
Andri ingin ada Reyza di asrama. Lama sekali anak itu di rumahnya. Ia butuh bantuan, terutama untuk mengingat masa lalu yang hilang.
Terakhir kali, Reyza meminta ia cerita tentang masa lalunya. Tentu pasti ada sesuatu di masa lalunya yang membuat ia seperti sekarang.
Ia akan lakukan regresi lagi dengan Lily.
"Kamu serius?" tanya Lily menatap dalam.
Andri mengangguk yakin.
Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung mulai. Pendulum berdetik di hadapan Andri. Pandangannya berbayang, ia perlahan masuk ke trance hipnosis.
Andri berkelana lagi di alam bawah sadar, menyelami masa lalunya sendiri.
"Apa yang kamu lihat sekarang?"
"Gedung di belakang sekolah."
"Bagaimana kondisinya?"
"Ramai."
Kemudian kesadaran Andri terbawa ke tempat lain yang berbeda. Andri memejamkan matanya, ia menunjukkan ekspresi seolah sedang mengayun terangkat lalu mendarat seketika.
"Ini rumahku lagi," ucapnya.
Lily mendengarkan.
Andri membuka pintu rumahnya. Ia pergoki nenek mengerikan bak penyihir sedang menindih tubuh kakaknya.
Andri berteriak kencang, tapi ucapan Lily menahannya.
"Fokus Ndri! Biarkan! Kamu harus kuat, kamu harus saksikan apa yang terjadi di sana!" perintah Lily.
Andri menutup matanya dengan kedua tangan, ia mual. Semua yang ia santap pagi tadi buyar dimuntahkan. Ia terlihat tak kuasa melihat yang terjadi pada Nafira.
Si nenek tua, dengan amat mengerikan, ia buka lebar kedua kaki Nafira. Ia hempaskan gaun merah Nafira yang cantik. Satu per satu, kain yang menempel di tubuh Nafira ditanggalkan. Hingga akhirnya, Nafira telanjang tanpa sehelai benang pun menutup tubuhnya.
Nenek tua itu menjilat bibirnya penuh hasrat dan buas, amat menjijikkan.
Ia masukan satu jari ke bagian bawah di antara ************ Nafira. Gadis kecil kakak Andri mengerang merasakan perih di bagian bawahnya.
Tangis Andri menjadi-jadi, sambil terus memuntahkan isi perutnya. Ia tak lelahnya berteriak mengamuk, "stop! Hentikan!"
Mata Nafira menyedihkan menatap Andri kecil yang malang. Mata itu berkaca-kaca meminta tolong, tangannya juga meraih-raih Andri, tubuhnya pasrah tak bergerak ditindih si nenek. Sesekali meringis karena jemari si nenek tiada henti menggerayangi seluruh bagian bawahnya. Hingga tiga jari masuk, teriak Nafira pun melengking.
Selesai dengan mengobrak-abrik bagian bawah Nafira, kini si nenek membangunkan anak kecil itu. Ia dudukkan Nafira. Lalu ia perlihatkan miliknya yang peot, busuk, dan menjijikkan tepat di depan wajah Nafira.
Ia tabrakan wajah kecil itu ke 'milik'nya sendiri. Lalu menggesek-gesek bagian itu ke hidung, mulut, mata, ke seluruh wajah Nafira. Ia juga mengeluarkan dengan paksa lidah Nafira, menyuruh anak gadis itu menjilati bagian bawah si nenek yang menjijikan.
Andri tak bisa lagi membiarkan kejadian itu berlanjut. Ia lupa bahwa itu kejadian dahulu, sudah berlalu. Ia bangkit, berjalan menghampiri si nenek. Kemudian ia mendorong nenek tua itu.
__ADS_1
Pukulannya berkali-kali mengenai wajah si nenek. Ia menjerit-jerit histeris dan menggila.
Nenek itu meronta, berusaha lepas dari terkaman Andri. Tapi ternyata tubuhnya lemah tak ada tenaga. Andri berseringai menikmati tangannya yang menghantam wajah nenek jelek berpuluh-puluh kali. "Bangs*t! Set*n gila! Mamp*s lu! M*ti lu ke neraka! As* buntung! Ibl*s!" umpatnya.
Akbar datang. Segera ia pegangi Andri dan meneriakinya untuk sadar. Tak tanggung-tanggung Akbar tampar pula Andri dengan sangat keras.
Saat Andri terbangun, sudah dilihatnya Lily yang terbaring tak sadarkan diri. Wajah Lily bonyok kena jotos Andri.
Andri terguncang lagi. Dengan terbata ia bertanya, "itu karena... gu... gue!" tunjuknya pada tubuh Lily yang tak berdaya.
Akbar mengangguk sebal. "Lily bisa mati karena lu!"
***
Dokter di UKS merawat Lily. Sekolah ini akan heboh bergosip ketika mereka tahu yang terjadi pada Lily, terutama Malik dan istrinya. Jika ada Reyza, Reyza tak akan biarkan itu terjadi. Akbar paham itu. Ia berpesan pada dokter untuk merahasiakan kondisi Lily. Ia menyuruh Intan untuk menampung Lily malam ini, ia juga yang menggotong Lily ke UKS dan menutup bagian wajahnya ketika ia lewati para siswa dan guru-guru. Cukup cekatan juga si Akbar ini.
