
Rendi tidak menyangka jika perasaannya akan berbalas, ia sangat senang sampai ingin terbang ke angkasa.
"Benarkah, Kia?" tanyanya masih tak percaya.
"Iya Ren, aku baru menyadarinya," jawab Kia.
"Berarti hari ini kita mulai jadian?" tanya Rendi lagi.
Kia mengangguk sembari tersenyum, ia menikmati momen ketika Rendi menggenggam tangannya dengan lembut. Rinai hujan yang semakin deras membuat mereka semakin mendekatkan diri. Kia bersandar di pundak kokoh kekasihnya, mereka melihat air hujan yang turun dengan perasaan berbunga-bunga.
♥︎♥︎♥︎
Keesokan harinya.
"Papa mau kemana pagi-pagi begini, penampilannya juga rapi sekali?" tanya Rendi.
"Aku akan ke rumah gadis itu, aku ingin bertemu keluarganya," jawab pak Fredy.
"Apa? Papa serius?"
"Tentu saja, kapan aku tidak serius? Aku benar-benar menginginkan gadis itu menjadi mama mu,"
"Tapi Pa... sebaiknya jangan tergesa-gesa, lebih baik pastikan dulu gadis itu juga menyukai Papa,"
Rendi tidak berani mengatakan jika dia adalah kekasih wanita yang ayahnya sukai. Ia tidak tega melukai perasaan ayahnya, tapi ia juga tidak rela kehilangan gadis yang ia cintai dan melihatnya bersanding dengan pria lain, bahkan jika pria itu papanya sendiri.
"Sudahlah, kamu jangan terlalu ikut campur urusan papa. Sebaiknya kamu juga harus segera mencari jodoh, usia mu sudah cukup untuk menikah. Papa juga ingin segera menggendong cucu dari kamu," ucap Pak Fredy.
"Rendi hanya tidak ingin Papa kecewa, kalau tidak mau dengar ya sudah, terserah Papa saja,"
Rendi segera meninggalkan ayahnya yang masih sibuk membetulkan jasnya, ia merasa kesal karena ucapannya tidak di dengar. Sebenarnya ia hanya ingin mengulur waktu sambil memikirkan cara agar ayahnya berhenti mengharapkan Kia. Bagaimanapun menurutnya mereka berdua tidak cocok menjadi pasangan karena usia yang terpaut jauh.
♥︎♥︎♥︎
Beberapa saat kemudian.
"Selamat pagi, apa benar ini rumah Kia?" tanya pak Fredy berbasa basi.
"Oh benar, saya ibunya. Kia ada di dalam rumah, ayo silahkan masuk,"
Bu Aida mempersilahkan tamunya duduk, ia memanggil Kia yang sedang asyik mengobrol dengan kakaknya. Hari ini mereka libur, jadi kegiatan mereka hanya bersantai.
"Kia, ada yang mencari mu. Bunda sudah menyuruhnya masuk, cepat segera temui,"
"Siapa Bun? Rendi?"
"Bukan, orangnya sudah tua,"
__ADS_1
Kia dan Asha saling pandang, mereka memutuskan untuk mengintip.
"Siapa itu, Kia?" tanya Asha.
"Itu pak Fredy, salah seorang nasabah di kantor ku. Tapi untuk apa dia kesini ya?"
"Mungkin ada urusan, sudah sana temui dulu," jawab Asha.
Kia akhirnya melangkah keluar untuk menemui tamunya.
"Halo, Kia," sapa pak Fredy.
"Iya Pak, silahkan di minum dan di makan kue nya," ucap Kia.
"Iya, terima kasih ya maaf sudah merepotkan kamu," balas Pak Fredy.
"Tidak repot kok Pak, kalau boleh tahu ada apa ya pak Fredy sampai datang ke rumah? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Kia.
"Ehm... sebenarnya aku ingin..."
"Maaf mengganggu, Kia sini sebentar," panggil Asha.
Kia menoleh kepada kakaknya, kenapa dia memanggil saat ada tamu ini. Apakah sepenting itu?
'Wah benar-benar keluarga yang sempurna, Kia dan saudarinya serta ibunya semua cantik dan menarik' batin pak Fredy.
Kia kembali masuk ke dalam kamar dan menghampiri kakaknya.
"Ada apa sih Kak?" tanya Kia.
