
Beberapa saat kemudian.
Tring... tring... tring...
Ponsel Rendy tidak berhenti berdering. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Tampak nomor baru seperti nomor kantor atau rumah yang menghubunginya.
"Iya, halo," ia menerima panggilan tersebut.
"Benar dengan keluarga pak Fredy?" tanya seorang wanita di seberang telepon.
"Iya benar, saya anaknya. Ada apa ya?"
"Ayah anda berusaha bunuh diri lagi, ia menyayat pergelangan tangannya. Cepat anda kesini,"
Tubuh Rendy rasanya lemas, ia terhuyung hampir saja roboh jika saya tidak berpegangan pada kursi di sampingnya. Ia merasa bersalah telah meninggalkan ayahnya sendiri untuk menemui Kia. Ia segera berlari menuju rumah sakit.
"Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" tanya Rendy saat baru tiba.
"Beliau kritis, tolong segera tangani ini untuk mendapatkan tindakan,"
Dokter menyerahkan kertas yang harus ia tanda tangani. Tanpa membaca lagi ia segera tanda tangan. Dia begitu kuatir akan kondisi ayahnya.
Tut... tut... tut...
Rendy mencoba menghubungi Kia, namun sama sekali tidak di angkat. Entah memang sengaja atau gadis itu sedang bekerja. Ia mencoba hingga puluhan kali namun tetap tidak ada respon.
"Aku tidak rela jika harus kehilangan ayah ku, aku akan membuat Kia bersedia menikah dengan ayah," ucap Rendy.
Dia segera mengirim pesan kepada gadis itu.
[Ayah ku mencoba bunuh diri lagi, tolong kamu cepat kesini. Demi nyawa ayah ku, aku rela berlutut dan melakukan apa saja untuk mu. Aku akan bunuh diri juga jika kamu tidak kesini.]
Rendy menunggu dengan sabar, namun Kia bahkan belum membaca pesannya. Mungkin dia sedang bekerja, tapi tidak mungkin dia datang ke kantornya lagi. Ia tidak mau ayahnya sampai berbuat nekad lagi.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"
Rendy terduduk lesu di bangku ruang tunggu. Sudah satu jam berlalu namun dokter belum juga keluar, dirinya semakin cemas.
"Pak Rendy, mohon maaf ayah anda tidak bisa terselamatkan. Kita sudah mengupayakan yang terbaik namun sepertinya Tuhan berkehendak lain," ucap dokter itu.
"Tidak... tidak mungkin ayah saya meninggal, kalian semua bohong. Mana ayah saya..."
__ADS_1
Rendy begitu terpukul, ia tidak bisa menghadapi kenyataan. Dirinya bahkan tidak ada di samping ayahnya saat dirinya menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia menangis meraung-raung hingga harus mendapatkan suntikan penenang dari dokter.
Pihak rumah sakit segera menghubungi anggota keluarga mereka yang lain untuk mengurus semuanya, karena Rendy saat ini sedang tidak bisa di ajak berbicara. Kondisi mentalnya benar-benar rapuh.
"Kenapa tidak menghubungi kami dari awal, Dok?" tanya paman Rendy.
"Tadinya sudah ada pak Rendy yang menangani, namun sepertinya beliau saat ini sedang terpukul dan tidak bisa di ajak bicara. Ini kita juga tahu nomor Bapak dari ponsel pak Rendy," jawab dokter itu.
"Baiklah, kita segera kesana,"
Paman Rendy segera ke rumah sakit, mereka segera mengurus pemakaman pak Fredy di rumahnya. Semua kerabat, teman dan rekan bisnis turut berduka. Mereka rasanya tidak percaya jika pak Fredy telah tiada. Sementara Rendy setelah sadar hanya berteriak-teriak dan mengamuk membuatnya harus di suntik penenang kembali.
♥︎♥︎♥︎
Sementara itu di kantor Kia.
Gadis itu baru saja selesai bekerja, ia segera mengambil tasnya di dalam loker dan memeriksa ponselnya. Matanya membulat sempurna saat membaca pesan dari Rendy. Ia tidak menyangka situasi menjadi segawat itu.
"Sisil, tolong ikut aku ke rumah sakit," pinta Kia.
