Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 37 Kecewa


__ADS_3

"Apa maksud semua ini, Pak? Apakah ini benar?" tanya Asha penuh emosi.


Asha menunjukkan sederetan fotonya bersama pria itu, yang paling membuatnya tercengang adalah foto di mana pria itu tega melecehkannya. Ia ingat betul foto itu pasti di ambil saat kejadian Vinu membuatnya tidak sadar, karena baju yang mereka pakai sama saat kejadian.


Dia benar-benar tidak percaya, ia masih berharap semua hanya rekayasa yang di lakukan orang yang tidak suka dengan kedekatan mereka. Namun rasa gelisah yang menggelayuti wajah pria di depannya seolah menyiratkan kebenaran foto itu.


"Tolong jelaskan semua ini, Pak," pintanya tegas.


"Asha, ini tidak seperti yang kamu lihat,"


Ia berusaha menjelaskan, namun tidak menemukan kata-kata yang pantas untuk membenarkan perbuatannya. Ia tidak ingin menyakiti gadis ini, namun ia sudah terlanjur membuatnya terluka.


"Jadi maksudnya ini semua hanya rekayasa?" tanya Asha lagi.


"Aku khilaf, Asha. Aku benar-benar hilang kendali saat itu, entah mulai kapan rasa itu tumbuh. Aku mencintai mu..."


Akhirnya ia mengakui perbuatan dan juga perasaannya selama ini, rasanya tidak mungkin menutupinya lagi. Saat ini yang ia pikirkan hanya tentang keutuhan rumah tangganya dengan Selena. Benar-benar menampakkan sosok pria yang egois, selalu berharap yang terbaik untuk dirinya sendiri. Apalagi yang di pikirkan jika bukan tentang harta, karir, kesuksesan dan semacamnya.


"Saya kira Bapak berbeda dengan pria lain, semua orang mengatakan jika anda tipe pria setia. Ternyata anda lebih sadis dari Vinu, dalam kebaikan yang anda lakukan ternyata tersimpan niat buruk. Mungkin saya yang terlalu naif, saya lupa jika sifat dasar pria itu sama saja, egois dan tidak pernah puas hanya dengan satu wanita,"


Air matanya tumpah bersama harga dirinya yang telah di injak-injak pria tua ini. Orang yang ia anggap sebagai ayah dan suami yang baik ternyata tidak lebih baik dari ayah kandungnya sendiri. Bahkan ia sudah tega melecehkannya saat dirinya tidak sadar.


"Aku minta maaf, beribu-ribu maaf pada mu. Aku juga tidak menyangka akan begini, awalnya aku benar-benar tulus. Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari jika aku mencintai mu, aku tidak bisa mencegah rasa itu,"


"Pak, anda sudah punya istri dan anak. Harusnya bisa menjaga hati dan mata hanya untuk yang di rumah. Selama ini saya bersikap wajar dan tidak pernah menggoda, Anda sudah saya anggap seperti ayah saya,"


Asha menyeka air matanya, ia tidak ingin menjadi tontonan. Apalagi masih ada beberapa wartawan pencari berita yang masih sibuk mewawancarai artis lainnya.

__ADS_1


"Jangan pernah hubungi saya lagi. Saya tidak akan melaporkan semua ini, hanya untuk membalas kebaikan Anda selama ini. Tapi apapun yang akan terjadi kepada Anda maupun keluarga Anda, jangan pernah melibatkan saya lagi,"


Asha segera menyambar tasnya dan berlalu meninggalkan pria itu sendiri. Ia segera memesan taksi online dan pulang dengan penuh rasa kecewa yang tertahan. Sementara pak Ari masih diam termenung di tempat duduknya, ternyata pemeras itu tidak main-main dengan ancamannya.


"Kurang ajar sekali dia, siapa sebenarnya orang yang memeras ku ini," ucapnya dengan nada kesal.


Tak berselang lama sebuah pesan wa masuk, pemeras itu mengirimkan pesan.


[Pertunjukkan yang sangat menghibur, bagaimana rasanya di tinggalkan? Sakit ya? Hahaha...]


