Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 42 Rasa Yang Terbalas


__ADS_3

"Papa darimana saja?" tanya Rendi.


Pria ini mencoba bersikap biasa walaupun dadanya bergemuruh, ada perasaan tidak nyaman melihat gadis yang ia cintai makan bersama ayahnya. Walaupun Kia masih belum menerimanya sebagai kekasih, namun ia merasa gadis itu juga menyukainya.


"Aku habis makan malam dengan calon mama mu, Nak," jawab ayahnya.


'Ah benarkah yang papa katakan? Apa Kia memang tertarik dengan papa ku? Atau papa saja yang terlalu percaya diri batin Rendi.


"Apa benar wanita itu tulus mencintai papa? Atau jangan-jangan hanya menginginkan harta papa saja?" tanya Rendi mulai mengorek informasi.


"Tidak Sayang, dia wanita yang baik seperti mama mu. Dia tidak silau dengan harta dan uang. Tempo hari dia telah menyelamatkan ku dari perampokan, aku memberinya uang yang cukup banyak namun ia begitu saja menolaknya," jawab ayahnya.


Oh jadi karena itu ayahnya menyukai Kia, tampaknya pria tua itu memang over pede (percaya diri). Mana mungkin wanita muda seperti Kia mau dengan pria yang sudah tua seperti dirinya, apalagi latar belakang keluarga Kia bukan termasuk orang susah yang akan silau oleh gelimangan harta.


"Menilai seseorang itu jangan hanya sekilas Pa, kita harus tahu secara keseluruhan. Apa Papa tertarik padanya hanya karena itu? Apa wanita itu juga mau menerima Papa?"


Ayahnya mulai duduk di depannya, memperhatikannya sekilas lalu kemudian tersenyum.


"Aku tidak pernah bergairah seperti ini setelah mama mu tiada, walaupun aku belum tahu perasaan wanita itu kepada ku. Tapi aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta, aku merasa jadi muda kembali berada di dekatnya,"


Rendi memperhatikan mimik ayahnya yang begitu sangat bahagia, tegakah ia merusak itu semua?


"Bagaimana jika wanita itu sudah punya kekasih, Pa?"


Pak Fredy menatap putranya sejenak, detik kemudian ia tersenyum penuh arti.


"Tidak Nak, sepertinya dia masih sendiri. Aku sudah menyuruh orang mengikutinya sejak saat ia menolong ku, tapi dia tidak pernah terlihat dengan seorang pria,"


'Apa? Sebegitu niatkah papa menginginkan Kia? Untung tadi aku tidak menemuinya' batin Rendi.


☆☆☆


Dua hari kemudian.


Rendi sudah jarang menghubungi Kia, ia mulai menjaga jarak dengan gadis itu. Sementara ayahnya terlihat beberapa kali pergi bersama Kia. Bahkan beberapa hari ini dia tidak pernah menemui Kia. Dia merasa bingung dengan yang terjadi, di satu sisi ia sangat menginginkan Kia, tapi di sisi lain ia tidak ingin merusak kebahagiaan ayahnya.


Sementara Kia mulai merasakan perubahan Rendi, dia bahkan merasa kehilangan sosok pria itu dalam hidupnya. Dia terlambat menyadari jika ia juga mulai menyukai pria itu, pria yang selalu membuatnya nyaman.

__ADS_1


"Halo, Rendi,"


"Ya Kia, ada apa?"


Rendi sangat senang gadis itu menghubunginya, namun ia berusaha tetap tenang bahkan terkesan acuh.


"Apa kamu sedang sibuk?" tanya Kia.


"Ya begitulah, cukup banyak pekerjaan yang harus aku tangani. Memangnya ada apa?" tanya Rendi.


"Aku ingin kita bertemu, aku ingin bicara serius," jawab Kia.


'Oh tidak, apakah Kia akan mengatakan kalau dia akan memilih papa' batin Rendi, pikirannya mulai tak menentu.


"Baiklah, kapan ingin bertemu?" tanyanya.


"Nanti pulang dari kantor ya, jemput aku," jawab Kia.


"Baiklah, sampai ketemu nanti," ucap Rendi.


