
"Apa yang kamu katakan, Luna? Kenapa memanggil pria itu kakak?" tanya Asha sembari mengendurkan pelukannya dari gadis itu.
"Dia memang kakak kandung ku, maafkan perbuatannya ya Kak," jawab Luna tertunduk malu.
Indra merasa malu, ia kemudian menyuruh teman-temannya pergi. Awalnya mereka menolak namun akhirnya pergi juga walau menggerutu.
"Cepatlah pergi, lain kali hati-hati jangan mengendarai motor dengan pelan di area yang rawan. Ayo Luna, kita pulang," ucap Indra.
"Terima kasih, sampai ketemu lagi Luna,"
Asha melambaikan tangan, Luna tersenyum dan membalasnya. Indra hanya sekilas melirik Asha tanpa berkata-kata lagi. Asha langsung tancap gas menuju rumah.
♥︎♥︎♥︎
Pagi hari yang cerah, matahari masuk dari sela-sela gorden yang di singkap, hanya meninggalkan dalaman yang transparan. Asha menggeliatkan tubuhnya yang masih sangat mengantuk, Kia sudah tidak ada di tempatnya, pasti dia yang membuka jendela.
"Selamat pagi kakak ku tersayang, nyenyak sekali tidurnya sampai 2X aku bangunin tapi masih merem saja," sapa Kia.
"Benarkah, kenapa aku tidak merasa ya. Semalam aku hampir di begal, untung saja ada yang menolong. Aku tidak bisa tidur karena memikirkannya," jelas Asha.
"Astaga, yang benar Kak? Terus bagaimana ceritanya sampai bisa lolos?" tanya Kia tak percaya.
Asha lalu menceritakan semua kejadian semalam, mulai saat di pom bensin dan bertemu Luna hingga kejadian di cegat kawanan begal yang ternyata salah satunya adalah kakak dari Luna.
"Beruntung sekali Luna belum pulang ya Kak, jika tidak kita tidak tahu apa yang tega mereka lakukan kepada Kakak. Jadi penasaran dengan keluarga mereka, sepertinya mereka baik, hanya saja mungkin terpaksa karena keadaan dan lingkungan," ucap Kia.
Asha membenarkan ucapan Asha, mereka sepertinya memang baik hanya saja mungkin terpengaruh lingkungan sehingga menjadi seperti itu.
"Kia, berjanjilah jangan ceritakan hal ini kepada bunda ya. Aku tidak mau dia kuatir, aku berjanji akan lebih berhati-hati," pinta Asha.
"Iya, baiklah. Tapi benar Kakak harus lebih waspada," ucap Kia.
Saat tengah asyik bercerita, ponsel Kia berdering. Ternyata Rena yang menghubunginya, ada apa gerangan gadis itu menelepon sepagi ini?
"Halo, Rena," sapa Kia.
"Kia, aku di depan rumah mu saat ini. Bisakah kita mengobrol sebentar, ada hal penting yang harus aku ceritakan?" tanya Rena.
"Apa, di depan rumah? Baiklah, aku segera kesana,"
__ADS_1
Kia bergegas keluar rumah, benar saja Rena tengah duduk di teras sembari melihat ibu Kia yang sedang melayani pembeli.
"Hei Rena, kenapa tidak langsung masuk saja," sapa Kia.
"Tapi ibu mu sudah menyuruh ku, tapi aku memilih di sini saja. Ibu mu pandai berbisnis ya, dari tadi ramai terus yang beli," balas Rena.
"Alhamdulillah, padahal aku dan kakak sudah menyuruhnya di rumah saja. Tapi katanya bosan, badannya kaku jika tidak ada kegiatan," jelas Kia.
"Eh bentar ya,"
Kia menuju warung ibunya, ternyata ibunya sudah membuatkan Rena minuman, namun belum sempat mengantarkannya karena ramai.
"Ayo di minum Rena, kue nya juga di makan ya. Itu buatan bunda ku,"
Tanpa menunggu lama Rena segera mencoba kue dan minuman yang Kia suguhkan. Ia memuji kue buatan ibunya.
"Oh iya, tadi katanya mau bicara hal penting? Apa ada masalah, Ren?" tanya Kia.
