
Satu minggu kemudian.
Kia sudah pulih dari lukanya, ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Teman sekantornya begitu senang melihatnya masuk kerja kembali, terutama Sisil sahabat terbaik yang setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri menjenguknya. Roki juga begitu perhatian terhadapnya, namun kejadian dengan Reno masih membuatnya trauma, Kia menolak Roki secara halus. Namun ternyata dia pria yang pantang menyerah dan masih selalu peduli terhadap Kia.
Hari ini Kia dan Asha seperti biasa akan berangkat kerja, bu Aida sedang sibuk melayani pembeli bersama seorang karyawannya. Tiba-tiba kurir datang mengantar paket yang sepertinya kertas karena sangat tipis pengemasannya.
"Benar rumah Bu Aida Anindya ya?" tanya kurir.
"Oh iya, itu bunda saya sedang melayani pembeli. Saya putrinya," jawab Asha mengambil paket dari kurir.
Setelah di foto sebagai bukti telah di terima, kurir bergegas pergi. Asha melihat nama pengirimnya, Harry Prakoso itu berarti dari ayahnya. Asha dan adiknya bertatapan, mereka segera membukanya. Ibu Aida yang melihat ekspresi putrinya seperti gelisah pun segera menghampiri.
"Ada apa? Siapa yang mengirim?" tanya ibu mereka.
"Ayah," jawab Kia sambil terus memperhatikan Asha membukanya.
Undangan Pernikahan
Harry Prakoso dan Geya Jovanka
Mata ketiganya membulat, namun bu Aida kemudian memilih masuk ke dalam rumah. Mereka tahu ibunya pasti merasa sedih, baru saja 3 hari yang lalu mereka resmi bercerai sekarang ayahnya justru akan menikahi selingkuhannya. Mereka saya rasanya belum bisa percaya mendapat undangan ini.
"Bunda sabar ya, jangan pernah memikirkan mereka lagi. Justru mereka mengirim undangan ini untuk membuat kita sedih, jadi jangan biarkan mereka berhasil dengan tujuannya," hibur Asha.
"Iya Bunda, kita selalu ada untuk Bunda. Aku benar-benar kecewa kepada ayah, bukannya mencari tahu keberadaan kita dan meminta maaf dia justru akan menikahi wanita itu. Kalau tidak ingat kebaikannya, ingin rasanya aku menikam ayah," sahut Kia.
"Terima kasih ya putri ku Sayang, bunda hanya tidak menyangka akan secepat ini. Bunda hanya perlu waktu saja untuk terbiasa, kehadiran kalian adalah penyemangat Bunda," bu Aida memeluk kedua putrinya dengan perasaan haru.
Pernikahan Ayahnya tinggal beberapa hari lagi, Kia dan Asha sedang memikirkan sesuatu namun kehadiran bundanya membuat mereka menunda membicarakannya. Setelah ibunya sudah terlihat tenang, mereka segera berpamitan untuk berangkat kerja.
♥︎♥︎♥︎
Asha segera melajukan motornya membelah jalanan yang ramai dengan orang yang juga sedang berangkat kerja dan anak sekolah, suara dering ponsel yang terus menerus membuatnya tidak terlalu fokus. Ia memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan untuk menerima telepon, namun sebuah mobil menyeruduknya dari belakang. Beruntung keduanya melajukan kendaraan sama pelan, sehingga tidak sampai jatuh dan terluka.
Asha yang merasa bersalah karena kurang hati-hati, segera turun menghampiri mobil itu dan berniat meminta maaf. Ia melepas helm dan kaca Matanya. Ia mengetuk jendela mobil, seorang pria dewasa berusia sekitar 40 tahun keatas menatapnya tanpa berkedip, padahal di sebelahnya duduk seorang wanita yang kemungkinan besar adalah istrinya.
__ADS_1
"Pak maaf ya, saya tidak sengaja. Apa ada yang rusak?" tanya Asha membuat pria itu tersentak dari lamunannya.
Pria itu tersenyum, ia turun dan melihat kondisi mobilnya.
"Sepertinya tidak apa-apa, santai saja. Aku juga bersalah, tadi kurang fokus," jawabnya ramah.
