Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 22 Tertangkap


__ADS_3

"Siapa yang tega menyakiti adik saya, Pak?" tanya Asha.


"Tim kami masih membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, karena mobil yang menyenggol saudari Kia hanyalah mobil rental," jawab petugas itu.


"Saya sempat melihat pengemudinya saat menabrak pohon, mobil itu jalan pelan sekali seoalah ingin memastikan keadaan saya. Pengemudinya adalah seorang wanita, di sampingnya sepertinya ada seorang pria," jelas Kia.


Petugas polisi menanyakan beberapa pertanyaan lagi kepada Kia, setelah di rasa cukup mereka segera berpamitan untuk melanjutkan tugasnya.


"Terima kasih atas kerja samanya, semoga kasus ini bisa segera terungkap," petugas segera melanjutkan penyelidikan.


"Berarti ini memang di sengaja entah hanya untuk melukai atau pembunuhan, sama saja merupakan tindak kriminalitas dan harus di tindak tegas," ucap Asha serius.


"Tadinya Bunda berharap ini hanya ketidak sengajaan, namun setelah mendengar penjelasan dari pihak kepolisian tadi bisa di pastikan ini memang terencana," balas bu Aida.


Mereka diam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Dalam benak mereka tersimpan rasa ingin tahu yang dalam terhadap siapa pelakunya dan apa motifnya. Sejauh ini Reno dan istrinya adalah tersangka utama bagi mereka, karena mereka berdua cukup punya motif untuk melakukan semua ini.


"Bagaimana jika kasus ini ternyata tidak ada titik temunya, apalagi jika dalang di balik semua itu berduit pasti bisa dengan mudah menyuap aparat penegak hukum?" tanya Asha.


"Jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kita berdoa saja agar semua ini cepat selesai. Buat Bunda yang penting Kia selamat," jawab bu Aida.


Sebenarnya Asha juga bersyukur, hanya saja ia merasa takut jika pelakunya tidak tertangkap akan mengulangi perbuatannya lagi. Sekarang saja sudah di rencanakan dengan matang apalagi yang selanjutnya. Kejadian yang menimpanya tempo hari walaupun memberikan trauma besar kepada dirinya namun memberikannya banyak ilmu juga contohnya untuk menilai suatu kejadian itu hanya rekayasa atau benar-benar terjadi.


"Kata Dokter Kia kapan bisa pulang, Bun?" tanya Asha.


"Bunda belum tanya, hanya katanya Kia di suruh banyak istirahat," jawab bu Aida.


"Kalau cuma istirahat lebih baik pilih rawat jalan saja Bun, entah mengapa aku merasa lebih tenang jika Kia berada di rumah. Apalagi jika pelakunya masih bebas berkeliaran di luar, itu sangat membahayakan hidup Kia karena kita juga belum tahu apa motif di balik semua ini,"

__ADS_1


Bu Aida merasa ucapan Asha kali ini benar, selama belum di ketahui pelaku dan motifnya apa jiwa Kia masih terancam. Ia akan berbicara kepada dokter agar Kia di izinkan di rawat di rumah saja.


"Tunggu di sini sebentar ya, bunda coba akan bertanya kepada dokter," ucap bu Aida.


Kini tinggal Asha sendiri yang sedang menunggui Kia yang sedang terlelap tidur. Tidak berapa lama seorang perawat muncul, dia memberikan resep yang harus Asha tebus.


"Mbk, ini tolong resepnya segera di tebus ya. Setelah ini saya akan kemari lagi untuk menyuntikkannya kepada pasien. Asha menunggu bundanya kembali, namun sudah 10 menit tapi belum juga datang. Suster tadi sampai kembali lagi dan sedikit kesal karena keluarga pasien tidak segera membeli resep itu. Akhirnya Asha meninggalkan Kia sendiri, ketika dia sudah memberikan resep di ruang farmasi, ia melihat bu Aida berbicara dengan seseorang.


"Bunda, suster menyuruh ku segera menebus obat untuk Kia. Aku sudah menunggu bunda tapi lama sekali, suster tadi memarahi ku. Lebih baik bunda segera kembali kesana," ucap Asha.