Perasaannya mulai gelisah, ia sangat takut menghadapi kenyataan. Baru kali ini ia serius menyukai seorang wanita, ia merasa Kia adalah wanita yang sangat di dambakannya selama ini. Haruskah ia mengalah dan membiarkan gadis itu jatuh dalam pelukan ayahnya? Atau berjuang untuk mendapatkan gadis itu tapi merusak kebahagian ayahnya?


♥︎♥︎♥︎


Sore harinya.


Hujan deras mengguyur kota saat ini, namun Rendi telah tiba dari tadi menunggu gadis pujaannya pulang. Ia tidak memperdulikan kemejanya yang basah terkena cipratan air hujan, ia memilih menunggu di depan di temani hujan walaupun satpam sudah menyuruhnya untuk masuk. Cinta memang terkadang bisa membuat orang kehilangan akal.


"Rendi, kenapa kamu di sini? Lihat itu baju mu basah, kenapa tidak masuk sih?" tanya Kia.


Gadis itu mengeluarkan tisu dan berusaha mengeringkan kemeja pria itu, Rendi menatapnya penuh kasih. Mengapa gadis ini sangat baik sehingga membuat pria bisa salah mengartikannya?


"Tidak apa-apa Kia, ini hanya basah sedikit. Ayo kita berangkat,"


Rendi segera membentangkan payung yang ia bawa untuk melindungi wanita yang ia sayangi.


"Terima kasih," ucap Kia dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Kita mau kemana, Kia?" tanya Rendi saat di dalam mobil.


"Kita makan ya, aku lapar," ucap Kia.


Rendi hanya tersenyum sembari tetap melajukan mobilnya, ia memilih tempat yang pernah ia kunjungi bersama gadis itu.Hanya butuh 20 menit untuk sampai di tempat itu, warung lesehan dengan menu khas seluruh nusantara.


Rembulan malam mulai menampakkan diri menerangi gelapnya malam, menggantikan cahaya mentari yang telah tenggelam. Warung dengan konsep gazebo itu menambah kesan romantis saat itu. Sembari menunggu pesanan datang mereka mulai mengobrol.


"Kamu ingin berbicara serius apa, Kia?" tanya Rendi tidak sabar.


"Nanti saja, kita makan dulu ya,"


Kia segera melahap pesanannya yang baru saja datang, tampaknya ia benar-benar lapar.


"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," ucap Rendi.


Kia hanya tersenyum, ia merasa malu dan mengurangi kecepatan makannya. Ada sisa kecap di sudut bibirnya, dengan penuh perhatian Rendi membantu mengelapnya. Kini keduanya saling bertatapan, ada cinta di mata keduanya. Rendi buru-buru mengalihkan perhatian agar tidak terlalu terbawa perasaan.


"Sudah kenyang belum? Mau tambah lagi tidak?" tanya Rendi.


"Sudah cukup, aku sudah kenyang," jawab Kia sembari memegangi perutnya.


"Oh ya, katanya tadi mau bicara serius?" tanya Rendi.


Kia menatap pria di depannya, ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan tentang perasaannya.


"Tempo hari kamu pernah menyatakan perasaan mu kepada ku,"


"Iya, lalu kenapa? Aku tidak masalah jika kamu tidak ingin menjawab, aku hanya ingin kamu tahu tentang perasaan ku pada mu,"


"Aku tahu kamu memang tidak bertanya tentang jawaban mu, tapi aku ingin menjawabnya sekarang,"


Rendi terhenyak, ia begitu takut gadis ini tidak mempunyai rasa yang sama untuknya. Sepertinya tidak menerima jawaban akan lebih baik daripada mengalami patah hati.


"Aku tidak ingin kamu terpaksa menjawabnya," ucap Rendi.


"Aku tidak terpaksa, aku sudah memikirkannya berhari-hari. Di saat kita jarang berkomunikasi bahkan tidak bertemu, aku mulai menyadari suatu hal,"

__ADS_1


Kia diam sejenak, ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. Sementara Rendi terlihat menyimak dengan serius.


"Aku mulai merasa kehilangan diri mu, aku rindu saat-saat dengan mu. Sepertinya aku juga mulai menyukai mu Rendi,"


__ADS_2