"Dari tadi ponsel mu berdering, Rendi ingin berbicara. Maaf ya tadi aku angkat, karena takutnya penting," jawab Asha.
"Hah, Rendi telepon sepagi ini? Ada apa ya?" tanya Kia.
Ia kemudian mengambil ponselnya, ternyata panggilan masih berlangsung.
"Halo Ren, ada apa?"
"Apa seorang pria sedang ada di rumah mu sekarang?"
"Iya, darimana kamu tahu? Dia salah satu nasabah ku namanya pak Fredy, apa kamu kenal?"
"Dia papa ku, Kia,"
"Apa? Kok kamu tidak pernah cerita sih?"
"Aku bingung harus menjelaskan bagaimana kepada mu,"
__ADS_1
Rendi lalu menceritakan apa yang terjadi, tentang keinginan ayahnya mempersunting Kia dan semua hal yang berhubungan dengan pria itu. Kia menyimak dengan seksama penjelasan dari kekasihnya itu.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang? Lalu aku harus bagaimana ini?" tanya Kia sedih.
Tentu ia tidak ingin melukai hati pria yang ternyata ayah dari kekasihnya itu, tapi dia juga tidak mungkin menerima pinangannya. Sekarang Kia berada di posisi yang sulit, sikapnya akan mempengaruhi hubungannya dengan Rendi untuk kedepannya.
Rendi belum punya solusi untuk masalah mereka, ia menyarankan Kia untuk bisa mengulur waktu sembari menunggu ia mendapatkan solusi yang terbaik. Panggilan pun berakhir.
"Aduh Kak, aku harus bagaimana ini? Aku harus menjawab apa jika ternyata yang di katakan Rendi itu benar?" tanya Kia.
"Jujur adalah yang terbaik, tapi taruhannya adalah hubungan mu dengan Rendi. Sebaiknya sementara ikuti saja saran dari Rendi," jawab Asha.
"Baiklah jika memang itu yang terbaik saat ini," ucap Kia.
Gadis itu melangkah perlahan menemui pak Fredy kembali, ia berusaha bersikap tenang seolah belum tahu apa tujuan pria itu datang ke rumahnya.
"Maaf ya Pak, tadi ada telepon penting," ucap Kia.
"Tidak apa-apa, saya juga tidak buru-buru kok," jawab pria itu.
"Bapak sudah sarapan? Bunda saya masakannya enak sekali, saya ambilkan ya Pak,"
Kia mencoba mengalihkan perhatian pria itu agar lupa dengan tujuannya kesana.
"Tidak perlu Kia, aku..."
Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Kia sudah menghilang di balik pintu. Terpaksa pria itu menunggunya kembali.
"Ini Pak, silahkan di makan. Harus di habiskan ya, supaya aku dan bunda merasa senang,"
Kia memberikan sepiring nasi dengan berbagai lauk, ada rendang daging, ayam bakar, telur balado dan sayur lodeh plus peyek udang.
"Aduh banyak sekali, bagaimana aku harus menghabiskannya ini,"
Pak Fredy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, namun ia tidak ingin mengecewakan gadis pujaannya. Ia mulai mengunyah makanannya, ternyata rasanya memang benar-benar nikmat. Tapi tentu saja itu terlalu banyak untuk dirinya yang terbiasa makan sedikit, ia benar-benar kenyang sampai bersendawa.
Kia ingin tertawa tapi ia tahan sekuat tenaga, ia berharap ia tidak dosa karena sudah mengerjai orang tua. Namun ia terpaksa karena hanya itu ide yang terlintas di kepalanya.
"Masakannya memang enak sekali, sekarang aku merasa sangat kenyang dan mengantuk, Kia," ucap pria itu.
"Hahaha... maaf ya Pak, saya hanya ingin Bapak merasakan masakan bunda saya,"
Kia tidak bisa menahan tawanya lagi, beruntung ia pandai mencari alasan. Sedangkan pak Fredy begitu senang bisa membuat gadis itu tertawa riang, tanpa ia sadar jika Kia sedang menertawai dirinya.
"Kia, aku ingin bicara serius dengan mu," ucap pria itu.
'Hah? Habislah aku, kenapa ayah Rendi masih ingin bicara hal itu? Aku pikir dia akan lupa' batin Kia.
__ADS_1
"Ya Pak, ada apa?" tanya Kia, begitu tegang.