
Reyza masih trauma atas kepergian Andri. Ia paling berat jika harus kehilangan teman. Reyza masih tak menyangka ternyata yang selama ini Nara inginkan adalah menghukum Andri. Nara ingin Reyza meninggalkan dan membiarkan Andri membusuk dengan masalahnya sendiri. Nara tanamkan rasa percaya di diri Reyza dengan pura-pura bersahabat, kemudian menjatuhkan kepercayaan itu. Nara bantu Reyza terjun dan tenggelam dengan masalah Musa, sehingga pada saatnya tiba dan tepat, Nara ambil Andri. Nara hukum anak itu.
Sudah tiga hari, Reyza mengurung diri di rumah gedongnya. Telepon terus berdering dari Lily. Akbar mengistirahatkan dirinya juga di rumahnya, begitu pula Intan dengan keluarganya.
Intan masih merasa takut si orang hitam. Ia dengar polisi kehilangan jejak orang itu. Keluarga Intan masuk menjadi salah satu target si pembunuh berdarah dingin itu. Ia sedang membujuk ayahnya agar pindah rumah ke samping rumah Akbar. Tapi Akbar tinggal di kawasan elit di Jakarta, sementara Priyonggo hanya pengusaha kelas teri di daerah, bagaimana bisa menyewa apalagi membeli satu rumah di sana.
Akbar memberikan posisi manajer untuk ayah Intan di salah satu perusahaan yang dipimpin Musa. Sebagai ahli waris dari pemegang saham (Musa), Akbar berhak atas semua saham-saham yang dimiliki ayahnya. Ayahnya memang belum meninggal, dan waris baru bisa diturunkan ketika Musa mati.
Tapi Reyza memberi saran pada Akbar untuk membuat Surat Kuasa Umum atas pengelolaan seluruh aset Musa, termasuk saham. Sehingga dengan begitu, Akbar bisa bebas melakukan apapun itu terhadap aset Musa. Akbar mengurusnya ke notaris relasi Prasetyo. Semua beres. Aset Musa beralih kepadanya. Akbar bisa bertengger dengan jajaran eksekutif muda.
Intan bisa pindahan dengan lega dan menjadi tetangga Akbar. Ayah Intan belum berani beli rumah sebesar punya Akbar. Ia pilih rumah bekas yang paling kumuh di sana, kebetulan berseberangan dengan rumah Akbar. Intan memasang CCTV di setiap sudut rumahnya, Akbar juga menyewakan security berkualitas untuk keamanan keluarga Intan.
Kaki tangan Musa masih berkeliaran menghirup udara bebas di sana. Mereka bergerak dalam diam, dan bisa menyerang dan mengancam kapan saja.
Reyza dan temannya harus ekstra hati-hati.
Prasetyo kembali pada aktivitas bisnisnya dengan normal. Ibu Reyza khawatir anaknya yang lama muram. Ibu Reyza punya kontak Lily, apa ia harus memanggil Lily ke rumah untuk menghibur Reyza? Ia takut Reyza tenggelam dalam dukanya.
Lily betulan sampai di rumah Reyza. Ia tidak diantar Malik. Lily juga khawatir pada kondisi kesehatan Reyza. Ia ketuk berkali-kali kamar Reyza, di sampingnya ada Ibu Reyza yang mendampingi.
"Sudah mau seminggu Reyza di kamar terus," ucap Ibu Reyza.
"Dia makan teratur Bu?" tanya Lily.
"Di kamar ada cemilan sih. Tapi dia sudah kurus, nanti tambah kurus."
Lily merunduk makin khawatir.
"Rey!" panggil Lily. "Ini aku!"
Reyza tidak menyahut.
"Bagaimana sekolah asramamu Ly?" tanya Ibu Reyza.
"Semua sudah kondusif dan kembali beraktivitas dengan normal. Tapi kami perlu meluruskan beberapa rumor yang bertebaran. Banyak sekali fitnah muncul Bu," keluh Lily.
