Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 48 Erik Kembali


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Kia masih merasa bersalah kepada Rendy. Setiap ada waktu senggang ia pasti menyempatkan diri menjenguknya di rumah sakit jiwa. Walaupun keadaan pria itu masih belum juga membaik, namun Kia selalu berdoa untuk kesembuhannya. Harta dan perusahaan keluarganya telah di ambil alih oleh kerabatnya, itu kabar yang dia dengar.


"Sudah Kia, jangan melamun terus. Mumpung hari ini libur kita jalan keluar yuk, Nanti kita di jemput Erik," Asha berusaha untuk menghibur adiknya.


"Erik? Pria yang pernah mengambil foto Kakak diam-diam itu ya?" tanya Kia.


Asha menganggukkan kepalanya, Erik mempunyai kesan tersendiri bagi mereka. Pria aneh tapi baik hati.


"Bukannya ia study di luar negeri, Kak?"


"Iya, tapi dia sudah kembali semalam. Hari ini dia mengajak jalan. Tadinya aku hanya ingin di rumah saja, tapi melihat mu terus saja melamun jadi berubah pikiran. Ayo kita pergi,"


Asha bangkit dari duduknya namun Kia terlihat ragu. Ia takut mengecewakan kakaknya karena akan merusak suasana nantinya.


"Tapi..."


"Sudah ayo, nanti aku traktir,"


Asha segera menarik tangan adiknya untuk segera berganti baju.


Tring... tring...


Ponsel Asha berdering, gadis itu lalu mengangkatnya.


"Halo Rik, oh sudah di depan rumah ya. Tunggu sebentar kita masih ganti baju,"


Panggilan ia matikan, dengan cepat mereka sudah berganti pakaian.


"Wajahnya tersenyum dong, jangan di tekuk begitu. Jadi jelek kalo cemberut begitu," goda Asha membuat Kia akhirnya tersenyum.


Ternyata Erik sedang berbicara dengan ibu mereka. Walaupun baru bertemu keduanya terlihat sangat akrab sekali.


"Hei kalian apa kabar?" tanya Erik.


"Kalau aku cukup baik, kalau dia kurang baik makanya kita harus menghiburnya," jawab Asha sembari melirik adiknya.


Erik tersenyum, pria itu terlihat lebih tampan dan keren sekarang. Fashionnya juga telah mengalami perubahan di banding saat pertama mereka bertemu.


Setelah berpamitan kepada bu Aida, mereka segera berangkat.


"Wah mobil baru ya?" tanya Asha.


"Alhamdulillah, demi menjemput kedua putri ini," seloroh Erik.


"Hei kenapa kalian di belakang semua? Apa kalian pikir aku ini sopir ya?"


Erik berkacak pinggang sambil menunjukkan wajah cemberut yang terlihat lucu. Ekspresinya berhasil membuat kedua gadis itu tertawa bahagia. Akhirnya Asha yang duduk di depan karena Kia tidak mau berdekatan dengan Erik.

__ADS_1


Hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai di tempat tujuan. Setelah memarkir mobil mereka turun, karena kurang hati-hati saat berjalan Asha dan Kia hampir tertabrak mobil yang hendak parkir.


"Woi... bisa nyetir mobil tidak sih," teriak Erik geram.


Beruntung pria itu refleks menyelamatkan kedua gadis itu.


"Maaf sekali, apa kalian tidak apa-apa?" seorang pria turun dari mobil yang hampir menabrak mereka.


"Apa mereka terluka, Hugo?" Seorang pria turun juga dari mobil tersebut.


"Sepertinya mereka tidak apa-apa," jawab pria bernama Hugo itu.


"Mereka baik-baik saja, ayo kita pergi saja,"


Erik segera menarik tangan kedua gadis itu menjauhi pria yang hampir menabrak mereka.


"Jangan mencari kesempatan,"


Kia segera menepis tangan erik darinya.


"Hei Kia, kamu tidak boleh terlalu membenci ku nanti jadi cinta loh," seloroh Erik.


"Idih amit-amit cinta sama kamu, yang ada aku jadi ingin muntah. Huek..."


