Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 33 Puber Kedua


__ADS_3

Keesokan hari.


Saat Kia baru saja membuka mata, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk. Chat dari Rena.


[Aku sudah memutuskan pertunangan ku dengan Roki, keluarga besar juga sudah aku beri tahu.]


[Terima kasih sudah membuka mata ku, Kia. Semoga kita bisa bertemu lagi, sementara aku pergi ke Bali, di rumah tante ku.]


Kia bisa merasakan kekecewaan yang Rena rasakan, menenangkan diri adalah yang paling baik saat ini.


[Semoga keputusan itu yang terbaik, Ren. Tetap semangat dan teruslah melanjutkan hidup. Semoga kebahagiaan segera menghampiri, sampai ketemu lagi.]


Kia segera memberikan balasan, tiba-tiba pintu di ketuk.


"Siapa yang bertamu jam segini?" tanya Kia.


Ia menatap jam masih menunjukkan pukul 05.00, ibunya saja belum selesai masak di dapur untuk persiapan di warung makannya. Ia mengintip di jendela sebelum membuka pintu, seorang pria setengah baya berada di depan pintu rumahnya.


"Maaf Non, ini benar rumahnya Nona Asha ya?" tanya pria itu.


"Benar, Bapak ini siapa ya?"


"Saya di suruh pak Ari produser film, untuk menjemput Nona Asha. Sebenarnya masih jam 6 tapi saya takut kesiangan, ternyata jalannya lancar,"


"Produser film ya, sebentar saya bangunkan kakak. Silahkan duduk dulu,"


Kia mempersilahkan dengan sopan.


"Tidak usah Non, saya nunggu di teras saja,"


Bapak itu duduk di teras, sambil mengibas-ngibaskan topi ke badannya, sepertinya dia gerah. Setelah memanggil kakaknya, Kia membuatkan bapak itu kopi.


"Silahkan di minum, kakak masih ada di kamar mandi," ucap Kia.


"Terima kasih Non, seharusnya jangan repot-repot. Saya hanya menjemput Nona Asha saja,"

__ADS_1


"Tidak repot kok Pak, bunda saya memang jualan. Itu warungnya di sebelah, sebentar lagi juga buka. Saya tinggal masuk dulu, silahkan di makan juga kuenya,"


Kia berucap dengan sopan, lalu dia masuk ke dalam untuk membantu ibunya memindahkan masakan yang sudah matang ke warung.


"Pak Slamet, tunggu sebentar ya saya bersiap dulu," ucap Asha.


"Iya Non tidak apa-apa, memang salah saya yang jemputnya kepagian,"


"Seharusnya tidak perlu di jemput, pak Ari saja yang terlalu kuatir. Padahal naik motor di pagi hari juga tidak masalah,"


"Mungkin karena Nona Asha adalah pemeran utamanya saat ini, jadi beliau merasa harus menjaga keamanannya,"


Setelah berbasa-basi sebentar, Asha kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah selesai ia berpamitan kepada keluarganya.


"Bunda maaf ya aku tidak bisa membantu, hari ini sudah mulai syuting. Jadwalnya pagi sekali jadi tidak sempat membantu Bunda, aku pamit dulu ya Bunda,"


Asha segera menyalami ibunya lalu bergegas berangkat. Sepanjang jalan ia mengobrol dengan pak Slamet, ternyata ia sudah bekerja dengan pak Ari selama 5 tahun belakangan ini. Menurutnya pak Ari sosok pria yang baik, tidak pernah berbuat macam-macam dan sayang keluarga. Asha senang mendengarnya, ternyata tidak semua pria yang masuk di dunia entertain itu br*ngsek.


"Terima kasih sekali sudah mau menjemput ya, Pak," ucap Asha ketika sampai.


Asha segera masuk dan bergabung dengan yang lain. Sebelum berangkat mereka di briefing terlebih dahulu. Setelah selesai mereka segera berangkat ke lokasi yang memakan waktu sekitar satu jam perjalanan. Semua tim sangat antusias dengan syuting ini.


"Asha, akting kamu bagus sekali. Tidak salah aku memilih mu sebagai pemeran utama, kamu terlihat sangat menjiwai. Good job, Asha," puji pak Ari di sela-sela syuting.


"Terima kasih, saya masih harus banyak belajar. Ini semua tidak terlepas dari bantuan kru dan pemain yang lain, Pak," ucap Asha.