"Ayahnya Rendy berusaha bunuh diri lagi, Rendy juga mengancam akan bunuh diri juga jika aku tak datang," jelas Kia.
"Separah itu kah, Kia?"
Kia berlari setelah sampai di rumah sakit. Ia segera menuju pusat informasi.
"Maaf, pasien atas nama pak Fredy di rawat di mana ya?" tanya Kia.
"Pak Fredy siapa ya? Keluhannya apa?"
Kia sedikit bingung, karena Rendy juga tidak memberitahunya. Bahkan ponsel pria itu sekarang tidak bisa di hubungi.
"Itu pak Fredy yang bunuh diri," jawab Kia.
"Oh, ayahnya pak Rendy. Beliau sudah di bawa keluarganya yang lain, katanya akan segera di makamkan," jawab petugas itu.
"Ma- maksudnya di makamkan bagaimana? Apa beliau tidak selamat?" tanya Kia tak percaya.
"Iya, beliau meninggal dunia,"
Kia ambruk ke lantai, beruntung Sisil segera membantunya untuk duduk di kursi.
__ADS_1
"Sisil, kamu dengar kan apa kata petugas itu. Ayahnya Rendy sudah tiada," Kia berkata dengan tatapan kosong, namun cairan bening terus mengalir dari sudut matanya.
"Sabar Kia, mungkin ini memang sudah suratan takdir. Kamu harus kuat ya,"
Sisil mengusap punggung Kia perlahan, ia tahu sahabatnya sedang rapuh. Ia berusaha menghiburnya.
"Rendy pasti menyalahkan diri ku atas kematian ayahnya ini, Sil," ucap Kia.
"Itu bukan salah mu, semua sudah kuasa Allah. Berhenti menghakimi diri mu sendiri, Kia," balas Sisil.
"Jika Ibu mau bertemu pak Rendy silahkan ikut kami, beliau masih di sini. Namun jika mentalnya tetap belum stabil, sepertinya akan segera di rawat di rumah sakit jiwa," jelas petugas itu.
"Apa, rumah sakit jiwa? Memangnya Rendy kenapa?" tanya Kia.
"Beliau sangat terpukul dengan kepergian pak Fredy, pak Rendy tidak dapat menerima kenyataan,"
Kia membeku untuk sesaat, rasa bersalahnya kian mendalam. Kalau saja ia membuka ponselnya lebih cepat, kalau saja ia menuruti ucapan Rendy mungkin tidak terjadi seperti ini.
"Ini semua salah ku," ucap Kia sembari terus menangis.
"Sudahlah Kia, sebaiknya kita sekarang melihat kondisi Rendy dulu,"
Kia tersadar dari kesedihannya. Ia menuruti ucapan Sisil. Mereka segera ke ruangan Rendy di rawat.
"Dia masih tidur kok, tidak mengamuk," ucap Kia.
"Dia sudah 2x di suntik penenang, dari tadi hanya berteriak dan berusaha melukai orang-orang sekitar," jelasnya.
"Kasihan sekali Rendy," ucap Sisil.
Kia hanya bisa menangis, menatap pria itu dari balik kaca.
"Bolehkah kami masuk?" tanya Kia.
"Tapi tolong jangan berisik ya, nanti bahaya jika pasien terbangun,"
Kia dan Sisil mengangguk bersamaan. Mereka mendekat. Kia ingin mengusap wajah pria itu namun takut terbangun, dia hanya bisa menangis tertahan. Tiba-tiba saja mata Rendy terbuka dan melotot ke arahnya.
"Pembunuh, pembunuh, pergi dari sini. Kamu sudah membunuh ayah ku, aku akan membalas mu,"
Kata-kata itu selalu di ulang Rendy sambil berusaha menggapai tubuh Kia, beruntung petugas tadi berhasil membawa keluar mereka dengan selamat. Rendy tampak menggedor-gedor pintu dan tetap berteriak. Petugas pun berdatangan membantu menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Rendy, ini aku Kia. Maafkan aku Rendy..."
Pria itu diam seolah mengerti yang Kia ucapkan. Namun itu hanya sebentar, menit kemudian dia kembali memberontak dan berteriak kembali.