"Oh ya?"
"Iya. Apalagi kasus Nafira dan Pipit kembali digali. Juga dilakukan pencarian lagi untuk temukan jasad Ali dan Nafira."
Ibu Reyza terkejut tidak percaya, "Separah itu ya Nak!"
Lily mengangguk.
"Tapi Prasetyo Group akan terus dukung ayahmu kok Nak," timpal Ibu Reyza.
Lily tersenyum mengapresiasi dan menaruh hormat, "terimakasih."
Berdasarkan keterangan Musa, Ali meninggal karena bunuh diri. Sementara ia akui kejahatannya pada Nafira, tetapi ia masih bungkam di hadapan polisi. Pengakuan itu hanya ia sampaikan pada Reyza.
Lily kembali memanggil Reyza, "Rey! Kumohon biarkan aku masuk."
Lily menunggu Reyza. Selama apapun itu ia harus berdiri di depan pintu kamar Reyza, Lily rela.
__ADS_1
"Rey! Kamu tega!? Aku dari tadi loh nunggu kamu. Kumohon buka!" panggil Lily lagi.
Reyza melangkah dengan berat hati. Ia akhirnya membuka pintu. Penampilannya kusut, rambutnya kusam, bajunya kotor, wajahnya berminyak, tubuhnya bau.
Lily menutup hidung. "Astaga! Berapa hari kamu gak mandi sih!?" sinis Lily tapi masih baik dan ramah.
Reyza datar saja, ia persilahkan Lily masuk. Ibu Reyza izin ke dapur.
"Gak sebaiknya kita keluar? Tamanmu luas, kita kesana aja yu!" ajak Lily sumringah.
Reyza mendengus.
"Kamu pakai parfum atau mau mandi dulu?" tanya Lily.
Reyza tidak merespon.
"Ya sudah, aku semprot kamu parfumku deh!" Lily ambil parfum di tasnya lalu menghujani Reyza parfum itu banyak-banyak. Lily tertawa kecil. "Biar wangi," ucap Lily genit.
"Ayo!" Lily gandeng tangan Reyza dan menyeret anak itu.
Mereka berjalan-jalan menikmati taman di rumah Reyza yang cantik dan luas. Kebetulan di sampingnya ada lounge dan kolam renang yang lebar.
"Kamu gak tanya kabar aku?" tanya Lily ngambek.
"Aku lihat kamu baik aja sekarang, jadi buat apa tanya kabar lagi!" ketus Reyza masih belum ada mood yang bagus.
"Kamu sudah seminggu meratapi Andri loh Rey! Jujur aku kangen kamu kembali ke sekolah. Aku kangen kamu yang biasa, yang cuek, judes, 'koplak', sok tahu, ceplas-ceplos, intinya aku kangen Reyza."
Lily makin ngambek dan cemberut. "Gak lucu Rey! Ayolah senyum ...." pinta Lily dengan senyum lebar ke wajah Reyza.
Reyza nyengir memaksakan senyumnya. "Tuh udah," ia masih ketus.
Tak tahan dengan tingkah menyebalkan Reyza, Lily dorong Reyza jatuh ke kolam renang. Lalu BYURRRRR!
Reyza basah kuyup, Lily puas dan tertawa-tawa.
"Si*l lu ya Ly!" sebal Reyza. Tangannya meraih-raih kaki Lily, ingin balas menceburkan Lily ke kolam. Tapi tak sampai.
Lily ejek Reyza, "Mandi yaa tuan muda pangeran tampan Reyza!" sengir Lily.
Reyza tersenyum tipis.
Senyum yang melelehkan dan mendamaikan hati Lily.
"Naik Rey! Mandi! Kita ngobrol santai di sini," pinta Lily.
Reyza berenang-renang sebentar lalu ia naik. Ia bersihkan diri sebentar, dan kembali lagi pada Lily dengan penampilan yang lebih segar dan wangi.
"Kamu gak apa-apa kalau aku cerita soal Musa?" kata Lily hati-hati.
