Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 41 Undangan Makan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Asha hari ini sudah boleh pulang ke rumah, selama sakit banyak sekali yang menjenguknya. Bella dan Jimmy adalah yang paling sering datang berkunjung, sebenarnya hari ini mereka juga bermaksud mengantarkan Asha pulang. Namun gadis itu menolaknya karena tidak ingin merepotkan mereka.


"Sayang kita pesan taksi online saja, ini semua sudah selesai di bereskan," ucap Bu Aida.


Tok... tok... tok...


Pintu di ketuk perlahan, Kia segera membukakannya.


"Loh Rendi, kok kamu ada di sini?"


Semua menoleh ke arah pintu, ternyata pria itu sudah berdiri di depan pintu kamar sembari tersenyum.


"Aku kesini untuk mengantarkan semua pulang ke rumah," ucap Rendi.


"Astaga, kamu kok repot sekali sih. Terima kasih ya Rendi, sudah baik sekali kepada kami," balas bu Aida.


Rendi membawakan semua barang-barang mereka ke dalam mobilnya. Ia mengantarkan mereka dengan selamat.


♥︎♥︎♥︎


Beberapa hari kemudian.


Kia baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya, ia membereskan barang-barangnya sebelum bergegas pulang.


"Kia kamu tahu tidak, pria tua yang baru keluar dari sini itu mengambil uang dalam jumlah besar," ucap Sisil.


"Yang mana? Pak Fredy?" tanya Kia.


"Iya, itu orangnya masih di depan. Sepertinya dia kaya sekali, tapi sayang sudah tidak punya istri,"


"Sok tahu kamu, sudah seperti detektif saja. Ya kalau kamu tertarik, kamu dekati saja,"


"Sialan, walaupun dia kaya aku tidak mau ya nikah dengan kakek-kakek,"


Keduanya tertawa, sebelum akhirnya Kia memutuskan pulang duluan.


"Selamat sore, Pak. Kok masih di sini, apa sedang menunggu orang?"


"Ah Nona Kia, iya ini sedang menunggu seseorang tapi belum datang juga,"


"Tunggu di dalam saja, lebih aman. Saya duluan ya, Pak Fredy,"


Kia tersenyum lalu menuju ke parkiran motor. Baru saja menstarter motornya terdengar teriakan seseorang.


"Tolong... tolong, rampok," ternyata pak Fredy yang berteriak, tas yang tadi di pegangnya telah berpindah tangan.


Dengan keberanian tingkat dewa Kia segera melajukan motornya menabrak perampok tadi.


"Akh..."


Bukk... bukk... bukk...

__ADS_1


"Akh... auw..."


Kia memukul pria itu berkali-kali setelah menabraknya, pria itu sepertinya sangat kesakitan. Tas yang ia rampas jatuh begitu saja, perampok itu segera melarikan diri karena semakin banyak orang yang menyaksikan. Kia segera memberikan tas tersebut kepada pemiliknya.


"Ini tas Bapak, lebih baik di dalam saja jika menunggu. Terlalu riskan jika menunggu di sini," ucap Kia.


"Terima kasih sekali ya, aku akan segera ke dalam," jawab pria itu.


"Ini untuk kamu sebagai rasa terima kasih ku," imbuhnya.


Pak Fredy memberikan setumpuk uang kepada Kia, namun gadis itu menolaknya dengan sopan.


"Tidak perlu Pak, saya ikhlas membantu kok. Bapak simpan saja,"


"Kamu baik sekali Kia, sekali lagi terima kasih ya,"


Kia segera bergegas pergi setelah memastikan pak Fredy masuk ke dalam mobil jemputannya yang sudah datang. Pak Fredy terus memperhatikan Kia dari dalam mobilnya.


"Kamu dari mana saja sih, Bejo? Tahu tidak tadi aku hampir di rampok, uang 500 juta bahkan sudah di ambil orang itu. Untung ada yang menolong, kalau tidak uang ini akan hilang,"


"Maaf Pak, tadi macet sekali di jalan. Lalu bagaimana dengan penjahatnya, apa tertangkap?"


"Dia berhasil kabur, kamu tahu tidak yang menolong ku itu seorang wanita. Dia masih muda dan cantik,"


Pak Fredy segera mengingat penampilan Kia yang sangat cantik dan energik.


