
"Kamu mau kemana, kita belum selesai?" tanya Harry.
Tentu saja Geya sudah tidak bergairah lagi, bisa-bisanya suaminya menyebut nama mantan istrinya saat mereka sedang bercinta. Itu benar-benar membuat Geya sakit hati.
"Tunggu Geya," cegah Harry.
Geya menghentikan aktivitasnya yang sedang mengenakan pakaiannya kembali.
"Ada apa lagi, aku sudah tidak bergairah," ucap Geya ketus.
"Sayang, kita belum selesai kenapa kamu menghentikan goyangan mu yang luar biasa itu. Kepala ku bisa pusing jika kamu melakukannya setengah-setengah begini," balas Harry lembut.
"Itu semua karena ulah mu sendiri, mengapa kamu sebut nama mantan istri mu saat kita bercinta? Apa kamu masih mengharapkannya? Apa goyangannya lebih baik dari ku sampai kamu tidak bisa melupakannya?" tanya Geya emosi.
"Apa iya begitu, kenapa aku tidak sadar," jawab Harry bingung.
"Maafkan aku ya, tentu saja goyangan mu yang paling mantap. Ayo kita lanjutkan," bujuk Harry.
Ia mulai mencumbu istrinya dan melepaskan pakaiannya kembali, awalnya Geya menolak. Namun rangsangan suaminya di semua bagian sensitifnya membuatnya pasrah dan tak berdaya, merekapun melanjutkan permainan mereka yang belum selesai.
♥︎♥︎♥︎
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Roki sudah berada di rumah Kia, ia mengajaknya untuk berangkat kerja bersama. Sepeninggal Reno dari kantor memang Roki lebih gencar mendekati Geya, mungkin karena merasa sudah tidak ada saingan sehingga ia bisa lebih leluasa mendekatinya.
"Bukannya sudah aku katakan, aku bisa berangkat sendiri," ucap Kia.
"Tidak apa-apa, toh kita searah. Ayo kita berangkat," ajak Roki.
Setelah berpamitan kepada bu Aida, mereka segera berangkat kerja. Dengan motor sport Roki membonceng Kia. Tidak sengaja Asha melihat adiknya berangkat kerja bersama seorang pria.
"Bunda, Kia berangkat bersama Roki ya?" tanya Asha.
"Iya, memangnya kenapa?" bu Aida balik bertanya.
"Tidak apa-apa, hanya saja Kia pernah cerita kata temannya Roki sudah memiliki tunangan. Aku takut kasus dengan Reno terulang, Bunda," jawab Asha.
__ADS_1
"Coba nanti Bunda ingatkan adik mu itu, kamu mau berangkat juga?" tanya bu Aida.
"Iya, Bun. Hari ini ada launching produk baru, sepertinya akan sampai malam. Kemungkinan akan telat pulangnya, Bun," jawab Asha.
"Kamu harus jaga kesehatan ya, apa tidak sebaiknya kita beli mobil saja biar sewaktu-waktu bisa di pakai. Bunda kuatir kalau model seperti kamu naik motor," ucap Bu Aida.
Asha tersenyum, ia merasa masih belum butuh mobil. Menggunakan motor baginya lebih praktis dan efisien, menghemat uang dan waktu juga.
"Nanti saja Bun, rasanya masih belum perlu. Aku lebih nyaman naik motor, lebih praktis untuk saat ini," tolak Kia.
Tiba-tiba ponselnya berdering, nomor tidak di kenal yang menghubunginya. Asha ragu untuk mengangkatnya, takutnya hanya orang iseng.
"Sayang, kenapa tidak di angkat?" tanya bu Aida.
"Nomor baru, Bun,"
"Ya diangkat dong, siapa tahu penting,"
Setelah berpikir akhirnya ia mengangkat juga.
"Halo Asha, ini aku Ari Sanjaya," sapa pria di seberang telepon.
"Apa Samantha sudah menghubungi mu?"
"Bu Samantha? Tidak, beliau belum menghubungi, memangnya ada apa ya?"
Asha bertanya-tanya apa hubungan produser ini dengan bosnya, mengapa ia berbicara tentang bu Samantha? Namun semua hanya ia pendam dalam hati saja.