Tak lama Lily tersadar, Lily langsung bertanya di mana Andri.
Andri dengan sigap menunggu Lily di samping. Ia merasa amat bersalah.
Lily tersenyum seolah tidak terjadi apapun.
Di sana pun ada Intan dan Akbar menunggu.
"Kamu sudah ingat. Itu yang terpenting," ucap Lily.
Andri tertunduk.
Air mata Andri meleleh, sesenggukan. Perasaan bersalah meremas dirinya. "Maaf! Maaf! Maaf Ly! Gue pastikan itu gak akan terjadi lagi."
Lily mengusap lembut rambut Andri. Ia menghapus air mata Andri, dan menatap Andri. "Tenang saja. Aku percaya kamu sudah lakukan hal yang benar," ia tersenyum menyejukkan hati.
Andri mengisak, perlahan menghentikan tangisnya.
"Kalau kamu sudah siap, ceritakan padaku apa yang kamu lihat," pinta Lily.
Andri menjawab dengan anggukan tak bertenaga.
***
Mereka bubar, waktunya kelas. Lily dibiarkan istirahat.
Di lorong menuju kelas, Intan mepet ke Andri. Tak peduli kondisi emosi Andri yang saat ini sedang tak baik, Intan menghujani Andri pertanyaan dan omelan.
"Gue gak abis pikir sama lu! Bisa-bisanya lu buat Lily begitu. Untung Lily baik, coba kalau gue yang lu buat sebonyok itu, gue..." terpotong, saking marahnya.
Andri diam mendengarkan, kepalanya tertunduk lesu dan tatapannya kosong.
"Gue kesel pokoknya kesel! Lu sebenernya ada masalah apa sih Ndri! Lu gak liat Lily? Giginya ada yang copot, hidungnya patah, rahangnya juga! Matanya lebam! Lu buat Lily bonyok banget Ndri! Lu udah gila!!!" Napas Intan terengah-engah, seperti orang yang baru saja lari jauh.
"Tan..."
__ADS_1
"Diam!" sergah Intan pada Akbar.
Akbar menutup mulut.
"Gue lagi ngomong sama lu Ndri! Lu gak denger gue?! Lu jangan diem aja! Lu bisu hah! Gak punya mulut!!!" Kemarahan Intan memuncak.
"Ahhh! Gak tau lagi gue sama lu Ndri! Dari awal kita kena masalah ini tuh gara-gara lu!!! Gara-gara kita semua..."
"Tan...!" potong Akbar.
"Diam!" Intan menatap tajam Akbar memintanya tak menginterupsi.
"Karena kita coba bantu lu, semua jadi kena masalah! Karena kita coba buat pahami kondisi lu sama gambar-gambar lu yang jelek, gue, Lily, Reyza, Akbar... semuanya, semuanya kena masalah karena lu!!!"
Intan mengusap matanya. "Lu harus sadar Ndri! Lu jangan buat kita makin sulit!" Intan berhenti. Semua cerca sudah ia lampiaskan. Karena Andri, keluarga Intan juga kena batunya. Begitu pikir Intan saat ini.
Akbar mengusap pundak Intan, mencoba menenangkan gadis itu.
Andri terus tertunduk dan tak merespon apapun. Akbar curiga 'di dalam sana' bukan Andri. Akbar lalu menepuk pundak Andri, memanggilnya, "Ndri? Lu masih waras kan?"
Masih tak ada respon dari Andri.
Akbar mendorong tubuh Andri tak terlalu kencang, tetapi brukk!
Andri terjatuh.
Intan tidak terkejut, ia memutar bola matanya merasa bosan dengan kondisi Andri yang rentan pingsan seketika. Ingin ia berkata kasar lagi, tapi nurani Intan masih terjaga, ia minta Akbar untuk membawa Andri ke UKS.
Cukup susah payah membopong tubuh berat Andri. Sesampainya di UKS, tentu mereka bertiga mengejutkan Lily.
"Apa mereka datang lagi?" tanya Lily, matanya membelalak lebar.
"Enggak. Tiba-tiba dia pingsan aja," jawab Akbar.
"Kayaknya kita gak bisa deh gak jaga Andri sama Lily," ucap Intan. "Aku khawatir aja."
"Ya udah, kamu izin buat jaga aku di UKS," saran Lily.
Akbar agak berat hati meninggalkan Intan. Tapi Intan memang benar, di kondisi sekarang, Andri dan Lily perlu diberikan jarak dulu.
"Gue boleh di sini?"
"Enggak lah! Kamu masuk kelas sana!" tolak Intan judes.
***
Episode ini sempat kena tolak karena terlalu vulgar loh. Akhirnya Najwa sensor beberapa kata, hihi ....
Ini Andri kecil yaaa 😆
__ADS_1