
Keesokan harinya.
"Asha, kebetulan hari ini aku tidak ada pekerjaan, boleh aku mengantar mu bekerja? Aku ingin berkenalan dengan fotografer di sana juga,"
Pagi-pagi Erik sudah meneleponnya.
"Ehm.. bagaimana ya? Coba aku tanyakan bang Jimmy dulu ya, takutnya ia tidak menerima orang asing," jawab Asha
"Baiklah, aku tunggu kabar mu ya,"
Setelah panggilan berakhir, Asha lalu menghubungi Jimmy. Ternyata pria itu tidak keberatan sama sekali jika Erik mengunjungi studionya.
Asha lalu menghubungi Erik, mereka sepakat untuk berangkat 30 menit lagi.
"Tumben pakai gaun, Kak? Memang tidak ribet kalau bawa motor?" tanya Kia.
"Aku di antar Erik kok hari ini," jawab Asha.
"Wah, sepertinya ada yang mau jadian bentar lagi. Jangan lupa traktirannya ya," goda Kia.
"Apaan sih Kia, kita hanya berteman kok,"
Mereka terus saja bercanda sembari membantu ibu mereka menyiapkan masakan yang telah matang.
☆☆☆
"Pagi, Om," sapa Damar saat Harry dan Geya tengah sarapan.
"Pagi Damar, ayo sarapan bersama kami," balas Harry.
Damar melirik ke arah Geya, wanita itu terlihat sedikit gugup.
"Tidak apa-apa aku ikut bergabung?" tanya Damar ingin melihat reaksi Geya.
"Tentu saja, ayo duduk. Sayang ambilkan Damar piring ya,"
Geya beranjak mengambil piring di dapur dan menaruhnya di depan Damar.
"Terima kasih ya, Tante," ucap Damar.
Wanita itu hanya tersenyum sekilas.
Mereka menikmati makan bersama itu, walaupun Damar dan Geya menjadi sedikit canggung karena peristiwa kemarin.
"Mas, hari ini lebih baik jangan ke kantor. Aku ingin menikmati hari bersama mu. Selama ini kamu selalu bekerja dan bekerja, bahkan hari libur pun kamu tidak di rumah," Geya mulai protes lagi.
"Tidak bisa Geya, kerjaan ku banyak sekali. Aku harus bertanggung jawab agar bisnis ku semakin maju, tolong mengertilah toh itu juga buat kamu,"
Harry memeluk dan mencium istrinya.
"Damar, aku berangkat dulu ya. Tolong temani tante mu jika dia ingin pergi ya," ucap Harry.
"Iya Om, tenang saja aku pasti akan menemani tante," Damar melirik nakal ke arah Geya.
Sepeninggal Harry, Geya segera mencuci piring-piring kotor. Tiba-tiba Damar mendekapnya dari belakang.
__ADS_1
"Damar, tolong jangan begini,"
Geya berusaha menepis tangan Damar. Namun pria itu justru mempererat pelukannya dan menciumi tengkuknya membuat bulu judulnya berdiri.
"Jangan lakukan lagi, ini tidak boleh. Lepaskan aku!" teriak Geya.
Teriakannya justru membuat Damar semakin bersemangat. Ia gerakkan senjatanya yang telah menegang ke bagian belakang Geya sembari tangannya meremas dua gunung wanita itu. Bibirnya masih terus menelusuri tengkuk Geya. Wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya agar tidak menimbulkan suara ******* yang makin membuat Damar senang.
"Ough..."
Akhirnya ia tidak bisa menahan desahannya lagi. Perbuatan ini memang sangat terlarang. Namun tubuhnya sangat menikmati semuanya. Bahkan nalurinya menginginkan lebih.
"Enak ya," bisik Damar di dekat telinganya.
Damar mengambil kursi dan duduk di sana, ia menarik Geya ke dalam pangkuannya. Di cium nya bibirnya dengan rakus sembari tangannya mulai membuka pakaian wanita itu. Mereka bermain sangat panas. Tidak memperdulikan lagi tentang dosa. Sekali lagi mereka terjebak ke dalam kenikmatan sesaat.
☆☆☆
"Apa? Jadi dia bersama pria waktu itu?" tanya Arsen.
"Iya Bos. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Beri pria itu sedikit pelajaran. Bermain cantik, jangan sampai ada yang curiga," titah Arsen.
