Sang Penakhluk Pria

Sang Penakhluk Pria
Bab 29 Di Temui Produser


__ADS_3

Launching produk baru telah selesai tepat saat makan siang, Asha, Jimmy dan semua model serta kru beristirahat sejenak.


"Jadi apa keputusan mu, Asha?" tanya Jimmy.


Asha menatap Jimmy penuh tanda tanya.


"Tentang tawaran main film itu?" tanyanya lagi.


"Oh... Aku masih memikirkannya," jawab Asha.


"Apa lagi yang kamu pikirkan, ini adalah kesempatan mu untuk mencoba hal lain. Bukankah bu Samantha juga sudah memberi lampu hijau, lalu untuk apa berpikir lagi," ucap Jimmy.


"Bang Jimmy ini bagaimana sih, aku belum pernah bermain film. Bagaimana jika aku mengecewakan mereka?" tanya Asha.


"Aku tahu, tapi aku percaya kamu mampu. Kamu sangat mudah belajar, aku percaya kamu bisa," jawab Jimmy.


"Modeling memang hobi ku dari saat sekolah, tentu saja lebih mudah bagi ku. Tapi untuk main film, aku belum pernah melakukannya," ucap Asha.


"Lalu bagaimana jika pak Ari menelepon kembali? Aku harus jawab apa?" tanya Jimmy.


"Ya katakan saja sebenarnya, Bang. Aku tidak ingin dia terlalu berharap, nanti malah mengecewakan," jawab Asha.


Asha sebenarnya berminat untuk bermain film, hanya saja dia masih ragu dengan kemampuannya. Dia tidak punya basic sama sekali di dunia akting, dia takut akan mengecewakan banyak pihak. Dia tidak ingin memaksakan diri untuk suatu hal yang ia tidak yakin bisa melakukannya dengan baik.


Setelah makan siang semua bersiap untuk melakukan pemotretan. Para model itu sangat fotogenik, hasilnya sangat memuaskan.


"Asha break dulu, ada tamu yang ingin bertemu," panggil Jimmy.


"Ada apa sih Jim, tanggung ini setelah ini dia selesai," ucap Haris.


"Ya baiklah, aku akan menyuruhnya menunggu," balas Jimmy.


Asha pun melanjutkan pemotretan, dia terlihat begitu seksi dan cantik. Saat tengah pemotretan Jimmy masuk ke studio bersama seorang pria, ternyata ia bersama produser Ari Sanjaya.


Pria itu tersenyum kepada Asha, namun gadis ini tetap bekerja profesional. Ari begitu terpesona melihat Asha, tidak salah ia begitu menginginkan wanita ini bermain film di production house miliknya. Menurutnya Asha begitu menjual, ia mempunyai aura bintang yang mampu menghipnotis penonton.

__ADS_1


"Kamu sangat berbakat, aku sangat senang bisa berkenalan dengan mu," puji pak Ari.


"Ah Bapak terlalu memuji, semua model juga sama," kata Asha merendah.


"Orang lain yang bisa menilai, menurut ku kamu perfecto," pujinya lagi.


Asha hanya tersenyum menanggapi, mereka keluar studio agar lebih leluasa mengobrol. Terlihat Jimmy juga ikut bergabung bersama mereka.


"Aku ingin membicarakan tentang tawaran ku waktu itu, ternyata membujuk mu lebih susah dari membujuk Samantha," ucap Pak Ari.


"Bukannya saya tidak mau, hanya saja saya takut mengecewakan Anda," balas Asha jujur.


"Aku yakin kamu bisa, karena peran yang kamu mainkan nanti berkaitan dengan profesi mu sekarang,"


"Benarkah?"


"Iya, aku sengaja membawa skrip nya kesini. Bacalah lebih dulu, aku rasa peran ini sangat cocok dengan mu,"


Ari menyodorkan naskah film kepada Asha. Gadis itu mulai membaca naskah yang ternyata judulnya: Takdir Cinta Sang Superstar. Kisahnya tentang perjalanan cinta seorang wanita yang berprofesi sebagai seorang model papan atas.


