
"Jangan berbicara sembarangan kamu, ingat jangan dekati dia lagi,"
Pak Ari berlalu dengan menggandeng Asha setelah memberi peringatan tegas kepada Vinu. Ia membawa gadis itu menjauh dari Vinu
"Maaf Pak, saya tidak ingin istri anda salah paham. Biarkan saya mengurus diri saya sendiri, terima kasih sekali atas kebaikannya,"
Asha segera meninggalkan pak Ari yang sepertinya masih terkejut dengan perlakuannya. Sebenarnya dia tidak tega berbuat begitu, namun ketika ia mendengar kru dan pemain lain membicarakan tentang perhatian pak Ari yang berlebihan kepadanya membuatnya sadar, ia tidak boleh terlalu dekat dengannya demi menjaga perasaan istrinya.
Walaupun Asha sudah sudah terang-terangan menjaga jarak dengannya namun pria itu tetap tidak mengalihkan pandangannya kepada gadis itu. Makin di tolak justru membuatnya semakin penasaran.
♥︎♥︎♥︎
Satu bulan telah berlalu, pak Ari sama sekali tidak mendekati Asha sesuai keinginan gadis itu. Pun begitu dengan Asha yang tidak ingin ada salah paham dengan perhatian pria baik itu.
Malam ini hujan turun dengan sangat deras, ponsel Asha mati kehabisan daya. Ia tidak bisa memesan taksi online sehingga terpaksa menyetop taksi di depan studio, namun tidak ada satupun yang lewat. Tiba-tiba sebuah mobil fortuner berhenti tepat di sampingnya, tampak seorang pria yang dilarang pak Ari mendekatinya berada di depan kemudi. Dengan senyum menggodanya Vinu menyapa Asha.
"Kenapa masih di sini saat hujan deras begini?" tanya Vinu.
"Ponsel ku mati jadi tidak bisa pesan taksi online," jawab Asha.
"Oh, hujan begini biasanya jarang ada taksi mangkal dekat sini. Sekarang sudah pakai online semua, ayo aku antar saja," ajak Vinu.
Asha tampak berpikir, ia ragu mengingat predikat Vinu sebagai buaya darat yang suka menggoda wanita. Apalagi pak Ari sendiri sudah mengingatkannya dengan tegas, namun sepertinya dia tidak punya pilihan selain menerimanya.
"Baiklah, terima kasih ya,"
Vinu segera membukakan pintu untuk Asha, tanpa mereka sadar pak Ari telah mengawasi mereka sejak tadi. Pria itu mulai membuntuti mobil mereka karena kuatir. Ternyata benar dugaannya, mobil mereka melaju terus bukan menuju jalan ke rumah Asha.
"Mereka mau kemana? Kenapa Asha menurut saja sih?"
Pak Ari merasa benar-benar kesal, kenapa Asha tidak mengindahkan ucapannya waktu itu. Ia terus mengikuti mereka, ternyata mereka berbelok ke kawasan apartemen.
__ADS_1
"Sial, apa yang ingin di perbuat Vinu. Dasar otak mesum," umpatnya.
Ia semakin kesal. Ketika mobil mereka berhenti di parkiran apartemen, Vinu turun memapah Asha yang sepertinya sudah tidak sadar. Tanpa menunggu lebih lama lagi Ia keluar dan memukul Vinu, membuat Asha jatuh tergeletak di lantai parkiran.
"Kurang ajar, apa yang telah kamu lakukan kepadanya brengsek,"
Brukk... brukk...
Dua bogem mentah melayang ke wajah Vinu, membuat pria itu meringis kesakitan. Ia tersungkur persis di dekat Asha, pak Ari langsung menendang kakinya saat pria itu hendak berdiri.
"Kenapa Bapak begitu marah jika aku mendekati Asha, padahal selama ini saat aku mendekati pemain -pemain yang lain anda diam saja?" tanya Vinu kesal.
"Jangan-jangan benar dugaan Saya selama ini jika anda menyukainya, tidak usah mengelak lagi," hardik Vinu.
