SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Janggal


__ADS_3

Gadis itu berlari cepat sambil terus menengok ke belakang, mengecek orang-orang yang mengikutinya. Air mata mengucur, gadis itu juga berusaha keras menahan tangis takutnya. Ia berhenti sebentar, tersengal-sengal, mengumpulkan tenaga sambil matanya liar memindai mencari-cari tempat untuk sembunyi. Aku harus hidup, demi adikku! Ia terduduk lemas, merangkak masuk ke gedung tak berpenghuni.


Seseorang berbicara mengerikan, “Berhenti!”


Dengan bertumpu pada tumit dan lengannya, gadis itu membeku. Perlahan ia palingkan kepalanya ke arah sumber suara. Beberapa meter saja jauhnya, di antara semak belukar, sebuah siluet tinggi besar dari orang yang mengejarnya menatap menembus ilalang yang tebal. Beberapa orang lelaki berjubah hitam, sepucat hantu, kepala ditutupi topi hitam. Bola mata mereka tampak merah muda, dengan pupil berwarna menyeramkan. Salah seorang dari mereka merogoh pistol dari sakunya, dan membidikkan moncongnya langsung ke kepala gadis itu. “Menyerahlah Fir! Atau kamu korbankan adikmu!” intonasi bicaranya tegas. “Sekarang kemarilah! Ikut saja dengan kami!”


“Sudah kutegaskan berkali-kali,” gadis itu tergagap, mematung tak berdaya di lantai di depan pintu gedung tak berpenghuni itu. “Aku tidak akan ikut kalian sampai kapan pun!”


“Kamu bercanda.” Orang-orang itu menatap si gadis malang, tidak bergerak, kecuali gerakan pupil matanya yang seperti setan. “Kamu tidak bisa lari dari kami.”


Adrenalin si gadis terasa cepat memompa jantungnya. Ia ingin lepas dari mereka, tapi bagaimana bisa? Mereka terlihat seperti penyerang gila dan kuat. Masing-masing dari mereka juga menggenggam pistol.


“Kamu putuskan sekali lagi Fir! Kamu ikut dengan kami, atau mati!”


Nafira tidak mampu bernapas.


Orang-orang misterius itu melangkah perlahan menjangkau Nafira.


Nafira melindungi dirinya, ia peluk badannya sekuat tenaga, juga menahan hawa dingin yang didatangkan orang-orang itu. “Baik! Kumohon berhenti! Dengar!” suara Nafira bergetar, dengan amat hati-hati ia ucapkan kalimat berikutnya, ia berdoa dalam hati agar nyawanya tak melayang di tangan kotor mereka.


  Ketika Nafira usai bicara, salah seorang dari mereka berseringai dengan sombongnya. “Adikmu akan menjadi yang selanjutnya.”


Nafira menggigil.


“Kami sudah temukan adikmu,” mereka menggoda Nafira. “Sebentar lagi Malik akan membawanya ke sekolah ini.”


Bagaimana bisa? Nafira sudah menyembunyikan bocah kecilnya itu dan mengurung si bocah seperti burung dalam sangkar. Tidak ada seorang pun yang tahu identitas si bocah, apalagi di mana dia berada. Dari mana orang-orang ini menemukan adiknya yang berharga?! Siapa sebetulnya mereka.


Salah seorang dari mereka mengarahkan pistolnya lagi. “Ketika kamu mati, tidak akan ada orang yang mengingatmu. Dengan cepat kamu akan dilupakan. Hanya kami yang akan menjadi saksi atas keberadaanmu Fir!”


Gadis malang itu mulai dapat merasakan kengerian sesungguhnya. Ketika ia sudah tidak ada, eksistensinya akan lenyap. Orang-orang bejat ini akan terus melahap korban di sekolah ini, berkeliaran tanpa ada seorang pun yang menghentikan. Dengan intuisi dan instingnya, Nafira mencoba bangkit melanjutkan pencariannya ke tempat yang lebih aman. Tidak peduli seberapa bahayanya orang-orang ini.


Pistol menyalak, Nafira merasakan panas yang menyengat ketika peluru itu melelehkan dadanya. Ia terjerembab … berjuang melawan rasa perih. Dengan secuil napas terakhirnya, Nafira menatap balik orang-orang itu, ia mengingat wajah para pembunuhnya. Ketika mereka bersiap meletupkan kembali tembakan mematikan ke jantung Nafira lagi, Nafira menutup matanya dengan lelehan air mata dari kelopaknya. Pikiran Nafira terserabut dari raganya seperti benang kusut rasa takut dan sesal.


Suara megasin lagi-lagi bergema di sekitar gedung itu. “Nikmatilah ganjaranmu selama ini Fir!” ujar salah seorang dari mereka. Kemudian mereka membopong tubuh kosong Nafira. Mereka pergi tak berjejak dari sekolah misteri itu. Nafira hilang tanpa satu warisan pun untuk adiknya apalagi untuk sekolah asrama ini. 


