Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 39 Bertemu Pria Baik


__ADS_3

Asha segera di larikan ke rumah sakit, jimmy mendampingi gadis itu. Lukanya sepertinya cukup parah karena banyak darah di tubuhnya.


"Asha, bangunlah. Jangan menaku-nakuti ku, jangan buat ibu Samantha memarahi ku karena tidak bisa menjaga mu dengan baik. Ayo lah Asha buka mata mu,"


Sepanjang perjalanan pria itu terus membujuk Asha agar bangun, namun tubuh gadis itu tetap diam tak bergerak. Jimmy merasa begitu kuatir, sudut matanya mulai berair. Ia sudah menyayangi gadis itu bagai adiknya sendiri, dia tidak tahan ia dalam kesakitan seperti ini.


Asha segera di larikan ke UGD, Jimmy menunggu dengan panik. Setelah mendapatkan informasi jika dia baik-baik saja dan hanya mengalami luka luar yang tidak terlalu parah, baru Jimmy dapat bernapas lega. Ia segera menghubungi asistennya dan juga keluarga Asha untuk mengabari mereka.


♥︎♥︎♥︎


Sementara itu di tempat lain.


"Apa? Kak Asha kecelakaan? Iya, aku akan segera kesana," ucap Kia.


Dengan hati penuh rasa gelisah, Kia segera menyelesaikan pekerjaannya membantu customer yang ingin membuka rekening. Fokusnya kini terpecah, namun ia tetap menyelesaikannya dengan profesional. Ia masih tetap tersenyum mengantar customernya yang terakhir sebelum ia meminta izin pulang cepat.


"Pak saya mohon izinkan saya pulang cepat, kakak saya tertabrak mobil. Saya harus segera melihat keadaannya," kata Kia mengiba.


"Karena kerja mu bagus dan selama ini tidak pernah izin, maka aku perkenankan. Tapi besok harus masuk ya, karena tidak ada yang menggantikan mu,"


"Terima kasih sekali ya Pak, besok saya akan bekerja. Saya pamit dulu,"


"Semoga kakak mu cepat sembuh, Kia,"


"Amin, saya pulang dulu Pak,"


Kia sangat gembira di berikan izin untuk pulang cepat, ia segera ke parkiran motor. Namun sial, sudah beberapa kali menghidupkan motornya namun tidak juga mau menyala.


"Aduh sial sekali sih, saat darurat seperti ini malah mogok. Kamu kok tidak pengertian sekali sih," ucap Kia.


Ia merasa sangat kesal, motornya tidak bisa di ajak kompromi. Mogok di saat sangat di butuhkan. Ia segera mengambil ponsel untuk memesan ojek online, namun keburu seorang pria menyapanya.


"Halo, customer service tadi ya," sapa pemuda itu.


"Eh, iya," jawab Kia singkat.


"Motornya mogok ya? Memangnya mau kemana kok sudah pulang kerja, bukannya sampai sore?"

__ADS_1


Kia menatap pria itu tidak senang, ia tidak suka pria yang sok akrab dan selalu ingin tahu urusan orang. Namun ia juga tidak enak karena pria ini adalah nasabah yang sempat ia layani tadi.


"Aku izin pulang cepat, kakak ku kecelakaan. Aku harus segera ke rumah sakit, tapi motor ku malah mogok," jawab Kia.


"Kalau begitu ayo aku antar, terlalu lama jika harus memperbaiki motor mu atau kamu pesan kendaraan online," ajak pemuda itu.


Kia tampak ragu, namun sepertinya itu pilihan terbaik saat ini.


"Baiklah, terima kasih..."


"Rendi, nama ku Rendi," pria itu mengulurkan tangannya.


"Aku Kia," Kia menerima uluran tangannya sembari tersenyum.


Ternyata pria itu membawa mobil mewah, padahal gayanya sangat sederhana berbanding terbalik dengan kendaraannya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang cukup lengang.


"Bang Jimmy, bagaimana keadaan kakak ku?" tanya Kia saat baru tiba.


"Alhamdulillah tidak ada yang serius, kamu jangan kuatir ya. Apa kamu bersama Ibu mu?"