"Kamu itu memang selalu merendah, itu yang aku suka dari dirimu. Seorang entertain sejati bukan hanya harus pandai menghibur, tapi harus punya attitude yang baik agar bisa mencapai puncak kejayaan,"


Pria itu menggenggam tangan Asha, ia begitu kagum dengan personality gadis itu. Cantik, baik dan tidak sombong, jarang sekali wanita seperti dia. Biasanya artis baru jika di puji sedikit sudah membuatnya melambung tinggi dan menjadi sombong. Namun dirinya adalah pria yang setia, perasaannya pada Asha hanya sebatas kagum saja tidak lebih. Setidaknya itu yang ia rasakan saat ini.


Suasana syuting berjalan lancar sesuai rencana. Mereka istirahat untuk makan siang, Vinu terlihat mendekati Asha yang sedang makan sendirian.


"Hai, boleh aku duduk di sini?" tanya Vinu.


"Tentu saja," Asha menjawab dengan ramah.

__ADS_1


Vinu mulai melancarkan gombalan mautnya, namun Asha yang sudah terbiasa dengan sikap Vinu hanya tertawa menanggapinya. Dia tidak mau terlalu serius menanggapi karena ia tahu Vinu sudah berkeluarga.


"Apa kamu selalu seperti ini kepada setiap gadis, Vinu?"


"Tentu saja tidak, hanya yang menurut ku menarik saja. Seperti kamu, dari awal berjumpa sudah membuat mata ku tak bisa berkedip,"


Asha spontan tertawa renyah, Vinu benar-benar playboy kelas teri. Gombalannya sudah terlalu umum dan mudah di tebak. Tanpa sengaja pak Ari melihat kedekatan mereka, dia tidak suka Asha terlalu dekat dengan Vinu yang seorang playboy. Vinu adalah tipe pria tidak setia, dia juga merasa heran mengapa istrinya masih bisa bertahan padahal Vinu sering ketahuan selingkuh. Ia merasa harus menyelamatkan Asha dari gangguan Vinu.


"Wah sedang mengobrol apa? Sepertinya seru sekali ya sampai suaranya kedengaran kemana-mana?" tanya pak Ari yang tiba-tiba datang.


Wajah Vinu tampak menjadi masam, sepertinya dia tidak suka dengan kehadirannya.


"Tidak ada yang serius kok Pak, Vinu hanya sedang menunjukkan kemahirannya menggoda wanita. Ternyata dia sangat berbakat, tidak kaget jika banyak wanita yang mudah dia tahlukkan," seloroh Asha.


ucapannya membuat semuanya tertawa, tidak di sangka Asha ternyata juga punya sifat humoris. Pak Ari segera bergabung duduk bersama mereka, hal ini membuat Vinu merasa sedikit canggung.


"Sudah Vinu di lanjutkan saja, aku juga ingin belajar bagaimana menaklukkan hati wanita," sindir pak Ari.


"Ah pak Ari mana bisa, Bapak kan terkenal sebagai pria yang setia. Jangan coba-coba Pak, nanti ketagihan,"


Vinu mengedipkan matanya, tingkah laku pria itu selalu mengundang gelak tawa.


♥︎♥︎♥︎


Beberapa saat kemudian.


Syuting hari ini telah selesai, semua kru dan pemain film pulang ke rumah masing-masing.


"Asha biar aku yang mengantar pulang, pak Slamet sudah aku suruh pulang duluan tadi," ucap Pak Ari.


"Tidak perlu repot Pak, saya bisa naik taksi. Keluarga Bapak pasti sudah menunggu di rumah," tolak Asha.


"Tidak repot kok, sekalian ada yang ingin aku bicarakan juga dengan mu,"


Asha akhirnya setuju, mereka berdua pulang bersama. Di liriknya wanita di sampingnya itu, selama belasan tahun di dunia film baru sekarang ia merasa ada rasa berbeda kala berdekatan dengan lawan jenis. Selama ini dia selalu setia, tidak pernah tergoda dengan wanita lain secantik apapun parasnya. Namun berdekatan dengan Asha membuat jantungnya berdetak lebih kencang, ia juga tidak suka melihat kedekatannya dengan Vinu. Apa ini yang di namakan puter kedua?

__ADS_1


__ADS_2