Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 20 Menata Kembali


__ADS_3

"Bu Samantha," sapa Asha.


"Sayang sekali ya, kalian batal menikah karena kejadian ini. Aku harap kamu tetap menganggap aku sebagai ibu mu, karena sampai kapanpun Jason akan tetap mencintai mu. Jika ada pria yang kamu cintai, jangan lupa perkenalkan kepada ku," ucap Bu Samantha sembari menangis tertahan.


Asha segera memeluk wanita yang sedang rapuh itu. Mereka berdua berpelukan erat saling menguatkan. Bu Samantha adalah sosok ibu yang baik, Jason begitu mencintainya.


"Aku akan pergi ke Amerika setelah 7 hari kematian putra ku, aku ingin menenangkan diri. Ini terlalu sulit untuk ku, aku harap kamu bisa menjaga diri baik-baik. Teruslah bekerja untuk perusahaan kami ya,"


"Iya Bu, aku akan selalu mengabari Anda. Melupakan kejadian ini memang tidak mungkin, tapi saya selalu berdoa agar Ibu di beri kekuatan untuk bisa menerima kenyataan dan bangkit menjalankan bisnis kembali,"


Setelah mengobrol sebentar Asha kemudian berpamitan, ia memutuskan untuk ke salon agar lebih santai. Setelah dari salon ia sedikit berbelanja kebutuhannya serta membelikan ibu dan adiknya oleh-oleh.


***


Beberapa hari kemudian tepat 7 hari kematian Daniel dan Jason, bu Samantha berpamitan untuk meninggalkan Indonesia. Asha dan Jimmy mengantarnya ke bandara sebagai bentuk rasa hormat.


"Jim tolong jaga Asha, dia gadis yang baik. Sayang sekali putra ku hanya satu dan itupun sudah tidak ada, semoga kamu mendapat pria yang lebih baik ya, Sayang,"


Bu Samantha memeluk Asha seolah tidak ingin berpisah, entah mengapa ia begitu menyayangi gadis itu sejak awal berjumpa. Mungkin karena dulu ia pernah mempunyai seorang anak gadis, namun meninggal dunia karena suatu penyakit. Adik Jason hanya bertahan selama dua tahun sebelum Tuhan mengambilnya kembali.


Bu Samantha melambaikan tangan kepada mereka, perpisahan memang selalu menyedihkan. Jimmy segera mengantar Asha kembali ke rumahnya.

__ADS_1


"Besok pemotretan akan di mulai kembali, apa kamu masih merasa sedih?" tanya Jimmy saat di dalam perjalanan.


"Kesedihan ini hanya waktu yang bisa mengikisnya, Bang. Namun aku harus tetap melanjutkan hidup, aku harus kuat menghadapi semua," jawab Asha.


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, sampai mereka tiba di halaman rumah Asha. Setelah menyapa bu Aida, Jimmy langsung berpamitan. Besok pemotretan akan segera di lanjutkan, banyak pekerjaan yang harus Jimmy urus setelah beberapa hari vakum. Dia juga merasa sedih dengan meninggalnya Jason, karena bagaimanapun dia adalah orang yang membantu membesarkan usaha agency modelnya, terlepas dengan sifatnya yang suka main perempuan Jason merupakan pengusaha yang baik dan royal kepada pekerjanya.


Asha segera membersihkan diri dan membantu ibunya melayani pembeli yang datang silih berganti. Warung ibunya memang semakin ramai, bahkan sudah bisa merekrut karyawan. Walaupun begitu Asha dan Kia tetap membantu ibunya saat mereka senggang. Penampilan mereka yang cantik di tambah sikap mereka yang sangat ramah adalah nilai plus yang membuat pembeli selalu kembali.


Ketika mulai sepi Asha dan ibunya masuk untuk beristirahat sejenak. Mereka biasanya mengobrol ringan tentang apa saja, jika benar-benar lelah mereka akan tidur sejenak. Ini Asha lakukan semenjak pekerjaannya di liburkan sementara, ia memilih membantu ibunya untuk melupakan kesedihannya.