Rena terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sepertinya sebuah kertas dengan sampul tebal berlabel sebuah nama rumah sakit.
"Apa ini, Rena?" tanya Kia bingung.
Kia mulai membukanya, sepertinya ini adalah hasil pemeriksaan atas nama Roki. Walaupun dia tidak terlalu mengerti istilah-istilah kedokteran namun ia sangat yakin hasil pemeriksaannya baik.
"Jujur aku tidak terlalu mengerti istilah-istilah di dalamnya, tapi sepertinya hasil pemeriksaannya bagus," ucap Rena.
"Roki sudah membohongi ku, ternyata selama ini dia baik-baik saja Kia. Penyakit kelainan jantung itu hanya karangannya saja, agar aku tidak tega meninggalkannya walaupun dia berulang kali selingkuh," jelas Rena mulai menangis.
"Maaf Rena, tapi aku memang sudah tidak yakin. Selama ini dia terlihat baik-baik saja, sedangkan kelainan jantung menurut ku adalah penyakit yang cukup serius," ucap Kia, jujur.
"Lalu aku harus bagaimana, Kia?"
"Lebih baik kamu jujur, kepada keluarga mu dan juga keluarga Roki. Aku yakin mereka bisa menerima apapun keputusan mu. Jika Roki benar-benar mencintai mu, dia pasti akan mempertahankan mu dan berubah,"
Rena menyetujui saran Kia, ia akan mencoba berbicara dengan kedua keluarga. Begitu teganya Roki membohonginya, setelah kebersamaan mereka sekian lama. Karena Kia harus bersiap-siap berangkat kerja, Rena segera berpamitan.
"Jadi tadi itu tunangannya Roki?" tanya Asha.
"Iya Kak, padahal cantik dan baik hati. Tapi heran kenapa Roki masih mencari wanita lain," jawab Kia.
__ADS_1
"Memang dasarnya dia itu playboy, tidak akan pernah merasa puas hanya dengan satu wanita. Pria seperti itu selalu melihat rumput tetangga lebih hijau," ucap Asha.
"Kakak benar, menurut ku bunda lebih segalanya dari tante Geya. Tapi lihat saja, ayah lebih memilih wanita itu," balas Kia kesal.
Keduanya sama-sama setuju, karena begitulah yang terjadi dalam kehidupan di sekitar mereka saat ini.
♥︎♥︎♥︎
Saat tiba di kantor, suasana tampak ramai. Kia segera menghampiri Sisil yang berada di kerumunan.
"Ada apa, Sil? Kenapa berkerumun begitu sih?" tanya Kia heran.
"Itu tadi Roki dan tunangannya bertengkar, sepertinya tunangannya pingsan," jawab Sisil.
"Apa? Di mana dia sekarang?" tanyanya lagi.
"Sepertinya di bawa ke belakang, Roki menolak tunangannya di bawa ke rumah sakit,"
Kia lalu bergegas mencari Rena, ia bertanya kepada orang-orang yang berkerumun namun tidak ada yang menjawab. Ia berlari menuju ruang belakang yang biasanya di gunakan untuk beristirahat, benar saja ada Rena yang sedang pingsan bersama Roki dan beberapa staf lain.
"Rena, dia kenapa? Apa yang kamu lakukan sehingga membuatnya pingsan seperti ini?" tanya Kia emosi.
Ia menarik kerah baju Roki, membuatnya dan semua orang di sana terkejut melihat perbuatannya.
"A-pa ka-mu me-ngenal dia?" tanya Reno tiba-tiba gagap.
"Tidak perlu banyak tanya, jawab saja pertanyaan ku tadi. Apa yang kamu lakukan sehingga membuatnya pingsan?" ulang Kia sembari mengepalkan tangannya mendekati wajah Roki.
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya, tanya saja kepada yang lain jika tidak percaya," jawab Roki berkilah.
"Bohong, apa yang tadi kamu katakan sebelum dia pingsan?" tanya Kia memaksa.
"Aku hanya berkata jujur, saat dia memintaku jujur,"
Kia menatap tajam ke arah Roki karena tidak puas mendengar jawabannya.
"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya, aku tidak pernah mencintainya selama ini dan hanya memanfaatkannya saja,"
Plak...
__ADS_1
Sebuah tamparan melesat di pipi Roki.