Asha senang melihat adiknya ceria kembali dan sementara lupa akan rasa bersalahnya. Erik benar-benar bisa di andalkan. Ia sudah menceritakan tentang kisah adiknya pada pria itu, Erik berjanji akan membantunya membuat Kia ceria kembali.


"Erik kurang ajar..."


Kia mengejar pria itu yang sudah lari lebih dulu masuk ke dalam mall. Kini mereka terlihat seperti kucing dan tikus yang saling berkejaran. Asha sampai lelah menyusul mereka.


Brukkk...


Asha menabrak seseorang karena terlalu fokus mengejar mereka berdua.


"Maaf ya, aku tidak sengaja," ucap Asha.


Pria itu hanya diam, sepertinya terpana dengan kecantikan gadis di depannya. Asha berniat mengejar mereka kembali, namun pria tadi mencegahnya.


"Hei kamu mau kemana, kamu sudah menabrak ku jadi harus bertanggung jawab," pria itu tersenyum licik.


"Oh ayolah, kamu kan tidak terluka masa harus tanggung jawab sih," Asha merasa pria itu sangat konyol.


"Iya, kamu harus mau makan dengan ku baru bisa aku maafkan. Nama ku Arsen," pria itu mengulurkan tangannya.


"Asha,"


Karena tidak ingin ribut, Asha menerima uluran tangannya.


"Aku sedang buru-buru, nanti saja kita lanjutkan,"

__ADS_1


Ia berlari menuju terakhir kali melihat Kia dan Erik saling mengejar, ia mengacuhkan Arsen yang memanggilnya.


☆☆☆


Karena lelah mencari keduanya tidak kunjung ketemu, Asha memilih istirahat dan makan di food court. Ia kembali menghubungi nomor keduanya namun tidak di angkat.


"Mereka kemana sih, aku jadi sendirian deh,"


"Kalau jodoh memang tidak akan kemana ya, kita bertemu lagi di sini,"


Arsen duduk di depannya, ternyata ia bersama pria yang di parkiran tadi hampir menabrak mereka.


"Kamu, kok ada di sini?" tanya Kia.


"Sudah ku bilang, pasti ini takdir. Wanita cantik bertemu dengan pria tampan," pria itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


"Ini wanita yang hampir kita tabrak tadi di parkiran, Kak," ucap Hugo.


"Wah, benarkah Hugo? Berarti kita memang jodoh Asha," Arsen mengerling nakal padanya.


"Sudahlah, kalian duduk saja kalau mau makan. Aku ingin makan dengan tenang," ucap Asha.


Mereka lalu memesan menu dan duduk semeja dengan Kia. Kedua pria itu sering mencuri pandang padanya, namun ia pura-pura tidak peduli.


"Kia, kalian di mana? Dari tadi aku mencari kalian tapi tidak ketemu. Sekarang aku di food court, kalian cepat kesini. Aku lelah mencari kalian,"


Asha menutup panggilan, ia sedikit kesal kepada Kia dan Erik yang telah meninggalkannya.


"Hugo, gadis ini milik ku. Kamu cari yang lain saja," bisik Arsen kepada adiknya.


"Iya, iya. Aku hanya melihat saja kok. Habis dia cantik sekali sih," ucap Hugo.


"Asha, kita bisa jalan-jalan jika kamu bosan di sini," rayu Arsen.


"Tidak perlu Arsen, aku sedang menunggu teman dan adik ku datang," balas Asha.


"Baiklah akan aku temani. Bisakah kita berhubungan lebih dekat, aku menyukai mu sejak awal melihat mu tadi,"


Arsen mulai modus, membuat Asha merasa tidak nyaman. Baru saja bertemu sudah berbicara omong kosong. Sepertinya pria itu adalah salah satu buaya darat.


"Apa kamu selalu bermulut manis seperti ini kepada semua wanita? Mudah sekali kamu memproklamirkan perasaan mu," ucap Asha.


Hugo terlihat ingin tertawa namun di tahannya melihat tatapan tajam Arsen kepadanya.


"Tentu saja tidak, hanya wanita cantik seperti diri mu yang mampu membuat hati ku bergetar,"


Arsen memegang tangan Asha dan berniat menciumnya, namun seseorang dengan cepat menepis tangannya.


"Jangan dekati dia, dia kekasih ku,"

__ADS_1


__ADS_2