[Bagaimana jika foto-foto itu aku kirim pada Selena? Ingat sediakan 10 milyar, jika kamu masih menginginkan pernikahan kalian tetap utuh.]


Dua pesan itu benar-benar membuatnya cemas, ia ragu apakah benar setelah ia memberikan 10 milyar pemeras itu tidak akan mengirimkan foto-foto itu kepada istrinya. Pikirannya kalut, ia memilih untuk menginap di hotel saja agar sedikit tenang.


[Sayang, aku sedang ada pekerjaan. Besok aku baru bisa pulang ke rumah.]


Ciiittt... Brukkk... Brukkk


Terdengar suara rem berdecit sebelum terdengar suara benturan yang cukup keras. Orang-orang sekitar berhamburan mendekati tempat kejadian perkara. Mobil penyok di bagian depan dan sisi samping pengemudi, pak Ari sudah tidak sadarkan diri dengan darah menetes dari kepala dan kakinya.


Orang-orang sekitar segera membantunya untuk keluar dari dalam mobil supaya segera mendapatkan pertolongan, namun kakinya yang terjepit menyulitkan mereka untuk mengevakuasi. Setelah sekitar 30 menit, masyarakat dan pihak berwajib baru berhasil mengeluarkannya. Ia segera di bawa ke rumah sakit terdekat.


♥︎♥︎♥︎


Keesokan harinya.


Tayangan infotainment dan koran memberitakan tentang kecelakaan yang menimpa pak Ari kemarin, ternyata keadaannya cukup kritis dan memprihatinkan. Bahkan saat berita itu di turunkan dia masih belum sadarkan diri, sepertinya benturannya cukup keras sehingga lukanya cukup parah.

__ADS_1


"Sayang, itu bukannya produser kamu? Yang tempo hari kesini dan pesan nasi Bunda, itu dia bukan?" tanya bu Aida.


Asha segera menyimak siaran tv yang ibunya maksud, ibunya benar itu memang pak Ari yang terlibat kecelakaan.


"Astaga, iya Bunda benar. Padahal kemarin kita konferensi pers dan dia baik-baik saja, takdir memang tidak ada yang pernah tahu. Siapa menanam, ia juga yang menuai. Semoga dia bisa selamat," ucap Asha.


Bu Aida melirik putrinya penuh tanda tanya, dia tidak mengerti sepenuhnya maksud ucapan putrinya. Ia merasa sangat penasaran.


"Apa maksudnya, Nak?" tanyanya.


"Tidak ada Bunda, hanya saja di dunia ini tidak pernah ada orang yang benar-benar baik. Apalagi yang namanya kaum pria, makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah di miliki,"


Bu Aida makin bingung dengan kata-kata putrinya. Tapi ia tidak mau ambil pusing, putrinya pasti akan bercerita jika menurutnya perlu. Mereka memilih melanjutkan aktivitasnya membuat masakan untuk warung.


"Kak, ada beberapa orang berseragam polisi mencari Kakak. Mereka ada di teras, tadi aku suruh masuk mereka tidak mau,"


Kata-kata Kia menimbulkan tanda tanya besar untuk semuanya. Untuk apa pagi-pagi polisi datang ke rumah mereka? Mereka segera meninggalkan aktivitasnya dan menuju ke depan. Tampak tiga orang polisi dengan postur tinggi tegap, dua orang sudah tua yang seorang lagi masih muda dan tampan.


"Selamat pagi, Pak," sapa Asha.


"Selamat pagi, apakah anda Nona Asha?" tanya salah seorang polisi.


"Iya, saya Asha. Ada apa ya, Pak?" tanyanya.


"Kita hanya ingin meminta keterangan tentang pak Ari, produser film yang terakhir terlihat bersama Anda. Beliau mengalami kecelakaan dan keadaannya sangat parah, beliau masih koma,"


"Saya sudah melihatnya baru saja di beritakan tv, saya sangat prihatin. Saya harap beliau bisa cepat sembuh, tapi terakhir bertemu beliau saat acara konferensi pers kemarin. Setelah itu saya pulang dengan taksi online,"

__ADS_1


__ADS_2