
Seminggu kemudian.
Asha sudah kembali menjalankan rutinasnya sebagai model, banyak pose indah yang ia hasilkan. Film yang ia perankan masih belum di putar, apalagi kabarnya sang produser masih menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit swasta. Namun keadaannya di kabarkan telah membaik.
Kecelakaan Ari Sanjaya di beritakan murni karena yang bersangkutan tidak fokus ketika menyetir sehingga menyebabkan kelalaian yang berdampak menabraknya mobil yang ia kendarai. Nama Asha sama sekali tidak di kait-kaitkan dengan berita itu, karena polisi sudah menyelidiki dan menanyai para saksi di saat kejadian.
"Asha, cepat kemari," panggil Jimmy.
"Ada apa, Bang?" tanyanya.
"Kamu sudah dengar belum beritanya, kabarnya pak Ari produser mu itu ada main serong dengan seorang wanita,"
"Oh ya, sama siapa? Abang jangan jadi lambe turah, memangnya tahu darimana?"
"Ini tidak mungkin salah, karena info ini di dapat dari orang dalam. Bahkan katanya Ibu Selena istrinya itu sudah tahu dan menggugat cerai. Kasihan ya, padahal kondisinya belum begitu baik tapi malah dapat cobaan lagi,"
Asha jadi bertanya-tanya, apakah ini ada sangkut pautnya dengan foto yang pernah orang kirim ke ponselnya, atau pria itu benar-benar punya selingkuhan.
"Katanya juga, selingkuhannya itu juga pernah main film untuknya. Menurut mu siapa kira-kira? Sedikit banyak kamu kan kenal dengan artis-artis itu,"
"Aku tidak tahu Bang, aku juga tidak ingin terlalu ikut campur masalahnya, karena itu bukan urusan ku,"
Jimmy melihat suatu kejanggalan dalam ekspresi wajah Asha, walaupun mereka mengenal tidak terlalu lama, namun berinteraksi dengannya hampir setiap hari membuatnya sedikit tahu banyak mengenai karakter wanita cantik ini.
"Aku tahu kamu mengetahui sesuatu, tapi tidak apa-apa jika memang tidak mau cerita. Ini memang bukan urusan kita, ayo kita makan siang,"
Baru saja Jimmy melangkah, Asha sudah mencegahnya. Jimmy merasa heran namun ia kembali duduk di samping gadis itu.
"Ada apa, Asha?"
"Aku ingin bercerita, tapi Abang harus berjanji untuk merahasiakannya ya," pinta Asha.
__ADS_1
"Aku janji, apapun yang kamu ceritakan akan selalu aku simpan," ucap Jimmy.
Asha segera mengambil ponselnya, terlihat ia sedang melihat galery foto. Ia segera menyerahkan ponselnya untuk Jimmy lihat, pria itu terlihat menggeser foto beberapa kali. Semakin lama matanya kian membulat sehingga terlihat seperti mata sapi.
"Apa foto ini bukan editan? Apa mungkin dia berbuat begini?"
Jimmy benar-benar tidak percaya dengan yang ia lihat, bahkan ia menyangka ini hanyalah sebuah editan yang di lakukan orang yang tidak bertanggung jawab.
"Tadinya aku menyangka ini semua hanya rekayasa, namun dia sudah mengakui semuanya usai konferensi pers saat itu. Aku benar-benar kecewa kepadanya, makanya aku memilih tidak berhubungan apapun lagi dengannya,"
Rania menunduk mengingat semuanya, walaupun hanya ciuman bibir itu merupakan hal serius baginya. Selama ini dia tidak pernah berpacaran apalagi yang namanya ciuman bibir, ia tidak pernah melakukannya.