Karena terburu-buru Asha memberikan kartu namanya.
"Maaf saya sedang buru-buru, jika ada yang perlu di perbaiki bisa menghubungi saya," ucap Asha sembari memberikan kartu namanya.
Setelah berpamitan, Asha melajukan kendaraannya kembali. Ia memutuskan langsung ke kantor setelah tahu yang menghubunginya tadi adalah Jimmy. 20 menit kemudian ia sampai ke kantor.
"Susah sekali sih di hubungi, Asha," ucap Jimmy.
"Maaf Bang, tadi aku di jalan. Saat aku mau angkat telepon dan menepi malah di seruduk mobil dari belakang," jawab Asha jujur.
"Tapi kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saya, untung sama-sama pelan,"
Setelah tahu Asha tidak terluka Jimmy segera menyuruh Asha untuk bersiap. Acara mereka hari ini padat jadi harus segera di selesaikan.
Semua kru dan model istirahat untuk makan dan sekadar meluruskan punggung. Asha terlihat menerima telepon dari bu Samantha, walau jarak mereka jauh namun masih sering berkomunikasi. Bu Samantha sebenarnya ingin Asha menemaninya mengurus bisnisnya di luar negeri namun ia menolaknya dengan halus, ia tidak mungkin meninggalkan ibu dan adiknya di sini.
"Asha, kemari," panggil Jimmy.
Asha segera mengakhiri obrolannya di telepon dan menghampiri Jimmy.
"Ada apa, Bang?" tanyanya.
Jimmy tersenyum penuh arti, membuat Asha sedikit bingung.
"Abang kesambet setan apa sih, di tanya bukannya jawab justru senyum-senyum sendiri," ucap Asha.
"Aku hanya senang untuk mu, ada kabar baik yang ingin aku beri tahukan," balas Jimmy.
__ADS_1
"Kabar baik untuk ku, apa Bang?" tanyanya penasaran.
"Coba tebak,"
"Pakai tebak-tebakan segala, nyerah deh,"
Jimmy tertawa melihat tingkah Asha yang menggemaskan.
"Ada produser yang menawari kamu untuk bermain film,"
Jimmy memberitahunya dengan antusias, matanya terlihat berbinar-biar.
"Apa? Aku tidak bisa Bang, aku kan sudah di kontrak selama setahun oleh perusahaan bu Samantha," ucap Asha tenang.
"Aku rasa dia pasti mengizinkan selama tidak mengganggu pemotretan. Kalian kan berhubungan baik, coba saja di bicarakan," balas Jimmy.
"Tidak perlu Bang, lebih baik aku fokus dengan karir ku sebagai model. Aku tidak ingin merusak hubungan ku dengan bu Samantha," tolak Asha.
Jimmy menyayangkan sikap Asha, padahal ini adalah kesempatan untuknya menjadi semakin terkenal.
"Sayang sekali, ini adalah kesempatan emas. Kamu bisa semakin terkenal dan makin banyak job juga," bujuk Jimmy.
"Main film pasti butuh banyak waktu, aku ingin jadi model profesional. Sementara aku masih belum ingin membagi waktu dengan pekerjaan yang lain," ucap Asha.
"Baiklah jika memang itu keputusan mu, aku menghargai itu. Tapi aku mohon pertimbangkan lagi ya," rayu Jimmy pantang menyerah.
"Ehm, katanya menghargai tapi tetap saja membujuk ku," gumam Asha membuat Jimmy tertawa.
Asha kembali melanjutkan makan siangnya yang tertunda karena bu Samantha dan Jimmy. Nasi kotak dengan lauk rendang daging, telur asin dan sambal goreng ampela sudah masuk di perutnya. Jimmy menghampirinya dengan setengah berlari.
"Ada apa sih Bang?" tanya Asha.
"Produser itu ingin berbicara langusng dengan mu," bisik Jimmy.
"Sudah Abang saja, aku belum ingin main film," tolak Asha.
__ADS_1
Setelah dirayu akhirnya Asha mau menerimanya. Pria itu memperkenalkan diri bernama Ari Sanjaya, setelah berbasa-basi pria itu meminta untuk vidio call.
"Hah, ternyata pria itu..."