SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
The Documents


__ADS_3


Reyza turun dari kamarnya, ia bergegas pergi ke suatu tempat. Ia minta supir mengantarnya. Tidak dengan mobil pendek mewah, tapi mobil favoritnya. Mazda CX9 melaju dini hari. Supirnya keheranan, "Kakak mau kemana?" tanya si supir.


"Rumah Sakit Sar* Asih di daerah Serang."


"Waduh Kak. Pagi-pagi maennya udah jauh aja. Bapak gak marahin nanti?" tanya si supir lagi.


Lokasi rumah Reyza yang itu di sekitar Bintaro, perumahan mewah di Tangerang Selatan dekat Jakarta Selatan.


"Sore sudah balik kok. Makanya kita berangkat pagi."


"Baik Kak." jawab si supir patuh. Ia merangkap ajudan Reyza. Prasetyo cabut dia dari Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden), kebetulan Prasetyo kenal dengan atasan mereka. Jadi setiap ada anggota Paspampres yang dinilai cocok bekerja dengan Prasetyo, Prasetyo pasti menariknya untuk jadi ajudan, pengawal, asisten pribadi, merangkap pula supir. Reyza ia berikan satu. Umur si supir masih muda sekitar 28 tahun, sudah nikah.


Konglomerat memang biasanya begitu. Bahkan selera Prasetyo yang hanya sekedar Paspampres itu dinilai kampungan oleh teman konglomerat lainnya. Sebab mereka biasanya lebih suka orang dari Badan Intelijen Negara, TNI berpangkat lumayan, atau polisi berjabatan. Prasetyo lebih senang yang muda-muda. Apalagi untuk Reyza. Tentu ia siapkan yang muda, bukan mereka yang sudah akan setengah abad.


Di perjalanan, Reyza banyak berkenalan dengan si supir. Gayanya lucu, nada bicaranya ngapak, Jawa kasar sekali. Tapi sangat cekatan, Reyza ke toilet pun, dia jaga sampai selesai. Reyza pergi ke warung sebentar, dia cegat. Reyza hilang dari pandangannya, langsung ia cari-cari kemana. Profesional untuk tugasnya. Belum lagi, dia hapal jalan. Ke Serang, ke sekolah asramanya di pelosok Banten, si supir tidak mungkin nyasar.


Aslinya supir ini pendiam tak banyak bicara. Tapi Reyza cerewet padanya dan si supir mana berani cuek pada ajakan Reyza untuk berbincang.


"Sampai Kak." ucap si supir.


Mobil sudah terparkir rapih di rumah sakit itu.


Reyza tidak tahu di mana kamar Novis, tapi ia dengar kabar kalau Novis pergi ke rumah sakit ini. Ia bertanya pada petugas sebagai teman Novis, ia dapatkan nomor kamarnya.


Novis terkejut melihat Reyza. Kakeknya izin keluar untuk memberi Novis waktu dengan Reyza. Selama ini hanya si kakek yang menjaga Novis.


"Tenang saja, gue datang dengan niat bersahabat." ucap Reyza.


Novis tidak percaya, raut wajahnya tegang tak terima kedatangan Reyza. Kukunya copot satu oleh si tengik Reyza.


Reyza meminta supir/ ajudannya untuk keluar sebentar memberinya waktu. Supir itu patuh, dan mundur.

__ADS_1


Reyza duduk di samping Novis, ia berkata, "Gue minta maaf atas semua kejadian yang menimpa lu. Gue bener-bener minta maaf."


Novis masih sangar. Tapi tak keluar suara. Lidahnya putus.


Reyza mengeluarkan segepok uang tebal sekali, mungkin jumlahnya puluhan juta.


Novis melempar dengan kasar uang itu. Ia tidak butuh.


Reyza bingung. "Uang ini bukan suap. Anggap ini sebagai permintaan maaf dari gue. Harga diri lu memang lebih tinggi dari sekedar uang puluhan juta, tapi lihat kakek lu. Ini buat dia."


Novis mendingin, agak kalem. Napasnya masih sarat kemarahan.


Reyza mengambil uang itu, dan menaruhnya lagi di samping Novis.


"Gue tahu, orang gagah kayak lu gak butuh simpati apalagi dari orang kayak gue. Tapi gue mohon, mari berteman." tawar Reyza.


