
Keesokan harinya.
Asha terbangun dengan kepala masih sedikit sakit, ia melihat sebuah karangan bunga cantik menghiasi meja di sebelahnya. Tidak mungkin ibunya yang membelinya karena beliau tidak pernah beranjak dari sisinya, lalu siapa yang memberikannya bunga?
Dengan perlahan ia mengambil bunga itu sembari menunggu ibunya yang sedang menemui dokter. Seulas senyum terpancar dari wajah cantiknya.
"Selamat pagi Cantik, semoga cepat sembuh ya. Aku tidak sabar untuk segera pulang ke Indonesia untuk menemui diri mu. Aku merindukan mu,"
Ternyata Erik yang mengiriminya bunga, pria itu sangat misterius. Entah darimana ia mengetahui jika dirinya sedang berada di rumah sakit, padahal ia tidak memposting apapun di wa ataupun semua akun media sosialnya. Ia hanya sebentar berinteraksi dengan Erik, karena pria itu memutuskan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang fotografer berkualitas. Ia mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung kepada seorang fotografer terkenal di luar negeri.
"Cantik sekali, bunga dari siapa itu Sayang?" tanya ibunya berhasil mengejutkan Asha.
"Dari teman yang ada di luar negeri, Bunda," jawab Asha.
"Hah? Kok jauh sekali sampai mengirimi kamu bunga, dia pesan lewat apa?"
Ibunya terlihat bingung, sama dengan dirinya yang juga tidak tahu bagaimana bunga ini bisa sampai di kamarnya. Walaupun zaman sekarang memang serba canggih, namun jujur dirinya masih bingung bagaimana bunga itu bisa sampai tanpa ada yang tahu.
♥︎♥︎♥︎
Sementara itu di kantor Kia, nasabah sudah banyak yang mengantri sejak kantor mulai beroperasional. Rendi juga sedang antri di bagian teller, namun pandangannya hanya tertuju pada Kia. Awalnya gadis itu tidak tahu, namun tatapannya yang intens membuat Kia segera sadar. Keduanya menjadi salah tingkah namun tetap berusaha tenang.
Beberapa saat kemudian giliran pria itu ke teller, tampak ia sedang menyetor banyak sekali uang. Kia diam-diam memperhatikan pria itu, ia menyimpulkan jika kemungkinan Rendi adalah seorang pengusaha muda.
"Kia, nanti sore aku temani kamu ke rumah sakit ya?" tanya Rendi tiba-tiba membuat Kia kaget. Pria itu sudah berada di depan mejanya.
"Boleh, tapi apa tidak merepotkan kamu. Pekerjaan mu kan pasti banyak," jawab Kia.
"Masalah pekerjaan bisa di atur, ya sudah sampai ketemu nanti sore ya,"
Rendi kemudian berlalu dari sana karena antrian di depan Kia masih banyak, ia tidak ingin gadis itu mendapat masalah. Pria itu tampaknya menaruh hati kepada Kia yang memang cantik dan menarik.
♥︎♥︎♥︎
Sore harinya.
__ADS_1
Matahari tampak menghilang berganti mega mendung yang tebal menyelimuti kota Surabaya saat ini. Bahkan rintik-rintik gerimis sudah mulai menyapa, namun Rendi begitu tenang menunggu kepulangan Kia di depan kantornya. Terkadang pemuda itu menyapa orang yang berlalu lalang, sepertinya pria ini sangat ramah walaupun orang kaya.
"Rendi? Kamu sudah dari tadi?" tanya Kia.
Mata gadis itu membulat sempurna menatap pria berkacamata yang wajah dan tampilannya saat ini seperti oppa-papa Korea. Sejenak kemudian keduanya saling melemparkan senyum.
"Baru saja kok, mau pulang ke rumah dulu atau langsung ke rumah sakit?"
Pria ini begitu pengertian sekali, seperti tahu dengan pikiran Kia.
"Aku ganti baju dulu sekalian mandi di rumah, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Kia dengan wajah menggemaskan.
Hari ini Kia memang tidak membawa motor, tadi pagi motornya ia tinggal di bengkel dekat rumahnya untuk di service.