'Seandainya aku bisa memilikinya, pasti aku akan bahagia.' batin pria itu.


Sudah bertahun-tahun dirinya menduda, selama ini belum ada seorang wanita pun yang mampu menggantikan posisi almarhumah istrinya di hatinya. Ketulusan Kia membuat hatinya bergetar, pria itu mulai merasakan adanya ketertarikan.


"Setelah sekian lama, aku bertemu wanita yang tulus seperti mama mu,"


"Papa serius?"


"Iya, tapi usianya masih muda,"


"Aku tidak masalah, yang penting dia baik dan tulus. Kebahagiaan Papa adalah kebahagian ku juga,"


Keduanya tersenyum bahagia. Entah apa yang di pikirkan pak Fredy, usianya terpaut jauh dengan Kia jadi mana mungkin gadis itu mau dengannya. Kia lebih pantas jadi anaknya dari pada jadi istrinya.


♥︎♥︎♥︎


Keesokan harinya.


Sebuah karangan bunga mawar berwarna putih tampak cantik di atas meja kerja Kia. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri karena bingung melihat ada bunga di mejanya.


"Sil, ini bunga siapa kok ada di meja ku?" tanya Kia.


"Tidak tahu, aku datang tadi sudah ada itu di meja mu. Mungkin dari pengagum rahasia mu," seloroh Sisil.


Kia masih ragu, takutnya ada yang salah meletakkan bunga itu di mejanya.


"Sepertinya ada kartunya, coba aku lihat," ucap Sisil.

__ADS_1


"Pagi yang cerah, secantik senyum mu. Terima kasih atas pertolongan mu kemarin Kia. Dari Fredy,"


Sisil membacakan isi kartu ucapan itu.


"Hah, itu dari pak Fredy?" tanya Kia.


"Pak Fredy yang kemarin mengambil uang di sini? Kok bisa, apa kamu kenal?" tanya Sisil.


Kia pun menceritakan kejadian kemarin kepada sahabatnya itu.


"Jangan sampai deh pria sudah tua begitu suka pada mu, Kia," ucap Sisil.


"Tidak mungkinlah dia suka sama aku, aneh-aneh saja kamu,"


Keduanya tergelak cukup keras sehingga membuat karyawan lain menoleh ke arah mereka.


♥︎♥︎♥︎


Sore harinya.


"Kia, ada seorang pria mencari mu," ucap Pak satpam.


"Siapa, Pak?" tanya Kia.


"Katanya sopir yang di suruh menjemput mu,"


Kia penasaran siapa yang menyuruh menjemputnya, seingatnya dia tidak ada janji dengan siapapun. Ia bergegas menemui orang itu di depan.


"Selamat sore Nona Kia, Bos saya mengundang Anda untuk makan bersama. Saya kesini untuk menjemput Anda," ucap pria itu.


"Memang siap Bosnya, Pak?" tanya Kia.


"Pak Fredy, Non,"


"Tapi..."


"Kata beliau ini sebagai rasa terima kasihnya atas pertolongan Anda kemarin,"


"Ini berlebihan, saya tulus kok membantunya,"


"Mari Nona saya antar, beliau sudah menunggu,"


"Baiklah, tunggu sebentar saya mau ambil tas dulu ya,"


Kia bergegas membereskan meja kerjanya dan pergi bersama sopir pak Fredy. Saat dia masuk ke mobil itu tidak sengaja Rendi melihatnya. Sebenarnya dia datang untuk mengajak gadis itu jalan-jalan tampaknya dia sudah keduluan orang lain.


"Kia mau kemana itu ya? Sama siapa dia, kok naik mobil mewah?" tanya Rendi.


Rendi memutuskan untuk mengikuti gadis itu. Ternyata dia berhenti di sebuah restoran mewah. Dia melihat Kia duduk seorang diri di sebuah meja yang tampaknya sudah di reservasi khusus.


"Terima kasih sudah menerima undangan ku, Nona Kia,"


Pak Fredy datang lalu mencium tangan Kia dengan lembut, Kia menarik tangannya perlahan agar pria itu tidak tersinggung. Ia hanya menghargai undangan pria itu saja, tidak ada keinginan lebih.

__ADS_1


"Hah? Papa bersama Kia?"


__ADS_2