Novis meraih secarik kertas dan menulis sesuatu dari sana, "Apa yang sebenernya lu mau!" kata Novis melalui tulisannya.


Novis mendengus, ia menulis lagi dengan ekspresi merendahkan, "Jangan anggap enteng. Dia bukan tandingan anak serigala kayak lu."


"Seenggaknya lu kasih tahu gue siapa? Atau lu kasih tahu gue kenapa lu bisa terjerumus ikut bareng dia. Gue tanya ini sebagai teman. Gue gak terima teman satu sekolah gue sampe dibuat kayak gini. Lu cerdas Vis! Lu punya banyak potensi. Kenapa lu jual diri lu ke orang baj*ngan! Kenapa lu lakuin itu." bujuk Reyza sabar.


Novis sadar yang ia lakukan. Matanya yang selalu sangar dan benci melihat Reyza berubah sayu. Ia sedih dan turut mengasihani diri sendiri.


"F*CK it Vis! Lu masih bisa berkarya kalau lu mau. Kondisi lu gak bisa hambat sukses lu."


Reyza benar. Mata Novis berkaca-kaca.


"Lu tetap Novis. Lu keren karena sudah berhadapan langsung dengan si mastermind. Kalau gue, mana berani Vis."


Senyum Novis merekah. Rasa ingin diapresiasi terpenuhi oleh Reyza. Ego Novis terjinakkan. Hatinya lega mendengar itu dari Reyza. Musuhnya selama ini memperlakukannya amat baik, menganggap perannya, dan menghargai yang sudah ia lakukan. Tidak ada yang lebih sempurna dibanding 'dibutuhkan' oleh seseorang yang paling dibenci.


Reyza bertekuk lutut di depannya. Pemandangan yang indah untuk Novis, semakin indah dengan pujian-pujian yang dilantunkan Reyza.

__ADS_1


Novis menawarkan harga dari bantuannya, Reyza tentu bersedia apapun itu.


Novis berseringai, ia menulis, "Gue mau jadi kaya dan sukses. Berikan gue posisi di perusahaan bokap lu nanti. Dari sana, kita impas."


Reyza ampun dengan tingkah Novis. Tapi baiklah. Itu gampang Reyza kabulkan. Reyza mengangguk siap.


Novis menulis lagi, "Lu pulang ke rumah. Mereka lebih dekat dari yang lu duga." ucapnya.


Reyza menelan ludah. Ia panggil supirnya dan bergegas kembali ke rumah.


***


Sesampainya di rumah, Reyza telusuri semua dokumen di ruangan kerja ayahnya. Prasetyo sedang sibuk di kantor. Tidak ia dapatkan apapun dari sana.


Ia minta si supir mengantarnya ke rumah utama. Rumah yang bahkan memiliki lahan parkir untuk belasan mobil, pos keamanan yang dijaga lima sampai sepuluh satpam, mewah, megah, lega, gedongan.


Reyza berlari kecil menuju ruang kantor ayahnya. Ibu Prasetyo keheranan. "Kamu pulang Nak?"


Reyza mengangguk singkat, tetap fokus pada pencariannya.


Ia baca satu per satu dokumen di kantor itu. Didominasi oleh data kantor, profile perusahaan, hasil rapat RUPS, daftar pemegang saham semua perusahaan, surat-surat, akta, foto copy sertifikat Prasetyo, dan embel-embel lain yang tidak Reyza mengerti.


Ibunya keheranan, ia tanyai Reyza lagi sambil memarahinya. "Bagian sekretariat bakal ngambek sama kamu Nak. Kamu jangan acak-acak dokumen bapak dong."


"Penting Bu." Reyza menanggapi singkat.


Ibunya menyerah, "Ya sudahlah. Sakareupmu!" ucapnya.


Ketemu. Ada dokumen janggal di sana. Akta wasiat pengalihan hak-hak saham ke sekolah asrama Lily, akta nominee arrangement yang seharusnya dilarang oleh hukum perusahaan Indonesia, pengikatan untuk pelepasan hak di salah satu perusahaan, dan pengalihan hak milik tanah kosong lokasi Bandung.


Di mata Reyza, dokumen ini aneh. Terutama akta wasiat. Reyza merogoh Hp-nya. Ia menghubungi Prasetyo, "Pak, cepat pulang. Ada banyak hal yang harus Reyza bicarakan dengan Bapak." ucapnya geram.


***

__ADS_1


__ADS_2