
"Erik, Kia, akhirnya kalian datang juga,"
Asha menatap mereka bergantian.
"Apa benar pria ini kekasih mu, Asha?" tanya Arsen.
Asha masih bingung untuk menjawab, ia tidak suka berbohong. Tapi merasa tidak enak juga terhadap Erik.
"Hei, apa kamu tidak percaya? Apa kamu tidak melihat jika kita ini pasangan serasi? Cepat pergi dari sini, jangan goda kekasih ku," hardik Erik.
Arsen mencibir ke arahnya, sorot matanya menyatakan bahwa dirinya tidak percaya. Namun ia juga tidak ingin berdebat.
"Kita akan pergi dari sini. Asha, aku pastikan kita akan segera bertemu lagi, sampai jumpa,"
Arsen melambaikan tangannya sembari mulutnya mengerucut membentuk sebuah ciuman, membuat Erik semakin kesal. Sementara Asha hanya tersenyum menanggapinya.
"Pria tadi itukan yang hampir menabrak kita tadi ya? Kok Kakak bisa kenal mereka?" tanya Kia.
"Itu gara-gara kalian. Karena fokus mengejar kalian tadi aku tidak hati-hati dan menabrak Arsen. Kalian itu kemana saja sih, dari tadi aku muter nyari tidak ketemu juga?"
Keduanya nyengir, memperlihatkan gigi putih mereka yang berderet rapi.
"Maaf, tadi kita berhenti di stand es krim. Itu Kia tiba-tiba ingin es krim katanya," jawab Erik.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu setelah itu baru lanjut jalan lagi," ucap Asha.
Mereka lalu memesan menu dan duduk kembali bersama Asha. Bercerita tentang Erik saat di luar negeri dan kejadian selama mereka tidak bertemu.
☆☆☆
Di tempat lain, di kota kelahiran Asha dan Kia.
"Kenapa sih, kamu jadi pulang malam terus sekarang?"
Geya berusaha protes kepada suaminya. Mereka menikah belum lama ini tapi Harry sudah kerap pulang malam, bahkan kadang beberapa hari tidak pulang ke rumah dengan alasan ada tugas ke luar kota. Pernikahan mereka memang tergolong baru, namun perselingkuhan mereka sudah terjadi selama bertahun-tahun lamanya.
"Aku kan bekerja, Sayang. Itu juga untuk kamu, supaya kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan," Harry mencium kening istrinya.
"Tapi aku kesepian, aku juga rindu belaian mu," Geya mulai menggoda suaminya.
"Geya jangan sekarang, aku harus segera pergi karena sudah di tunggu,"
__ADS_1
Harry melepaskan tangan istrinya yang sedang merengkuh lehernya. Geya hanya bisa tersenyum masam mendapat perlakuan seperti itu.
"Apa tidak bisa menemani ku sebentar saja?" Geya mulai merajuk.
"Tolong mengertilah, ini demi kehidupan kita berdua,"
Harry segera mengenakan sepatunya, ia menyambar tas kerjanya.
"Aku berangkat dulu ya, jangan terlalu sering keluyuran,"
Geya sangat kesal sekali. Sudah 2 minggu ini dia tidak di sentuh. Hasratnya begitu menggebu-gebu ingin segera di tuntaskan. bagian bawahnya sudah terasa gatal, ia tidak mungkin bisa terus menahannya.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum, Tante Geya,"
Pria itu terus mengetuk namun tidak ada sahutan. Ia yakin Tantenya ada di rumah karena jendela rumah terbuka, sandal wanita itu juga tergeletak di teras. Perasaannya tidak nyaman, ia takut ada yang berbuat jahat kepadanya.
Klek...
Pintunya tidak terkunci, berarti memang ada orang di rumah. Damar adalah adik dari mantan istri Reno, ia memang sering datang kemari karena memiliki usaha bersama dengan tantenya Geya. Damar masuk pelan-pelan, tidak ada orang di ruang tamu dan ruang keluarga.
