempat berkembang kini sirna. Sorot mata penuh pengharapan kini sarat dengan kesedihan. Pria itu patah hati, kebahagian yang membayang berubah menjadi kegelapan. Namun ia mencoba untuk menerima.


"Tidak apa-apa Kia, aku mengerti. Terima ini, ini untuk mu,"


Ia memberikan cincin itu kepada Kia, tidak ada gunanya ia menyimpannya. Belum tentu ia bisa menemukan wanita yang mampu mengetuk hatinya kembali, bahkan mungkin jika ia menunggu seumur hidup mungkin tidak akan mendapatkannya lagi.


"Tidak Pak, saya tidak pantas menerimanya. Tolong Bapak simpan saja,"


"Tidak Kia, ini aku beli hanya untuk mu. Tidak akan cocok untuk yang lain jadi tolong kamu terima,"


"Tapi..."


"Sudah, terimalah jika kamu menghargai aku,"


Kia terpaksa menerimanya karena tidak ingin berdebat lagi, sepertinya pria ini serius dengan ucapannya.


"Terima kasih Pak, semoga setelah ini hubungan kita tetap baik ya," ucap Kia.


Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum.


"Aku pamit dulu ya,"


Kia merasa lega, masalah pak Fredy telah selesai. Kini ia harus bisa melupakan Rendi, cinta yang hanya singgah beberapa saat dalam hidupnya namun itu adalah cinta pertamanya yang tidak akan mudah hilang.

__ADS_1


Ia meraih ponsel yang ia letakkan di nakas, tidak ada pesan atau telepon dari Rendi. Sepertinya pria itu serius dengan ucapannya semalam.


"Oh Tuhan, mengapa rasanya sesakit ini? Rasanya aku tak sanggup," ucap Kia.


Kia mulai mengingat kenangannya bersama Rendi, pria yang selalu membuatnya nyaman saat berada di dekatnya. Kia tersenyum, namun kemudian menangis tatkala sadar jika yang ada dalam imajinasinya hanyalah sebuah kenangan.


♥︎♥︎♥︎


Sementara itu kediaman pak Fredy.


Rendi sedang sarapan sebelum berangkat ke kantor. Gurat kesedihan nampak jelas di wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya ke luar tatkala mendengar deru mesin mobil memasuki rumah. Sepertinya ayahnya yang baru datang.


"Papa dari mana sepagi ini?" tanya Rendi.


Pria itu diam tak mengindahkan pertanyaan putranya yang sedang menatapnya penasaran. Ia mengambil piring dan menyendok nasi dan segala macamnya untuk sarapan. Ia mulai menyantap makanannya tanpa melihat ke arah putranya sama sekali.


"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Rendi setelah mereka selesai sarapan.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah karena pekerjaan," jawab pak Fredy.


"Jangan terlalu lelah, ingat usia papa sudah tidak muda lagi. Papa harus menghemat tenaga untuk calon mama ku nanti," seloroh Rendy untuk mencairkan suasana.


Rendy sengaja memancing ayahnya untuk mengetahui yang sebenarnya, ia tahu perubahan ayahnya pasti berhubungan dengan Kia. Karena selama ini ayahnya tidak pernah bersikap begitu jika hanya karena pekerjaan.


Ayahnya berlalu meninggalkan dirinya setelah mengatakan itu. Rendi sekarang yakin jika Kia sudah menolak lamaran ayahnya. Kini ia dan ayahnya patah hati untuk wanita yang sama.


♥︎♥︎♥︎


Malam harinya.


Rendi merasakan sangat kehilangan Kia, hidupnya tidak lagi bersemangat. Pria itu gelisah, ia mengalami insomnia.


"Ya Tuhan, mengapa sangat sulit melupakan Kia," ucap Rendy sembari memegangi kepalanya yang serasa berputar.


Brukkk...


Terdengar suara benda terjatuh yang cukup keras.


"Suara apa itu malam-malam begini? Apa jangan-jangan ada maling?"

__ADS_1


Rendi segera mengambil tongkat baseball yang ada di dalam kamarnya, perlahan ia melangkah keluar.


"Papa..." teriak Rendy.


"Aku mau kamu menikah dengan ku Kia, aku sudah lama kesepian," racau pak Fredy.


Rendy memapah ayahnya yang tergeletak di lantai, di sebelahnya ada beberapa barang yang pecah. Beruntung pecahannya tidak mengenai ayahnya. Tampaknya ayahnya sedang mabuk karena patah hati. Rendy tidak menyangka akan sefatal ini akibat penolakan Kia. Padahal sudah lama sekali ayahnya tidak pernah mabuk.


"Kenapa Papa jadi begini sih?" tanya Rendy setelah berhasil membaringkan ayahnya di atas tempat tidur.


"Rendy, dia menolak ku. Dia tidak mau jadi mama mu,"


Pak Fredy masih bisa menjawab dengan mata setengah terpejam karena mabuk. Ia meracau mengatakan apa saja yang ada di dalam pikirannya. Setelah memastikan ayahnya tidur, ia kembali ke dalam kamarnya.


♥︎♥︎♥︎


Keesokan harinya, masih di kediaman pak Fredy.


Pagi itu Rendy bangun seperti biasanya. Ia mengecek ponsel, tidak ada pesan apapun dari Kia. Mereka sama-sama menunggu pesan, namun tidak ada yang mau mendahului. Entah karena gengsi atau memang berusaha untuk saling melupakan.


Rendi segera bersiap-siap untuk berangkat kerja. Pria itu turun ke bawah untuk sarapan.


"Apa papa sudah berangkat, Bi?" tanya Rendy kepada pembantunya.


"Tuan belum keluar sama sekali, Den Rendy," jawab pembantu itu.


"Apa? Tidak biasanya papa belum bangun jam segini. Coba aku lihat dulu,"


Rendi mengurungkan niatnya untuk sarapan, ia kembali naik ke atas untuk mengecek ayahnya.


Tok... tok... tok...


Rendi mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan. Ia mencoba lagi namun masih hening. Ia buka pintu yang ternyata tidak terkunci.


"Pa, Rendy masuk ya,"


Tetap tidak ada jawaban, papanya juga tidak ada di tempat tidur. Rendy mencoba mencari di kamar mandi.


"Papa..."

__ADS_1


"Bi Asih... Bejo... cepat kesini,"


Rendy berteriak sambil menangis.


__ADS_2