"Tidak masalah, aku dan semua kru serta artis yang ikut main di film ini pasti akan membantu mu dan memberi semangat. Tidak ada sesuatu yang instan, semua pasti di mulai dari titik terendah. Aku percaya kamu bisa melakukannya,"


"Iya Asha, di coba saja. Semua orang pasti mengerti jika ini film pertama mu, jadi mereka pasti membantu," sahut Jimmy.


Asha masih terlihat ragu, selama ini dia selalu melakukan hal apapun dengan baik, ia tidak ingin mengecewakan orang yang sudah memberinya kesempatan untuk berkembang.


"Boleh aku menjawabnya besok, aku ingin meminta pendapat keluarga ku dulu?" tanya Asha.


"Tidak masalah, aku tunggu kabar baik dari mu,"


Ari Sanjaya segera undur diri, ia harus menghadiri pertemuan penting setelah ini. Asha dan Jimmy mengantarnya sampai pintu keluar. Setelah itu mereka kembali lanjut bekerja.


♥︎♥︎♥︎


Di kantor Kia.

__ADS_1


Jam kerja sudah usai, Roki mengajak Kia pulang bersama namun di tolaknya dengan halus.


"Maaf Roki, aku ada urusan dengan Sisil. Kamu pulang duluan saja," ucap Kia.


"Baiklah tidak masalah, besok pagi aku jemput ya. Sampai ketemu besok," Roki melambaikan tangan, Kia hanya menanggapi dengan senyum.


Saat Kia dan Sisil tengah berkemas untuk pulang, Pak satpam memanggilnya. Ada seorang wanita yang ingin bertemu Kia.


"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Kia.


"Nama ku Rena, tunangannya Roki," gadis itu memperkenalkan diri.


"Oh, aku Kia. Kita bicara di luar saja ya, ini sudah waktunya pulang," ajak Kia.


Mereka berjalan beriringan dan berhenti di sebuah cafe di dekat sana. Setelah memesan minum mereka duduk berhadapan. Rena adalah gadis yang cantik, entah mengapa Roki masih menggoda gadis lain. Mungkin sudah sifat seorang pria yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah memilikinya, karena di mata pria rumput tetangga selalu jauh lebih hijau.


"Maaf ya Rena, aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin memberi tahu mu bagaimana sikap Roki di luar," ucap Kia.


"Tidak masalah Kia, ini bukan kali pertama dia mengkhianati ku. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena sudah terlanjur berjanji untuk selalu bersamanya, ia sedang sakit," balas Rena.


"Sakit apa? Selama ini dia terlihat baik-baik saja, apa parah?" tanya Kia.


"Kelainan jantung, hidupnya tidak akan lama. Makanya aku mencoba tetap bertahan apapun yang terjadi, apalagi keluarga ku berhutang budi kepada keluarganya," jawab Rena sedih.


Kia tidak menyangka Roki yang selama terlihat fit ternyata mengidap penyakit yang mematikan. Kasihan Rena selalu menahan perasaannya sendiri.


"Sudah berapa lama dia sakit?" tanya Kia lagi.


"Dia baru memberi tahu setahun belakangan ini, aku tidak tahu kapan pastinya dia mulai sakit. Dia sudah beberapa kali selingkuh, namun selalu kembali kepada ku. Sebenarnya hati ku sakit sekali, tapi aku tidak tega meninggalkannya," jelas Rena mulai menangis.


"Sabar ya Rena. Menurut ku jika kamu memang mencintainya sebaiknya kamu menuntunnya ke jalan yang benar, jangan sampai ia tiada dalam keadaan yang buruk," ucap Kia memberi saran.


Rena tampak memikirkan perkataan Kia, ia sependapat dengan gadis itu. Ia akan membuat Roki menjadi orang yang lebih baik.


"Terima kasih ya Kia, kita baru saja kenal namun sudah akrab begini. Nanti aku akan mengabari mu, semoga saja Roki mau terbuka kepada ku. Aku tidak ingin dia menyakiti lebih banyak wanita lagi,"

__ADS_1


Rena memeluk Kia dengan penuh kehangatan. Kia tidak menyangka hubungannya dengan tunangan Roki akan sebaik ini, tadinya ia berpikir akan berakhir seperti kasus Reno. Ternyata dugaannya salah, Rena gadis yang sangat baik.


__ADS_2