Sayup-sayup ia mendengar ******* seorang wanita dari dalam kamar. Damar curiga, karena baru saja ia bertemu Harry di jalan. Pria itu yang tadi menyuruhnya kesini untuk mengantar istrinya jika ingin keluar. Damar mendekati kamar yang hanya tertutup sebagian, ia bisa melihat dengan jelas tantenya sedang menonton film porno menggunakan handfree, pantas saja ia tidak mendengar.
'Astaga, tubuh tante indah sekali' batin Damar.
Senjatanya spontan menegang, ia tidak dapat berpikir jernih lagi. Tantenya sampai memejamkan matanya menikmati permainannya sendiri. Ia masuk perlahan, di tatapnya Geya yang masih keenakan. Ia buka pakaiannya sendiri. Damar segera menghisap kedua puncak gunung Geya secara bergantian.
"Akh... Kamu pulang Sayang, akh... ehm..." Geya mengira suaminya yang mencumbuinya.
Damar terus saja meremas dan menyesap kedua gunung kembar Geya dengan rakus. Geya mendesah tak karuan, sudah lama ia menginginkan ini. Di tengah kenikmatan yang Geya rasakan, Damar segera membuka kedua paha Geya, ia menenggelamkan lidahnya ke tengah gua rimbun itu. Geya makin mendesah.
"Ough, enak sekali,"
"Akh, ehm... terus sayang," Geya mulai meracau.
"Enak ya, Tante?"
Geya tersentak, matanya seketika terbuka.
"Damar? Apa yang kamu lakukan di sini?"
__ADS_1
Geya mencoba menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tergeletak di sampingnya, namun segera di rebut oleh Damar.
"Bukannya Tante yang minta lanjut tadi?"
Damar tersenyum penuh arti.
"Aku kira kamu suami ku, kita tidak boleh seperti ini," Geya bangkit namun segera di jatuhkan kembali di atas kasur oleh Damar.
"Enak permainan ku atau Om Harry, Tante?"
Geya malu, ia memang sangat menikmati permainan Damar tadi.
Damar memegang kedua tangan Geya dan meletakkan di atas kepalanya, ia mencium bibirnya sedikit kasar. Awalnya Wanita itu menolak, namun akhirnya pasrah dan menikmati. Damar menjelajahi setiap inci tubuhnya, membuat Geya benar-benar tidak tahan.
"Akh..." Ia memekik tatkala milik Damar masuk sepenuhnya ke dalam miliknya. Damar memompanya dengan semangat sampai cairan keduanya saling bertemu.
☆☆☆
Hari telah sore, Asha, Kia dan Erik sudah dalam perjalanan pulang. Mereka sangat lelah namun begitu menikmati kebersamaan mereka tadi.
"Ya sudah, sampai ketemu lagi ya,"
Erik melambaikan tangan kepada mereka, lalu segera meninggalkan tempat itu.
"Oh jadi di sini dia tinggal ya," Arsen tersenyum puas.
"Kenapa Kakak begitu berambisi kepada wanita itu? Ya dia memang cantik, tapi biasanya kan Kakak lebih suka di kejar,"
Hugo merasa heran, seorang Arsen putra orang kaya nomor 3 di Indonesia, pemilik ratusan bisnis besar sedang mengejar wanita yang baru saja ia temui.
"Diamlah, aku harus memilikinya. Dia harus menjadi salah satu penghias ranjang ku," jawab Arsen.
"Ah dasar, sel*ngk*ngan saja pikiran mu. Aku kira benar-benar jatuh cinta," gerutu Hugo.
"Ya sudah ayo kita pulang. Yang penting sudah tahu tempat tinggalnya,"
Arsen segera menghubungi anak buahnya. Ia menyuruh mencari informasi apapun tentang Asha.
"Wah ternyata dia seorang model yang sedang naik daun, pantas saja aku merasa familiar dengan wajah cantiknya,"
Arsen membaca info dari anak buahnya.
__ADS_1
"What? Dia masih perawan, hahaha..."
Arsen tersenyum puas. Di zaman sekarang susah mencari wanita yang bisa menjaga kesuciannya. Apalagi dia bekerja di bidang modeling yang sangat glamour dan rawan pergaulan bebas.