♥︎♥︎♥︎


Sore hari warung ibunya masih ada saja pembeli yang makan di tempat ataupun meminta di bungkus. Kia baru saja tiba dan memarkirkan motornya, wajahnya tampak sedih walaupun ia berusaha tetap tersenyum. Kia langsung masuk rumah setelah memberi salam. Asha dan ibunya tahu jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja, karena memang Kia tidak seperti Asha yang mampu menyembunyikan perasaannya.


"Kia, sini duduk dekat Kakak," pinta Asha setelah menaruh gadgetnya.


Kia menurut, ia duduk di sebelah Asha.


"Kenapa wajahnya cemberut begitu? Ayo ceritakan kepada ku,"


Asha mencubit pipi Kia karena gemas melihat ekspresi adiknya yang seperti sedang putus cinta saja. Asha mulai menggelitik perut Kia karena gadis itu tetap saja diam dan hanya memandangnya.

__ADS_1


"Ah, Kakak geli. Iya, iya aku akan cerita,"


Akhirnya Kia mengalah dan mulai bercerita.


Hari ini Kia mendapat informasi jika istri Reno sudah melayangkan gugatan cerai kepada pria itu, namun Reno menolak tegas. Ia bersikeras untuk tetap mempertahankan pernikahannya dan berjanji akan berubah, namun istrinya sudah bulat untuk meminta cerai. Karena prahara rumah tangga mereka anak mereka satu-satunya menjadi korban, ia di berikan sedang kritis karena penyakitnya kambuh.


Namun kedua orang tuanya bukannya mengalah justru tetap kukuh pada keputusan masing-masing, gadis kecil itu masih berjuang untuk terus hidup walau menggunakan bantuan alat medis di tubuhnya. Kia merasa sangat sedih, gadis kecil yang tidak berdosa itu telah menjadi korban dalam kemelut rumah tangga orang tuanya.


Secara tidak langsung ini semua terjadi karena Kia yang memberi kesempatan pada Reno untuk menyakiti istri dan anaknya. Kia merasa begitu bersalah, namun ia tidak tahu harus menebus rasa bersalahnya dengan bagaimana.


"Itu memang sulit, karena aku sudah mengalaminya. Rasanya begitu menyiksa, perasaan bersalah itu akan menjadi boomerang dalam kehidupan kita ke depannya. Lebih baik kita mulai menata lagi hidup ini, jangan menoleh lagi kepada masa lalu, anggap semua ini memang takdir yang harus terjadi. Jika bukan kita, pasti akan ada orang lain yang akan membuatnya terjadi,"


Kia menyimak nasehat kakaknya, ia benar bahwa hidup tidak akan maju jika hanya memandang masa lalu, apalagi masa lalu itu begitu kelam. Ia harus menata kembali hidupnya dan menjadikan yang lalu sebagai pembelajaran untuk ke depannya.


"Besok hari minggu, lebih baik kita jalan-jalan seperti dulu. Lupakan semua kesedihan, kita mulai kisah baru yang lebih berwarna. Jangan biarkan orang lain mempengaruhi hidup kita,"


Asha berbicara penuh semangat bak orang sedang berorasi, membuat Kia tertawa geli tapi terhibur.


"Setuju, mari kita bersama-sama membangun hidup yang lebih bahagia. Merdeka!"


Kia tak kalah kocak, ia berbicara dengan tangannya seolah menjadi mikrofon dan tangannya ia angkat ke atas.

__ADS_1


Lagi-lagi mereka tersenyum kembali. Terkadang begitulah hidup, penuh dengan lika liku. Ada suka ada juga duka yang melengkapi, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi masalah yang kita alami. Terkadang kita perlu bersahabat dengan keadaan untuk dapat bertahan.


__ADS_2