"Ya tidak apa-apa dong, ayo,"
Rendi dengan sigap membukakan payung untuk Kia agar gadis itu tidak terkena gerimis yang sudah berubah menjadi rintik hujan. Udara yang dingin menambah syahdu suasana saat itu. Hanya butuh beberapa menit sampai di rumah Kia yang tidak terlalu jauh.
"Ayo masuk dulu," ajak Kia.
"Kuenya enak sekali, rumah kamu juga nyaman sekali Kia," puji Rendi.
"Oh ya, itu buatan bunda ku. Tapi karena sibuk di warung bunda jadi jarang buat kue lagi, di makan yang banyak kalau enak. Ini rumah sederhana tapi memang nyaman banget,"
Setelah mengobrol sebentar mereka segera berangkat. Rintik hujan berubah menjadi deras, mereka berjalan tanpa jarak di bawah payung agar tubuh mereka tidak terlalu basah terkena cipratan air hujan. Perjalanan terasa begitu ramai dengan celotehan mereka berdua. Perkenalan yang singkat tidak begitu kentara karena kehangatan yang di bangun keduanya sudah seperti teman lama.
"Kakak... bagaimana keadaan Kakak?"
Kia langsung memeluk kakaknya yang tengah duduk di ranjang rumah sakit dengan erat, membuat Asha terkesiap karena terkejut.
"Kia? Wah kesini bareng Rendi lagi ya? Alhamdulillah aku sudah sehat, tapi baru besok bisa pulang,"
Rendi segera menyalami Asha dan bu Aida, sudah seperti calon menantu saja. Mereka senang Kia bisa dekat dengan seorang pria, apalagi sepertinya Rendi anak yang baik.
"Ini Rendi semua yang bawa Kak, aku tidak tahu karena ternyata sudah ada di dalam mobilnya,"
__ADS_1
Kia memberikan 3 kantong belanja berisi bermacam kue dan buah yang Rendi bawa.
"Aduh Ren, kamu repot-repot sekali. Yang kemarin saya masih ada sisa, sekarang kamu bawa lagi. Terima kasih sekali ya," ucap Asha.
"Iya Nak Rendi, tidak perlu repot-repot kalau kesini. Sudah menjenguk saja kita merasa sangat senang," imbuh bu Aida.
"Tidak apa-apa Kak, Bu. Kalian hanya berdua jadi biar tidak perlu keluar-keluar lagi jika butuh sesuatu," balas Rendi.
Jarang-jarang ada pria yang pengertian seperti ini, tentu mereka semua merasa senang.
"Besok kan hari minggu, jadi aku ikut menginap di sini ya," ucap Kia.
"Wah ramai nih, kakak senang sekali bisa tetap bersama walau di rumah sakit,"
Mereka mengobrol tiada henti, tidak terasa makin semakin larut. Rendi segera izin untuk pulang, Kia mengantarkan pria itu sampai di depan.
"Rendi, terima kasih sekali ya untuk semuanya,"
"Sama-sama, Kia,"
Kia tersenyum dengan tulus, tidak menyangka ada pria sebaik Rendi. Semoga saja kebaikannya tulus, ia tidak ingin menjadi perusak hubungan seseorang jadi harus memperjelas semuanya.
"Rendi, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja Kia, tanya saja kenapa harus izin segala sih,"
"Aku tidak ingin merusak hubungan seseorang, aku tidak ingin ada yang salah paham dengan kedekatan kita. Aku...,"
"Aku masih sendiri Kia, belum punya seorang kekasih apalagi istri. Jika punya tidak mungkin aku mendekati mu seperti ini,"
Seolah mengerti pikiran Kia, Rendi langsung memberi jawaban bahkan saat Kia belum menyelesaikan kalimatnya. Kia senang mendengarnya, bagaimanapun dia merasa nyaman berada dekat pria itu.
"Dari awal aku melihat mu, entah mengapa pandangan mata ku tak sanggup beralih dari menatap mu. Semakin mengenal mu, semakin aku tak bisa jauh dari mu. Sepertinya kamu telah berhasil membuat ku jatuh cinta Kia,"
Rendi berkata sembari menatap lekat kedua bola mata bening gadis itu, berusaha menyelami tentang perasaan yang ia rasakan, apakah sama dengan dirinya?
__ADS_1