"Siap laksanakan, Bos,"
Panggilan berakhir. Arsen tersenyum penuh arti.
"Akh, kenapa aku selalu memikirkan gadis itu,"
Arsen merutuki dirinya sendiri.
"Tuan muda, ada nona Isabel di depan,"
ART memberi tahunya.
"Untuk apa lagi dia ke sini," gumamnya.
Arsen membuka pintu kamarnya.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia bukan siapa-siapa lagi untuk ku, jadi suruh wanita itu pergi," ucap Arsen.
"Tapi, Tuan Muda..."
Wanita itu tidak menyelesaikan kalimatnya saat menerima pelototan dari Arsen.
"Baik Tuan Muda, permisi,"
ART itu pergi dengan langkah seribu.
Arsen kembali berbaring di kamar mewahnya sembari memandang foto Asha di ponselnya.
"Arsen, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"
Isabel memaksa masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu, tidak sopan masuk sembarangan!"
Arsen marah sekali, ia sama sekali tidak suka cara Isabel. Dia yang sudah mengkhianati hubungan mereka dan sekarang ia pula yang memaksa ingin kembali.
"Aku sudah minta maaf, kenapa kamu masih saja memperlakukan aku begini? Aku yakin kamu masih mencintai ku kan?"
Isabel berusaha memeluk Arsen namun pria itu menepisnya dengan kasar.
"Aku sudah tidak mempunyai rasa sedikit pun dengan mu, semua lenyap di kala aku tahu kamu sudah berkhianat,"
Ada jilatan amarah dan rasa sakit dalam sorot mata Arsen. Ya, dia memang sangat mencintai Isabel kala itu. Tidak pernah ia rasakan cinta yang mendalam seperti kepadanya. Namun di kala ia sedang ingin melanjutkan ke hubungan yang lebih serius, kenyataan pahit harus ia terima. Isabel justru berselingkuh dengan musuh bebuyutannya.
"Jadi ini orang yang telah merampas mu dari ku?"
Isabel mengambil ponsel Arsen yang tergeletak di kasur. Foto Asha jelas terpampang di sana.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Sekali lagi aku katakan, jangan pernah datang lagi dalam hidup ku,"
Arsen mendorong Isabel dengan kasar keluar kamar, lalu di kuncinya pintu kamar agar wanita itu tidak kembali masuk.
"Awas kamu Arsen, akan aku buat wanita itu menderita," Ancam Isabel sembari terus menggedor pintu.
"Berani kamu menyentuh ujung rambutnya saja, aku buat kamu menyesal," teriak Arsen kesal.
Arsen melempar ponselnya ke kasur dengan kesal.
"Kurang ajar sekali dia, beraninya mengancam ku," ucap Arsen.
"Halo, kamu suruh anak buah mu mengawasi Asha. Jangan sampai kalian lengah, awas!" titah Arsen.
"Siap, Bos,"
"Satu lagi, laporkan apa saja yang ia lakukan," imbuh Arsen.
"Baik Bos. Oh iya pria bernama Erik itu sudah kamu beri pelajaran," lapornya.
"Bagus, ya sudah teruslah bekerja,"
Panggilan di putus. Arsen kembali sibuk dengan ponselnya.
☆☆☆
"Sebaiknya kita ke rumah sakit, kondisi mu cukup parah,"
Asha sangat kuatir melihat keadaan Erik. Ia sangat shock melihat pria itu di pukuli tanpa tahu apa masalah mereka. Mereka lalu pergi begitu saja saat pria itu sudah babak belur.
"Ke klinik terdekat saja, tubuh ku sakit sekali rasanya tidak kuat menyetir," jawab Erik.
"Tinggalkan saja di sini, kita naik taksi,"
Asha menyetop taksi yang lewat, tanpa peduli dirinya sudah menjadi tontonan kendaraan yang berlalu lalang karena pakaiannya.
Setelah mendapat taksi, ia segera membawa Erik ke rumah sakit terdekat.
"Siapa mereka sebenarnya? Apa kamu mengenal mereka?" tanya Asha.
__ADS_1
Erik menggeleng, ia sungguh tidak tahu siapa yang menyerangnya. Ia sama sekali merasa tidak punya musuh.
'Apa jangan-jangan orang-orang itu suruhan orang yang menyukai Asha ya?' batin Erik.