"Oh iya Nak, maaf. Bunda segera kesana,"


Bu Aida segera bergegas kembali ke kamar Kia. Ia sedikit berlari kecil karena kuatir anaknya bangun tidak melihat siapa pun di sana. Namun di perjalanan wanita yang tadi bertanya tentang letak ruang bersalin kembali menyapanya.


"Bu maaf, saya masih bingung bisa tolong jelaskan lagi," pinta wanita itu.


Setelah sekali lagi minta maaf ia segera bergegas meninggalkan wanita itu. Awalnya wanita itu seperti memaksanya untuk menjawab, namun karena lebih kuatir kepada Kia bu Aida tetap meninggalkannya. Dari kejauhan ia melihat seorang pria masuk ke ruangan Kia, ia semakin mempercepat langkahnya.


"Hei, sedang apa kamu di kamar putri ku?" tanya bu Aida, berteriak dari pintu yang baru ia buka.


Pria itu terkejut dan spontan lari hingga menabrak tubuh bu Aida. Bu Aida berusaha menggapainya namun pria itu berhasil lolos. Ia berteriak meminta orang menangkap pria itu, namun dia telah menghilang. Bu Aida segera memeriksa keadaan Kia. Kia yang masih mengantuk karena efek obat yang tadi di minumnya terlihat mengucek matanya saat bu Aida membangunkannya.


"Ada apa Bun, kenapa terlihat kuatir begitu?" tanya Kia.


"Alhamdulillah, syukurlah kamu baik-baik saja Nak," bu Aida menciumi pipi dan kening putrinya.


"Memangnya aku kenapa, Bun? Apa tadi dokter mengatakan hal buruk tentang ku?" tanya Kia lagi.

__ADS_1


Bu Aida segera menggeleng, matanya mulai berair. Dia masih shock dengan kejadian tadi yang di lihatnya, dadanya masih terasa bergemuruh. Kia bingung kenapa ibunya tiba-tiba seperti itu. Asha baru saja tiba dan merasa heran ibunya menangis.


"Bunda ada apa? Apa Bunda juga tidak enak badan?" tanya Asha segera mengecek kening ibunya yang tidak panas.


"Bunda tidak apa-apa. Kita harus segera membawa Kia pulang hari ini juga, tadi ada seorang pria yang berada di kamar ini saat Kia tidur. Bunda tidak tahu apa yang hendak dia lakukan, ia langsung kabur saat bunda berteriak kepadanya," jawab ibunya.


"Kok bisa sih, ciri-cirinya seperti apa?" tanya Asha.


"Dia memakai masker dan topi, jadi tidak bisa melihat wajahnya. Tapi yang jelas dia terlihat masih muda tidak jauh dengan kalian,"


Kia dan Asha saling pandang.


"Bunda tadi itu lama sekali, aku terpaksa meninggalkan Kia sendirian. Untung saja dia tidak apa-apa, jika tidak aku pasti merasa bersalah," ucap Asha.


"Tadi bunda sudah mau kembali tapi ada wanita yang bertanya dan minta di antar ke ruang bersalin, setelah bicara dengan mu tadi dia juga datang kembali dan menanyakan hal yang sama," jelas bu Aida.


"Kok sepertinya sangat janggal, jangan-jangan mereka masih satu komplotan," balas Kia.


"Sebenarnya mereka itu siapa? Apa salah ku sehingga mereka ingin menyakiti aku? Hiks..." tanya Kia mulai menangis.


"Sabar ya Nak,"


Tiba-tiba ponsel Asha berdering, petugas kepolisian yang meneleponnya.


"Selamat Siang Pak, apa sudah ada perkembangan?" tanya Asha.


"Iya Mbak Asha, sebaiknya segera datang ke kantor polisi. Kami sudah menangkap Dua orang pelaku, seorang wanita dan pria. Mereka mengatakan telah di suruh seseorang untuk membuat adik anda celaka dengan iming-iming imbalan yang besar,"

__ADS_1


__ADS_2