
"Ngeri juga si Jason ya, memangnya tidak di usut kematian gadis itu?" tanya Bella.
"Jika uang sudah berkuasa, apapun bisa di buat bungkam," jawab Jimmy.
"Jason benar-benar keterlaluan ya," jawab Asha.
Asha lalu ingat dengan ide gila Kia. sepertinya Jason adalah target yang tepat. Tiada hari-hari dalam hidupnya tanpa menyakiti hati wanita. Parasnya yang tampan serta sifatnya yang royal dan hidup dalam gelimangan harta membuatnya mudah melakukan semua sesuai kehendaknya. Asha harus menyusun strategi untuk memikat hati Dan Juan itu, ia harus benar-benar waspada.
***
Sementara itu Kia dan Sisil sudah bersiap pulang kerja. Kia merasa senang karena hari ini dapat ia lewati tanpa hambatan yang berarti.
"Kia, apa kamu jadi pergi jalan-jalan dengan Roki?" tanya Sisil.
"Belum aku balas, tapi hari ini aku ingin belajar tentang produk dari web, jadi sepertinya aku memilih di rumah saja," jawab Kia.
"Baguslah, aku kuatir jika Roki menyakiti kamu," ucap Sisil.
"Tenang saja, aku tidak selemah itu Sisil. Kamu belum tahu jika aku dan kakakku telah di bekali ilmu bela diri sejak masih kecil," balas Bella.
"Yang namanya kaum pria itu licik Kia, jadi tetap harus waspada. Tapi aku cukup tenang kalau kamu menguasai ilmu bela diri, setidaknya saat kamu sadar kamu bisa menjaga diri," ucap Sisil.
"Hah?" tanya Kia tidak mengerti.
"Kejahatan sekarang beraneka ragam, mereka bisa membuat korbannya tidak sadar. Bisa dengan membius, mencekoki dengan minuman atau obat terlarang," jawab Sisil.
"Iya kamu benar, aku harus pikirkan itu. Ayo kita segera pulang, bunda pasti sudah menunggu ku di rumah,"
Mereka pun bergegas pulang dengan mengendarai motor masing-masing. Baru sekitar beberapa meter motor Kia di cepat seseorang.
"Roki? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Kia dengan mata membulat karena terkejut.
"Habis kamu tidak membalas wa ku, jadi aku langsung kesini saja," jawab
"Maaf ya, hari ini aku sangat lelah sekali karena ini hari pertama ku bekerja. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama," tolak Kia dengan halus.
"Wah sayang sekali, padahal kan mumpung aku cuti makanya mengajak kamu jalan. Tapi aku bisa memakluminya kok, janji lain kali kita jalan bareng loh ya," ucap Roki.
"Iya, ya sudah aku duluan," pamit Kia lalu melajukan motornya kembali.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Kia langsung menyalami ibunya yang tengah sibuk melayani pembeli yang ternyata lumayan ramai. Tanpa di minta Kia lalu membantu ibunya setelah cuci tangan terlebih dahulu.
"Wah Bu Aida beruntung sekali punya anak gadis sudah cantik, baik, mandiri lagi," puji seorang ibu yang juga sedang menunggu di layani.
"Alhamdulillah Bu," jawabnya penuh rasa syukur.
Setelah hampir magrib pembeli sudah mulai sepi, Kia dan Ibunya baru bisa bernapas lega.
"Kia kamu cepat mandi lalu istirahat saja setelah shalat, kamu pasti capek sudah seharian bekerja," suruh ibu Aida.
"Iya Bunda, Kia tidak begitu capek kok. Oh ya Kakak kok belum pulang ya?" tanyanya setelah menjawab ibunya.
"Mungkin belum selesai, ini kan hari pertama bekerja jadi mungkin masih beradaptasi," jawab ibunya.
"Iya mungkin, Kia masuk dulu ya Bun," pamitnya.
Ketika Kia baru saja masuk ke dalam rumah Asha tiba dan langsung memeluk ibunya serta mencium tangannya.
"Duh anak gadis bunda, kelihatannya sedang gembira sekali," ucap Ibunya.