***


JANGGAL


Orang memanggilnya Rey. Salah satu anak konglomerat di Indonesia. Alih-alih belajar di luar negeri, di sekolah berstandar internasional, dan mahal, Rey lebih pilih asrama ini untuknya menuntut ilmu... agama. Selain uang orangtuanya, Rey orang yang biasa saja, sangat standar, gaya, tampang, otak, dan pribadinya, semua rata-rata.


Ia tidak populer di asrama, tidak digandrungi perempuan, tidak dikagumi adik kelas, apalagi dijadikan bos oleh teman lelakinya.


Tapi Rey tidak bodoh. tidak.


Rey langganan juara satu di SD dan SMP-nya dulu. Di sekolah berstandar internasional.


Lantas mengapa sekarang anak itu berhenti berambisi?


Rey pernah berkata dalam hatinya, "aku tidak ingin populer, aku tidak ingin mencolok, aku tidak ingin terlihat, aku ingin biasa saja".


Bodoh.


Begitu katanya?


Aneh bukan? Di saat semua orang ingin apa yang dimiliki Rey: harta, kekayaan keluarga, status sosial di masyarakat, dan kelincahan dalam berpikir, Rey malah mundur.


Rey menolak terlihat.


Rey ingin membumi.


Sekali lagi bodoh! Membumi kata Rey?


Apa maksudnya kan?


Membumi bukan seperti itu Rey.


"Biar kujelaskan..." ucap anak gadis, teman satu kelas Rey. "Biar kuingatkan siapa kamu Rey!"


Mata Rey sayu. Ia lelah setelah seharian belajar. Ia hanya jawab singkat, berharap agar gadis itu cepat selesai dengan ocehannya, "silahkan Ly!"


"Kamu anak tunggal dari keluarga besar Prasetyo. Konglomerat gila seantero negeri."


Rey tersedak ludahnya sendiri, ia terkejut. Si Gadis itu sebut ayahnya konglomerat gila? Apa-apaan?! Lancang! "gila katamu," ucap Rey tersinggung.


Lily, nama si gadis itu, ia tertawa kecil. "Serius amat, bercanda kali Rey."

__ADS_1


Rey cemberut, kemudian mukanya masam. "Ya sudah, cepat katakan apa yang mau kamu sampaikan!?" Pinta Rey.


"Aku cuma mau bilang, jangan sia-siakan potensi yang kamu punya dong! Sayang tau! Banyak orang yang berlomba-lomba dengan sangat keras, bahkan sampai lupa diri, karna bertekad memiliki apa yang kamu punya sekarang. Kamu gak bersyukur loh Rey."


"Says someone with free access to the house of this School Director huh?" Ucap Rey.


Lily cemberut. Kini ia yang tersinggung.


"Udah ya," Rey akhirnya pergi. Ia beranjak meninggalkan Lily.


Lily sama sekali gak tahu. Menjadi pewaris perusahaan konglomerat di negeri ini, ah ... gue


Benak Rey berkata ragu.


Rey hanya takut.


Anak ingusan. Beban 'pewaris' terlalu berat untuk bertengger di pundaknya.


***


Dunia ini gila. Terkadang Rey berpikir terlalu banyak, terlalu jauh, terlalu kompleks, dan terlalu berat untuk anak seusianya.


Orang melihat, Rey mungkin tidak pintar.


Karna angka di rapor sekolah.


Prestasi nihil.


Tapi sebenernya anak ini tidak begitu bodoh.Terbukti ia pernah menjadi juara bertahan di SD dan SMP-nya. Tapi di asrama ini, mereka tidak tahu. Rey tidak pernah cerita tentang itu, tidak mau dan tidak akan.


"Yo Rey!" Seseorang menegur.


ah itu teman Rey.


"hmmm...?"


"lu berdua aja tadi sama Lily, ngobrolin apa?"


"Gak ada."


Temannya cemberut.


"Pelit lu!"


Lily primadona asrama. Murid laki-laki biasa kepo pada gadis itu. Termasuk teman Rey ini, si Andri.


"Eh btw Rey, lu gak tau Lily baru menang juara satu siswa teladan se-kabupaten. Keren gak tuh!" Cerita Andri.


"Oh... baru tau gue. Yang cowo siapa yang menang?"


"Gak dari sekolah kita sih Rey. Delegasi sekolah kita Bang Novis, dia juara lima."


Wajah Andri muram. Tapi kembali sumringah, ketika ia jelaskan ini, "nih buat pajangan kamar." Andri menyodorkan lukisan, pohon rindang, cuaca cerah dengan sinar matahari hangat, dan rumput hijau. Suasana di lukisan itu amat stabil, Rey lihat.


"Buatan lu?"


"Iya dong... gue." Andri terkekeh, bangga diri.


"Keren juga lu!"


