
Andri menghirup udara dalam-dalam. Paru-parunya kehausan. Akhirnya ia sadar dari tidur panjang karena obat yang diinjeksikan Intan. Ia kebingungan. Ia terbangun dan terkejut melihat Akbar dan Lily di sampingnya. "Di mana gue?" tanya Andri.
Akbar dan Lily lebih terkejut lagi. Akbar menjawab, "UKS. Lu kenapa kayak orang kecapekan? Lu kan baru bangun tidur." canda Akbar.
Andri tidak peduli.
Lily bertanya, "Gimana kondisimu Ndri? Ada yang kamu rasakan, misal sakit?"
Andri geleng-geleng.
"Syukurlah." ucap Lily.
Andri terbata terus terang, "Gue tahu siapa mereka dan kenapa mereka nempel di tubuh gue?"
"Setan lu?" timpal Akbar, bahasanya kasar tanpa disaring.
Andri mendengus, ia sudah biasa dengan Akbar.
"Kenapa Ndri?" Lily menunggu.
"Ah panjang ceritanya. Yang jelas, gue bisa urus 'setan-setan' dan kalian gak perlu khawatir lagi. Kita gak perlu regresi lagi Ly."
Lily mengiyakan.
"Jadi sekarang, masalah kita tinggal Intan dan ...."
GEBRAK! Pintu menganga lebar. Reyza masuk dengan tergesa.
"Yo Rey! Enak nih yang habis liburan," ucap Akbar dengan niat menyinggung perasaan Reyza.
Lily tak heran dengan sikap Akbar, Andri juga. Reyza juga.
Tanpa basa-basi dan dengan tegang Reyza berkata, "Bokap lu dalang di balik semua ini!" tunjuk Reyza pada Akbar.
Lily memicingkan matanya.
Akbar melotot tak terima. Lily bangkit dari tempat tidur UKS. Tak di sangka, ia peluk tubuh Akbar dari belakang, "Jangan berontak! Ayahmu yang penjahat, bukan berarti kamu juga penjahat. Tenanglah dan dengarkan penjelasan Reyza!" ucap Lily sangat sangat dingin, matanya sinis dan tajam.
Akbar akhirnya duduk ragu-ragu. Lily kembali ke kasurnya, dan duduk di atasnya. Kini Reyza yang mulai berterus terang.
"Gue langsung kemari, karena gue tahu dari Intan kalau kalian ada di UKS. Gue ketemu Intan di bawah."
"Kenapa lu gak ajak Intan kemari?!" tanya Akbar kesal.
__ADS_1
"Intan kayaknya lagi gak mood ya? Dia murung? Apa kalian ada masalah?"
"Banyak!" jawab Akbar lagi ketus.
"Kamu fokus saja pada kabar yang kamu bawa Rey." pinta Lily serius.
Reyza mengangguk, "Tangan gue sakit habis pukul Musa."
Akbar mendengus tidak lagi terpancing.
Reyza lanjutkan, "Intinya kita udah tahu dalang di balik semua kejadian gila di sekolah kita. Musa lakukan penelitian pada mental siswa. Dia ingin mencari cara untuk bisa membentuk manusia sesuai kemauannya. Dia ingin memanen gundik, para pengikut setia, atau orang-orang yang bisa ia manipulasi."
Lily berkomentar, "Itu konyol! Kenapa sekolah kita? Bukannya dia bisa saja langsung membeli kepercayaan dan loyalitas seseorang pakai uangnya yang banyak itu Rey?"
"Asumsi gue Ly. Percobaan di sekolah itu mudah dan murah. Dia bisa kontrol seluruh aktivitas objeknya tanpa ribet, dan biayanya hanya perlu mendonasikan sedikit pendapatannya saja. Tidak ada donasi pun bisa. Sangat efisien kan!?"
Lily menambahkan, "kamu benar Rey."
"Orang gila tidak butuh alasan waras dan logis. Alasan kenapa Musa lakukan ini juga tidak masuk di akal."
"Apa?" tanya Akbar. Meski ayahnya bejat, Akbar belum percaya jika benar ayahnya seorang psiko.
Reyza menatap Akbar sinis dan penuh kesal, "Lu datangi Musa. Lu tanya bokap lu langsung. Gue rasa itu lebih efektif."
Meski jengkel, Reyza memang benar. Lebih baik Akbar pergi menemui ayahnya langsung, Akbar terima itu. Ia bergegas ke bawah.