Reyza mengangguk.
"Makan kue cokelat ini, supaya lebih tenang, " Lily menawarkan.
__ADS_1
Reyza duduk di hadapan Lily, ia siap dengarkan Lily.
Lily masih berbasa-basi, "Kamu sudah okey kan?"
"Gue cabut kalau lu gak langsung ke inti nih!"
"Eh iya iya ...." Lily hentikan Reyza yang sudah berdiri.
Reyza duduk kembali, "Jadi apa?"
Lily merogoh sesuatu dari tasnya, cairan obat misterius. "Hasil lab sudah keluar. Aku gak paham hasil ini, tapi kesimpulan yang aku tangkap ini obat yang bisa memanipulasi saraf manusia."
Reyza menatap memerhatikan obat itu. "Manipulasi seperti apa?"
"Enggak ini bukan obat. Mereka sebut ini x virus."
Reyza tersedak, "Kamu pikir ini film zombie! Udah kayak T virus aja!"
Lily memutar bola matanya, "Serius ah! Aku gak bercanda."
Reyza diam, mempersilahkan Lily melanjutkan.
"Musa membuat x virus ini untuk mengacak-acak mental, pikiran, atau otak manusia melalui intervensi di sistem saraf. Kamu ingat penjelasan dari salah satu ahli psikolog klinis, mereka bilang kalau histeria juga bisa diilustrasikan dengan kerusakan pada perangkat lunak komputer. Untuk manusia, kerusakan itu terjadi di sistem sarafnya. Virus ini dicampur ke makanan di dapur umum asrama. Inilah yang jadi penyebab histeria massal."
"Wah!" Reyza tercengang. "Musa memang sulit diduga."
"Betul. Virus ini harus dimusnahkan."
Reyza menyedot es jeruknya, "Iya. Tapi kita juga harus move on dan fokus dulu pada hidup kita."
"Kamu bisa mulai dengan membuka penelitian terhadap virus ini Rey!" Lily ajukan ide.
Reyza menggeleng, ia menjentikkan jarinya di kepala Lily, "Tidak segampang membalikkan telapak tangan tuan putri Lily," jawabnya.
Lily cemberut. Lanjutnya, "Komunikasi neuronal atau saraf itu mengambil peran dalam depresi, masalah perilaku, gangguan stres pasca trauma, gangguan hiperaktifitas defisit perhatian, bipolar disorder, dissociative identity disorder, hingga skizofrenia. Sebagian besar ilmuwan percaya bahwa penyakit mental dihasilkan dari masalah komunikasi antara neuron di otak (neurotransmission). Misalnya, tingkat neurotransmitter serotonin itu lebih rendah pada seseorang yang sedang depresi."
Reyza takjub, pintar juga anak ini. Gerutunya dalam benak.
"Rey?" Lily mengejutkan Reyza yang matanya tidak berkedip mendengarkan penjelasan Lily.
Reyza jawab, "Gue denger kok. Lanjutkan Ly!"
Lily mengiyakan, "Bahkan Rey, ada loh film Hollywood tentang memindahkan nyawa manusia dari tubuh A ke tubuh B melalui manipulasi sistem saraf! Maksudku, proyek Musa untuk virus ini bukan main-main. Ia benar-benar mencari cara untuk memecahkan misteri di balik mental bahkan jiwa manusia. Lalu menggunakannya untuk kepentingan pribadi."
Tatap mata Lily yakin. Ia selesai. Itu saja informasi terakhir yang ingin ia sampaikan pada Reyza.
Reyza terbuka pada informasi itu, tapi melawan tantangan selanjutnya dengan membasmi kroni Musa sampai ke akar, ia rasa ia tidak kapasitas untuk urusan sebesar itu. Terlalu nekat.
Tapi Reyza bertekad dalam hatinya untuk terus meneliti dan menemukan satu per satu kroni Musa dan memusnahkan monster/ penyakit/ virus yang ia ciptakan.
***
__ADS_1