"Tidak apa-apa, biarlah dia nanti yang menjelaskan. Ya sudah sampai ketemu nanti Asha,"
Pria itu memutus panggilan membuat Asha semakin bingung. Dia segera berpamitan kepada ibunya.
♥︎♥︎♥︎
Saat waktu makan siang tiba, Roki mengajak Kia makan bersama. Kia sudah yakin hari ini Roki akan menyatakan perasaannya, jadi Kia sudah merencanakan sesuatu untuk pria itu.
"Kia, aku tahu masalah mu dengan pak Reno baru saja selesai, namun aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Selama ini aku mengalah Karena tidak enak dengan pak Reno. Aku mencintai mu Kia, maukah kamu menjadi kekasih ku?" tanya Roki.
__ADS_1
"Aku dengar kamu sudah punya tunangan, aku tidak ingin merebut milik orang lain," jawab Kia tegas.
"Itu semua bohong, aku masih sendiri sampai saat ini. Mungkin selama ini ada yang tidak suka dengan hubungan kita, jadi dia menfitnah ku," sanggahnya.
"Apa kamu berani bersumpah?" tanya Kia.
"Tentu saja, aku bersumpah demi apapun jika aku memang belum punya tunangan," ucap Roki.
Kia tidak menyangka Roki akan senekad itu sampai berani bersumpah demi meyakinkannya. Padahal ia pernah membaca chat tunangannya saat dia meminjam charge kepadanya tempo hari, bahkan ia sudah mengirim nomor tunangannya ke ponselnya sendiri. Jangan tanya bagaimana caranya karena dia selalu banyak akal.
Kia sudah merekam apa yang dikatakan Roki barusan, ia segera mengirim ke nomor tunangan Roki. Dari tadi Kia menunggu, namun masih centang satu. Sampai waktu istirahat habis masih juga belum aktif, entah karena kehabisan baterai atau kehabisan data. Saat akan kembali bekerja ponselnya kemudian berbunyi, tunangan Roki meneleponnya.
"Halo ini siapa?" tanya wanita itu.
"Maaf ya, aku tidak ada maksud apa-apa. Aku adalah wanita yang bersama Roki dalam rekaman itu, nama ku Kia. Jika benar kamu punya hubungan dengannya, lebih baik ingatkan dia agar bisa menjaga hati. Aku hanya tidak ingin ada wanita yang terluka," jawab Kia.
"Kami sudah bertunangan sejak setahun lalu, dia selalu datang setiap minggu kesini dan mengajak jalan. Selama ini dia begitu baik, aku tidak menyangka dia sudah merayu gadis lain di sana," ucap wanita itu sepertinya menangis.
"Sabar ya, aku hanya ingin memberitahu mu bagaimana sikapnya kepada ku. Aku tidak ingin ada salah paham, aku tidak mungkin menerimanya. Sekarang terserah kepada mu, Semoga keputusan yang diambil adalah yang terbaik," ucap Kia.
Kia tidak bisa mengobrol terlalu lama karena harus segera bekerja kembali. Pekerjaannya sudah selesai, sekarang terserah mereka bagaimana menyelesaikannya. Sebenarnya dia bisa saja langsung bercerita kepada tunangan Roki tentang sikap Roki kepadanya namun ia sadar tanpa bukti wanita itu pasti tidak akan percaya.
"Siapa yang menelepon?" tanya Sisil lirih.
"Tunangan Roki," jawab Kia.
"Apa? Dari mana bisa dapat nomornya?" tanya Sisil tak percaya.
"Kia gitu loh, apa sih yang tidak bisa, hehehe,"
Sisil spontan langsung tertawa melihat tingkah Kia.
"Lalu apa katanya? Apa dia akan memutuskan Roki?" tanya Sisil lagi.
Belum sempat Kia menjawab, Roki menghampiri mereka.
"Kia, nanti kita pulang bareng ya," ucap Roki lalu segera pergi meninggalkan mereka yang masih terkejut dengan kehadirannya tiba-tiba.
__ADS_1
Kia dan Sisil saling berpandangan, banyak pertanyaan dalam benak mereka. Melihat sikap Roki yang ceria ada beberapa kemungkinan, pertama mungkin tunangannya belum menghubunginya, kedua tunangannya mungkin memaafkannya, ketiga tunangannya memutuskannya namun justru itu yang memang Roki inginkan.