"Alhamdulillah hari ini semua lancar, Bun. Separuh dari bayaran Asha sudah di transfer ke rekening Bunda," balas Asha.
"Seharusnya tidak perlu begitu, itu adalah hak kamu," ucap Ibunya.
"Asha masuk dulu ya Bun, udah hampir maghrib," pamitnya.
Setelah Kia selesai mandi, Asha juga segera membersihkan tubuhnya. Saat mereka sedang santai rebahan di kasur tiba-tiba ibu mereka memanggil, ada tamu untuk Asha.
"Wah siapa ya, perasaan aku belum punya teman yang tahu alamat rumah ku?" tanyanya bingung.
"Langsung temui saja biar tidak penasaran," jawab Asha memberi saran.
"Iya juga," balas Kia bergegas keluar kamar.
"Kia kenapa lama sekali, itu temannya sudah menunggu di teras. Tadi di suruh masuk tapi menolak," ucap ibunya.
"Iya Bun, ini mau Kia temui," jawab Kia.
"Loh Pak Reno? Kok bisa tahu rumah saya di sini?" tanya Kia penasaran.
__ADS_1
"Maaf, tadi aku ikuti kamu saat pulang daruli kantor," jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hah? Lalu ada perlu apa kesini?" tanya Kia tanpa basa basi.
"Aku mau mengajak kamu jalan, kamu mau kan?" tanyanya.
"Kita itu baru saja kenal, memangnya pacarnya nanti apa tidak cemburu kalau Bapak ngajak wanita lain jalan?" tanya Kia menyelidik.
"Aku masih sendiri kok, tenang saja tidak akan ada yang marah," jawab Reno mantap.
"Tapi maaf ya, saya sedang tidak ingin kemana-mana," jawab Kia.
"Apa kamu sudah punya kekasih, Kia?" tanyanya.
"Memangnya kenapa kok bertanya seperti itu?" Kia bertanya balik.
"Ya tidak apa-apa, hanya takut saja ada yang marah jika aku mengajak mu," jawab Reno.
"Kalau takut harusnya tanya dulu sebelum ngajak jalan, bukannya ngajak dulu baru bertanya," ucap Kia santai.
Reno tak bisa berkata-kata menghadapi Kia. Betapa beraninya dia, padahal Reno adalah atasannya di kantor namun Kia berbicara seolah-olah pada temannya saja.
"Maaf ya Pak, saya memang orangnya begini, saya harap Pak Reno tidak tersinggung," ucap Kia yang menyadari atasannya tiba-tiba diam.
"Tidak apa-apa Kia. Aku harap lain kali kamu tidak akan menolak ajakan ku lagi ya," balas Reno penuh harap.
"Saya tidak janji," ucap Kia lalu bangkit dari duduknya.
Melihat kode dari Kia itu, akhirnya ia memutuskan untuk pamit. Jujur dia merasa sangat kecewa karena Kia menolak ajakannya namun dia takkan menyerah. Baru saja ia keluar dari rumah Kia, ia melihat seorang pria juga masuk kesana. Ia penasaran karena seperti tidak asing dengan motor yang pria itu kendarai, akhirnya ia beranikan untuk mengintip.
Setelah sekitar sepuluh menit pria itu akhirnya berpamitan. Saat itu baru dia bisa melihat dengan jelas pria yang mengunjungi Kia.
"Si*lan, mau apa Roki juga ke rumah Kia, jangan-jangan dia juga tertarik padanya," ucap Reno sambil mengepalkan tangannya.
Reno mencegat Roki di belokan depan. Dia sengaja memarkir mobilnya melintang jalan agar Roki tidak bisa lewat.
"Heh siapa ini parkir mobil sembarangan?" tanyanya kesal.
"Aku, memangnya kenapa?" tanya Reno menantang.
__ADS_1
"Pak Reno? Kenapa Bapak di sini?" tanya Roki heran.
"Aku tahu kamu sedang mengincar Kia, asal kamu tahu aku juga tertarik padanya. Sebaiknya kamu mundur, daripada tunangan kamu tahu hal ini," ancam Reno.