"Intan." jawab Akbar singkat.
Reyza melirik Andri yang duduk di kasur UKS. "Lu baik aja kan?" tanyanya khawatir. "Dan lu Ly, kenapa muka lu?"
"Cerita yang panjang." jawab Andri dan Lily berbarengan.
Mereka rasakan sedikit kelegaan.
Reyza tersenyum, katanya, " Gue liat lu agak enteng hari ini Ndri? Lily juga?"
Andri membalas senyum Reyza, "Itu karena lu udah dateng Rey, lu juga bawa kabar baik."
"Itu aja?" Reyza skeptis.
"Nanti pasti gue cerita, Lily juga belum denger cerita gue kok." jawab Andri.
***
__ADS_1
Akbar mendatangi Intan. Ia membawa Intan ke tempat di mana tidak ada orang.
"Aku tahu kamu sembunyikan sesuatu. Apa itu!?" tanya Akbar menelisik.
Intan bungkam dan takut. Ia palingkan wajahnya tidak berani menatap mata Akbar.
"Jawab!" sentak Akbar karena amat khawatir. "Gue gak akan bisa lindungi lu kalau gue gak tahu apa masalah lu Tan! Jawab! Kasih tahu gue!" perintah Akbar.
Intan terpojok, ia tengok kanan kiri dan ke atas. Ia mencari-cari CCTV, lalu ia letakkan Hp-nya di tempat yang agak jauh. Begitu pula ia pinta Hp Akbar, dan membuangnya.
"Mereka bisa lacak kita lewat barang elektronik. Mungkin si orang hitam sedang menuju kemari juga. Kita harus pindah tempat," ajak Intan penuh panik. Akbar menurut.
Mereka hindari CCTV, sembunyi-sembunyi mencari tempat yang tidak terjamah benda elektronik. Gudang tua di belakang sekolah. Hanya itu, dan ruangan Lily.
"Jadi?" tanya Akbar.
Intan menelan seluruh rasa takutnya. "Mereka menyandera keluargaku!" ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Apa yang mereka minta darimu? Dari mana kamu dapat obat suntik itu untuk Andri? Obat apa itu!?" interogasi Akbar.
"Bullshit Bar! Aku gak tahu itu obat apa dan apa gunanya. Yang pasti barang itu udah ada di tasku, dan aku sama sekali gak tahu kapan mereka menaruh barang itu di tasku. Mereka menyuruhku mengintai Andri dan melapor perkembangan Andri terutama yang berkaitan dengan kerasukan Andri itu. Aku gak tahu itu obat untuk siapa, mungkin saja untukku dari mereka. Tapi aku refleks injeksikan itu ke Andri karena ada Nara yang muncul dan ancam Lily." jelas Intan dengan cepat.
Lanjutnya lagi, kata terakhir, "Yang aku lakukan cuma bertahan dari mereka dan membela diri, aku juga coba lindungi Lily dari Nara. Aku terlalu takut Bar. Aku sampai gak tahu harus lakukan apa." air matanya menetes, Intan memang kebingungan.
"Harusnya lu kasih tahu gue dari awal." Akbar kecewa.
"How!"
"Ya tinggal kasih tahu. Apa susahnya kan Tan. Ini buktinya kamu bisa kasih tahu aku sekarang."
Intan geleng-geleng. "Mereka sudah kunci semua gerak-gerikku. Mereka mau aku Bar. Mereka mau aku jadi kacung mereka."
Benak Akbar berkata, apa itu juga yang mereka lakukan pada Novis?
Lalu ia yakinkan Intan, "Enggak. Aku jamin itu gak akan terjadi." ia pegangi erat pundak Intan dan menatap mata Intan lekat.
Intan mengusap air matanya, "Kita harus pergi sekarang. Mereka pasti sudah lakukan sesuatu pada keluargaku Bar. Mereka akan curiga kalau aku 'hilang' terlalu lama." panik Intan.
Akbar menghentikan Intan, "Kita ke Musa sekarang. Dia sumbernya." ucap Akbar penuh keyakinan.
Akbar tarik Intan keluar, ia izin ke Malik untuk pulang sebentar, dan Malik pasti izinkan Akbar. Tapi hanya Akbar seorang. Tidak dengan Intan.
Akbar tidak hiraukan itu. Ia pinjam mobil Reyza. Ia sembunyikan Intan di mobil itu. Dan akhirnya, mereka melaju kencang.
__ADS_1
***