"Tidak perlu banyak bicara, yang kamu lakukan ini adalah tindakan kriminal. Kamu sudah membuat gadis itu tidak sadar, dan kamu ingin berbuat mesum terhadapnya. Enyah kamu dari sini sebelum aku laporkan kepada polisi,"
Vinu merasa posisinya terancam, ini sangat beresiko apalagi dia adalah seorang publik figur. Karirnya akan tamat jika sampai ia tersangkut kasus hukum. Dengan banyak pertimbangan ia akhirnya melarikan diri dari situ, meninggalkan Asha yang masih terbaring di lantai.
Pak Ari segera membopong tubuh Asha ke dalam mobil, Ia menaruhnya di jok belakang agar gadis itu merasa nyaman. Namun saat menaruhnya kakinya terantuk kursi sehingga ia terjatuh menindih tubuh Asha, seketika darahnya berdesir. Bersentuhan secara tidak sengaja dengan kulit lembut gadis itu membuat naluri kejantanannya menyeruak.
Di tatapnya wajah cantik gadis itu, walaupun ia tidak sedang memakai pakaian seksi namun tubuh padatnya yang terdapat di bagian yang tepat mampu membangkitkan syahwat kaum lelaki manapun, termasuk dirinya yang selama ini selalu setia kepada istrinya.
Pria itu sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, ia benar-benar sudah gelap mata. Ia mulai menciumi bibir Asha dengan lembut, baru saja memulai ia merasa ada yang mengawasinya. Ia memilih tidak melanjutkan aksinya, jujur ia menginginkan lebih dari pada itu namun ia tidak ingin melakukannya dalam keadaan seperti ini. Ia ingin melakukannya dengan keadaan sadar dan atas dasar suka sama suka.
"Asha... Asha bangunlah, sebentar lagi akan sampai di rumah mu,"
Pria itu menyipratkan air mineral ke wajah gadis itu agar segera sadar, Asha mulai terbangun. Gadis itu mengerjap-ngerjap kan matanya, ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan berhenti pada sosok pria yang selama ini di hindarinya.
"Pak Ari? Kenapa saya ada di mobil Bapak?" tanya Asha dengan raut wajah bingung.
"Apa kamu tidak ingat apa-apa?"
__ADS_1
Asha berusaha untuk mengingat, seingatnya ia sedang di antar Vinu dengan mobilnya. Tapi saat di dalam perjalanan tiba-tiba ia merasakan kepalanya begitu pusing, selanjutnya ia tidak tahu lagi apa yang terjadi.
"Tadi Vinu akan mengantar pulang, tapi di perjalanan kepala terasa pusing dan aku tidak ingat apa-apa lagi setelahnya," jawab Asha.
"Bukankah sudah aku bilang jangan pernah dekat dengannya, tadi kamu tidak sadarkan diri. Dia berniat jahat kepada mu, dia membawa mu ke sebuah apartemen. Untung aku membuntuti kalian dan bisa menyelamatkan mu tepat waktu,"
Asha terpana mendengar penjelasan pria itu, ia sama sekali tidak menduga jika Vinu akan setega itu kepada dirinya. Pantas saja selama ini dia di larang keras dekat-dekat dengannya, ternyata dia adalah pria yang sangat licik. Entah apa yang akan terjadi kepadanya jika pak Ari tidak menyelamatkannya tepat waktu.
"Terima kasih sekali Bapak sudah menyelamatkan saya, saya juga minta maaf karena tidak mendengarkan larangan yang pernah anda katakan,"
Asha tertunduk, ia benar-benar tulus mengucapkannya.
♥︎♥︎♥︎
Keesokan harinya.
Saat fajar baru saja menyingsing, pak Ari tengah menikmati sarapan roti dengan segelas teh hangat di atas meja makan.
Ting tong... ting tong...
Bel rumahnya berbunyi di pagi buta.
"Siapa sih pagi-pagi sudah bermain bel?" tanya istrinya.
"Entahlah Sayang, biar aku lihat,"
Pria itu bergegas membukakan pintu, ternyata kurir pengantar paket yang datang mengantarkan paket untuknya. Setelah ia menandatangani surat penerimaan kurir itu segera pergi. Tidak ada pengirim di paket itu membuatnya penasaran, perlahan ia mulai membukanya.
"Astaga,"
Mata pria itu membulat melihat isi paket itu, ia segera memasukkannya kembali ke dalam amplopnya agar istrinya tidak tahu.
__ADS_1