Andri semakin sumringah, "thank you Rey" Ia cukup bangga, senyumnya makin lebar.


"Kapan lu buat ini?" Tanya Rey. "Gak mungkin di kelas kaligrafi kan?"


Kelas seminggu sekali, tidak kondusif, dan sering pembimbing hilang entah kemana. Kelas ini wajib diikuti semua siswa, entah apa tujuannya.


"Harus banget lu tau ya Rey?"


"Gue gak ngerti cara ngelukis, cat lukis, koas, canvas, atau apalah itu, tapi serius Ndri... lu keren di seni ini."


"Haha...!"


"Makin bangga aja lu. Seneng ya gue puji-puji terus dari tadi."


Andri tersenyum lagi, lebar.


***

__ADS_1


Esok hari, Lily datangi Reyza kembali. Dalam hatinya, tentu ia menggerutu.


Duuh mau apa lagi anak itu.


Banyak mata tertuju ke arahnya. Lily terlalu mengundang perhatian. Lily cantik seperti peri, ia anak asuh pimpinan pondok. Lily dan Reyza, keduanya hidup dengan sendok perak di mulut. Jangankan berteman, ketika dua anak ini berbincang saja, orang-orang di sekolah itu sudah berdesas-desus sebarkan gosip yang aneh-aneh.


Itu yang membuat Reyza tidak banyak menemui Lily, dan cenderung menghindarinya.


"Apa lagi Ly?" Tanya Reyza ketus. "Kamu gak paham ya sampai sekarang?"


Lily menunduk lesu dan pucat, seperti orang yang sedang sedih atau kehilangan energi di tubuh.


Kenapa anak ini? Sakit?


Reyza heran. Karena seberapa keras ia ketus pada Lily, gadis peri itu tetap akan selalu sumringah dengan senyum lebar yang makin mendekorasi wajah mungilnya. Tidak mungkin Lily baper (bawa perasaan) cuma karena diperingatkan begitu oleh Reyza.


"Apapun itu, kita bisa obrolkan nanti. Misal di jam kosong, atau saat gak ada guru yang ngajar Ly." Pinta Reyza kembali memberi peringatan.


Lily membuka mulutnya, ia berkata, "Aku takut..."


Tidak sampai Lily selesai dengan katanya, Intan teman Lily langsung memanggil dan menyeret Lily dari samping Reyza.


Ada apa?


Kini Reyza yang ditinggalkan dalam keadaan bingung.


***


Seperti biasa, kembali ke kamar asrama, berpapasan dengan Andri, makan siang, kemudian bersiap kembali mengikuti kursus bahasa.


"Reyzaa..." Andri menyapa lagi.


"Lukisan lu udah gue tempel tuh."


"Makasih Rey," Andri selalu tersenyum lebar. Anak ini banyak mengumbar senyum. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini..."


"Apa?" Reyza membuka perlahan, "lukisan lagi?"


Andri mengangguk.


Kali ini lukisan seorang pemuda, dengan aura tidak menyenangkan. Nuansa warna putih, dan pemuda itu seorang diri, seperti terpojok, dengan kaos oblong warna hitam dan celana pendek cumpang-camping. Dari atas, terlihat tinta hitam mengucuri canvas putih itu, membentuk batas-batas di hadapan si pemuda, seolah sedang menahan pemuda itu. Memberikan kesan yang amat tidak menyenangkan dan mengganggu.


Lukisan Andri sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya.


Apa ini?


Reyza sedikit merinding.


"Gak ada setan yang ngikutin lu kan? Lu sehat kan?" Canda Reyza, sedikit serius.


"Lu bercanda? Ini bagus kan?" Andri heran. "Kenapa lu bilang gitu?"


"Enggak. Gue cuma..." Reyza berhenti. Ia bicara ke hal lain, "ke kelas ajalah yu."


Reyza tidak ingin terlalu memikirkan dua keanehan yang terjadi hari ini.


***


Lorong dingin, tak berpenghuni. Dari sana, terdengar suara rintihan misterius, perempuan. Terdengar nyata dan jelas.


Lagi-lagi Reyza.


Itu terjadi saat ia sedang bersantai di dalam kelas, seorang diri, setelah semua murid bubar ke kamarnya masing-masing.


Reyza terbangun, kemudian ia keluar dari kelas itu.


Ia hendak menengok, siapa yang sedang menangis?


Tapi ia terkejut, ketika keluar Lily dari aula di samping lorong itu.


"Ly?" Sapa Reyza, suaranya sedikit bergetar. "Lagi apa?"


Reyza tidak melihat mata Lily sembab.


Wajah Lily melemparkan senyuman sangat manis dan cantik, "hai Rey! Gak siap-siap untuk kelas kedua?"


Reyza tidak tahu pasti kenapa, tapi ia merinding. Terasa dingin tidak beralasan.

__ADS_1


***


__ADS_2