
Malam hari, pukul 19.00.
"Bang aku pulang dulu ya, sudah malam," pamit Asha.
"Apa tidak sebaiknya aku antar saja, biarkan motor mu di sini. Besok pagi aku akan menjemput mu," ucap Jimmy.
"Tidak perlu Bang, aku tidak ingin merepotkan. Toh ini masih jam 7 malam, jalanan pasti masih ramai," tolak Asha.
"Tapi kamu melewati area yang tidak begitu aman, Asha,"
Jimmy sangat kuatir sekali, Asha adalah satu satu model kesayangannya. Telah banyak perusahaan yang ingin meminangnya, namun harus dia tolak karena Asha telah menandatangani kontrak eksklusif dengan perusahaan bu Samantha. Sifat Asha yang lembut dan ramah kepada siapa saja merupakan hal yang paling di sukai Jimmy.
"Abang jangan kuatir, aku akan baik-baik saja. Aku pulang dulu ya, sampai ketemu besok,"
Belum juga Jimmy menjawab, Asha sudah berlalu dari sana.
"Asha, tunggu," teriak Jimmy, namun Asha sudah tidak mendengarnya.
"Aduh, di saat begini justru mau ke toilet," ucap Jimmy.
Jimmy bergegas ke toilet, secepat kilat dia melakukan kegiatannya. Ia langsung menyusul Asha ke parkiran, namun gadis itu telah hilang dari pandangan mata.
"Cepat sekali dia, aku harap dia baik-baik saja," ucap Jimmy.
Jimmy kembali masuk ke ruangannya, melanjutkan pekerjaannya agar bisa segera pulang. Sementara Asha mengendarai motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang masih sangat ramai. Ia berhenti sebentar di pom untuk mengisi bensin.
"Kak, beli jualan ku dong," seorang anak kecil menghampirinya.
Asha menengok ke arah sumber suara, seorang anak perempuan berusia sekitar 7 sampai 9 tahunan menata ke arahnya. Ia memegang berbagai jenis jajanan, ada tahu petis, telur puyuh matang, kerupuk, permen, tisu dan banyak lagi yang lain. Mata Asha mulai berair, ia tidak bisa membayangkan kehidupan anak ini, di usia yang masih sangat muda sudah harus bekerja bahkan sampai malam begini. Ia merasa sangat beruntung di lahirkan dalam keluarga yang berkecukupan sejak kecil.
"Sebentar ya, kakak isi bensin dulu. Kamu tunggu di sana dulu, nanti kakak beli," ucap Asha.
Anak itu menurut, seluas senyum tersungging dari bibirnya yang mungil. Terlihat jelas matanya membangun secercah harapan. Kata-kata "beli" adalah hal yang paling diharapkannya.
"Sini, duduk dulu," pinta Asha setelah selesai isi bensin.
"Iya, Kakak mau beli yang mana?" tanya anak itu senang.
"Nanti saja. Rumah kamu di mana? Kenapa masih jualan sudah malam begini?" tanya Asha.
__ADS_1
"Rumah ku dekat, di belakang pom ini Kak. Aku tidak berani pulang karena jualan ku masih laku sedikit, ayah ku pasti memarahi ku," jawabnya.
Asha menghela napas panjang, ia begitu miris di zaman modern seperti ini masih ada orang tua yang tega memanfaatkan anaknya untuk membantu mereka mencari nafkah. Seorang anak yang harusnya hanya sibuk belajar justru telah di bebani oleh tanggung jawab mencari uang.
"Nama kamu siapa?"
"Luna, Kak,"
"Biasanya dapat berapa sehari?"
"Tidak tentu, pernah hanya 20 ribu saat sepi. Paling banyak 150 ribu, tapi jarang sekali sekarang,"
Asha segera mengambil beberapa dagangannya, dia mengambil jajanan yang keluarganya sukai.
"Ini semua berapa totalnya, Luna?" tanya Asha.
Luna mulai menghitung semuanya perlahan, ternyata gadis sekecil ini sudah pandai berhitung.
"Semua 90 ribu, Kak," jawab Luna.