"Astaga, aku benar-benar tidak menyangka. Ini termasuk pelecehan seksual, kenapa tidak kamu laporkan ke pihak berwajib. Mungkin saja selama ini dia juga sering melakukan hal itu kepada wanita lain, Asha,"
"Aku tahu, tapi aku tidak ingin memperkeruh masalah. Sebenarnya aku hanya tidak tega kepada istri dan anaknya, aku memikirkan nasib pernikahan mereka jika sampai ini tersebar. Aku tahu rasanya kehilangan ayah karena di rebut wanita lain, sakit sekali Bang,"
Jimmy menghela napas panjang, betapa baik gadis di sampingnya ini yang masih memikirkan kehidupan orang lain. Jika gadis lain sudah pasti akan mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini, namun dia justru memilih mengalah padahal dia di sini sebagai korban.
Jimmy mengusap punggung Asha dengan lembut, ia sangat mengerti betul apa yang di rasakannya.
"Walaupun aku bahagia dengan hidup ku sekarang tanpa seorang ayah, tapi lebih menyenangkan jika kita mempunyai keluarga yang utuh Bang,"
"Iya aku tahu, istirahatlah jika kamu merasa tidak nyaman. Aku tahu kamu gadis yang kuat, tapi sekuat-kuatnya seseorang pasti membutuhkan pundak orang lain untuk bersandar. Aku bersedia menjadi sandaran mu, jika kamu menginginkan,"
Asha tersenyum menanggapi ucapan Jimmy, pria ini begitu tulus selalu membantunya selama ini. Entah berapa kali ia berjasa dalam hidupnya, ia sampai tak tahu harus bagaimana membalas kebaikan pria itu.
"Kenapa Abang sangat baik kepada ku, aku takut nanti ada yang salah paham pada ku," ucap Asha.
"Kamu itu gadis baik jadi sepantasnya semua orang juga baik terhadap mu. Tenang saja aku masih belum laku, jadi pasti tidak akan ada salah paham,"
Mereka tertawa bersama, ada kehangatan tersendiri saat bersama pria ini. Mungkin karena Asha tidak punya saudara laki-laki, sedangkan sosok ayah sudah cacat di matanya, sehingga kehadiran Jimmy yang selalu melindunginya berhasil membuatnya merasa nyaman.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Jimmy berdering, pria itu segera mengangkatnya.
"Halo, ada apa aku sedang sibuk?"
"Ah yang benar, ok terima kasih infonya,"
Entah siapa yang menelepon dan apa yang mereka bicarakan, yang jelas setelahnya senyum pria itu merekah.
"Coba tebak, berita apa yang aku dengar barusan?" tanyanya.
"Ya mana aku tahu, Bang. Ehm... Mungkin Abang mau di nikahkan sama orang tuanya," jawab Asha sekenanya.
"Hahaha... ada-ada saja kamu, aku baru mau di nikahkan jika calonnya seperti kamu. Tapi bercanda," selorohnya.
Mereka berpandangan dan kemudian tertawa serempak sampai mata mereka terlihat terpejam.
"Kamu mau tahu tidak, berita spektakuler yang saat ini sedang jadi perbincangan hangat di dunia hiburan?"
"Kalau mau cerita ya cerita saja Bang, kalau tidak juga tidak masalah,"
"Huh dasar kamu, tidak asyik kalau di ajak bergosip. Selena menarik gugatannya karena memikirkan anaknya, dan pak Ari akan melakukan konferensi pers setelah keluar dari rumah sakit. Kita lihat saja apa yang ingin dia katakan, kabarnya ada seseorang yang memerasnya dengan foto-foto perselingkuhannya,"
"Duh, Abang itu sudah ngalahin infotainment ya. Beritanya selalu up to date. Ya sudah aku mau ke mini market depan dulu, ada sesuatu yang mau aku beli,"
Asha segera berlari menyeberang jalan depan studio, sebuah mobil sedan berwarna putih melaju ke arahnya. Jimmy reflek berteriak.
"Asha, awas,"
Jarak mereka agak jauh, sehingga Jimmy tidak bisa menjangkau Asha. Gadis itu menoleh ke arah Jimmy, lalu melihat mobil yang melaju ke arahnya.
Brukkk...
__ADS_1
Semua terlambat, Asha tidak sadarkan diri.