"Tidak Bang, aku belum sempat memberi kabar bunda. Aku langsung dari kantor kesini, karena sangat kuatir dengan keadaan kakak. Aku lega jika dia terluka tidak parah, aku akan segera memberi tahu bunda,"


"Rendi, terima kasih sudah mengantar ku. Jika kamu ingin pulang tidak apa-apa, sepertinya aku akan pulang malam nanti," ucap Kia.


Setelah itu pria itu pun pamit. Tinggal Kia dan Jimmy di sana. Jimmy menceritakan kronologis bagaimana sampai Asha tertabrak, Kia tampak menyimak ceritanya dengan baik. Beberapa saat kemudian bu Aida datang dan bergabung bersama mereka.


Sore hari Asha sudah mulai siuman, keadaannya masih lemah namun sudah bisa tersenyum. Ia berterima kasih kepada Jimmy yang sigap membawanya ke rumah sakit.


"Abang pulang saja, aku sudah tidak apa-apa kok. Lagian ada bunda dan Kia di sini, aku tahu Abang sedang banyak kerjaan," ucap Asha.


"Ya baiklah, aku akan kembali ke kantor. Tapi kamu janji harus menurut apa kata dokter agar cepat sembuh ya," balas Jimmy.


"Iya,iya. Ternyata Abang bawel juga ya, seperti emak-emak,"


Semua tertawa mendengar ucapan Asha, di saat sakit begini masih bisa membuat lelucon. Jimmy pun segera berpamitan. Baru saja pria itu keluar, terdengar pintu kamar di ketuk. Kia segera membukakan pintu.


"Rendi? Kok kamu kesini lagi?" tanya Kia tak percaya dengan penglihatannya.

__ADS_1


"Memangnya tidak boleh, ini kan tempat umum," seloroh pria itu sembari tersenyum.


Kia segera menyuruh pria itu masuk. Ternyata ia membawa buah dan beraneka macam makanan.


"Semoga cepat sembuh ya Kak, aku Rendi temannya Kia,"


Pria itu mendekati Asha yang terbaring dan menaruh semua bawaannya di atas meja dekat Asha.


"Terima kasih Rendi, kamu baik sekali. Kia tidak pernah bercerita jika memiliki teman pria sebaik kamu," ucap Asha.


"Sebenarnya kita baru tadi siang kenal, Kak," jelasnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh ya Tante, saya Rendi,"


Pria itu segera menyalami bu Aida yang berada di sisi Asha yang lain.


"Eh iya Rendi, terima kasih sudah mau menjenguk kakaknya Kia ya. Repot-repot sekali sampai bawa banyak makanan begitu," ucap Bu Aida.


"Sama-sama Tante, tidak repot kok, Tante,"


Rendi ikut menemani Asha bersama mereka, banyak pertanyaan yang bu Aida berikan kepada pria itu. Ternyata Rendi orangnya ramah dan tidak sombong, itu terlihat sekali ketika mereka mengobrol. Mereka tampak asyik sekali sampai menghabiskan separuh makanan yang pria itu bawa.


"Kia, kamu pulang saja ya. Biar bunda yang menginap, besok kan kamu harus bekerja," ucap ibunya.


"Apa Bunda tidak apa-apa menginap sendirian?"


"Tentu saja Sayang, cepatlah pulang ini sudah malam,"


"Apa saya boleh mengantar Kia, Tante?" tanya Rendi.


"Boleh, tapi hati-hati ya. Tolong jaga Kia, pastikan dia aman sampai rumah," jawab bu Aida.


"Baik Tante, kita pamit dulu ya,"


Keduanya segera menyalami Asha dan bu Aida. Kia merasa heran kepada ibunya yang dengan mudahnya percaya kepada Rendi, padahal baru saja kenal. Tapi jujur, dia juga merasa Rendi adalah pria yang baik dan menyenangkan.


"Terima kasih ya sudah mengantar ku," ucap Kia saat sampai di halaman rumahnya.

__ADS_1


"Sama-sama, bolehkah kita lebih sering bertemu Kia?"


__ADS_2