"Apa tidak boleh kurang?" goda Asha.
Luna ternyata baik, padahal keuntungan yang ia dapat tidak banyak tapi masih mau memberinya potongan harga.
"Ini kakak ada 300 ribu, sisanya untuk kamu ya. Lebih baik kamu segera pulang karena sudah malam, berbahaya untuk anak kecil seperti kamu," ucap Asha.
"Tidak kak, ini terlalu banyak. Aku tidak mau menerima yang bukan hak ku," tolak Luna.
Asha tidak menyangka gadis kecil ini ternyata punya komitmen yang baik.
"Setiap kebaikan pasti akan selalu terbalas, mungkin ini rezeki yang Tuhan titipkan kepada kakak karena kamu juga pernah melakukan kebaikan terhadap orang lain, jadi jangan di tolak ya," ucap Asha.
Asha tahu Luna adalah anak yang baik, ia pasti sering membantu orang juga. Anak itu terlihat berpikir sejenak, lalu menerima pemberian Asha.
"Terima kasih ya Kak, insyaallah aku juga akan selalu berbuat baik," balas Luna.
Asha melihat Luna melangkah pulang dari kejauhan, tawaran untuk mengantarnya pulang di tolak ya dengan halus. Asha hanya bisa mendoakan anak itu supaya hidupnya bisa normal seperti anak lain. Sebelum melanjutkan perjalanan Asha menyempatkan diri buang air kecil di toilet pom bensin.
Baru beberapa ratus meter berkendara, ia di hadang beberapa pria dengan penampilan seperti preman. Ia terjatuh karena pria itu memegang motornya yang berjalan pelan.
__ADS_1
"Aduh," rintih Asha.
Ia memegang lututnya yang sakit karena membentur aspal jalan, lima orang pria berdiri mengelilinginya.
"Kalian mau apa?" tanya Asha berusaha tetap tenang.
Para pria itu tertawa penuh kemenangan membuat nyali Asha menciut, tempat ini sedikit gelap dan sepi menambah kesan menakutkan.
"Serahkan semua milik kamu," hardisk seorang pria.
Dia mulai merampas tas Asha namun gadis itu mempertahankannya, semua hal penting ada di dalamnya.
"Kalian boleh ambil motor ku, tapi jangan tas ini karena semua pekerjaan ku ada di sini," ucap Asha.
"Ya sudah, biarkan saja dia sudah merelakan motornya untuk kita ambil," ucap seorang pria muda berwajah tampan dengan rambut berwarna blonde.
"Jangan dong, di tasnya pasti banyak barang berharga," pria yang tadi masih tetap ingin mengambil tasnya.
"Sudahlah, dia bilang di sana ada semua pekerjaannya. Motor ini masih baru pasti kita dapat uang banyak," balas pria berambut blonde.
Ternyata seorang kriminal juga punya hati baik, masih memikirkan tentang korbannya. Saat keduanya tengah berdebat, datang seorang anak kecil menghampiri mereka.
"Luna," panggil Asha.
Semua pria spontan melihat Luna dan Asha bergantian.
"Luna, apa kamu kenal wanita ini? Kenapa kamu tidak berjualan dan justru ada di sini?" tanya pria berambut blonde.
Asha yang takut Luna kenapa-kenapa segera merangkul gadis kecil itu untuk melindunginya.
"Tolong jangan apa-apaan dia, kalian ambil saja motor ku. Biarkan kami pergi, aku janji tidak akan lapor polisi," pinta Asha mengiba.
Ucapan Asha membuat semuanya tercengang, apa hubungan Luna dengannya sehingga dia mengkuatirkannya?
"Apa wanita ini masih saudara mu, Indra?" tanya pria itu kepada pria berambut blonde.
"Tidak, mana mungkin aku membegalnya jika dia keluarga ku," jawabnya.
"Kak, tolong lepaskan kakak ini. Dia sudah baik kepada ku, dia yang menolong ku. Aku mohon berhentilah berbuat jahat, bagaimana jika suatu saat keluarga kita yang di begal, bagaimana perasaan kakak nanti," ucap Luna sambil menangis.
__ADS_1