
Sudah sangat larut. Akbar terjebak bersama Novis di gedung tua belakang sekolah. Pengurus tidak akan memeriksa siswa sampai ke gedung tak berpenghuni itu. Meski merasa aneh, Akbar tetap percaya pada temannya.
"Ini tempat gue santai," Novis mengeluarkan rokok yang ia simpan.
"Lu ngerokok?" Akbar tercengang.
Novis terkekeh.
"Tapi tempat apa ini? Kenapa lu maen kesini dan liat orang hitam itu di sini?" Akbar masih terheran-heran, tapi ia tetap berpikir positif.
"Untuk urusan mendesak. Kadang gue harus mengasah ini," Novis meraih pisau yang mengkilat.
Akbar tidak mengerti ia sedang berada di situasi apa. Tapi meski Novis sudah mengeluarkan logam tajam itu, Akbar masih saja yakin temannya ini baik dan normal.
"Lu pilih mana? Gue juga ada ini," Novis menunjukkan botol berisi cairan.
Akbar tidak mengerti apa itu. "Lu ngapain sih? Di mana lu liat si orang hitam itu dan kemana orang hitam itu kabur?" tanya Akbar tetap fokus pada tujuannya datang ke gedung itu.
Novis terkekeh aneh. Ia tersenyum seperti yang haus darah. "Kemari!"
Akbar mendekat.
Tiba-tiba Novis mengikat tangan Akbar dengan perekat. Dengan cepat ia memutar perekat itu di tangan dan kaki Akbar, dan Akbar hanya bisa bertanya-tanya kebingungan. Novis membanting tubuh Akbar yang terikat ke bangku, ia ikatkan lagi Akbar ke bangku hingga Akbar tak kuasa bergerak sedikitpun.
Di titik ini, Akbar ragu pada sosok Novis yang ia kenal. Ia bertanya, "lu siapa? Lu beneran Novis kan?" Akbar menggeliat, berusaha terlepas dari ikatan yang kuat.
Novis tersenyum. "Ini yang lu mau?" ia menunjukkan chip si penguntit. Novis tertawa gila. "Lu jangan ngarep ya!" Ia menendang Akbar hingga terjungkal.
"Bangs*t!" Cerca Akbar sambil menahan perih, kepalanya terbentur lantai.
Perlahan Novis mengangkat kembali Akbar, ia juga membisiki Akbar, "orang yang lu cari itu gue!"
Lalu Novis meneriaki telinga Akbar, "ORANG HITAM ITU GUE! BANGS*T!"
Akbar masih yakin itu Novis temannya yang baik. Matanya menatap Novis dengan penuh harap, "Vis! Vis gue mohon ke elu. Gue tahu lu di sana! Sadar Vis! Sadar!" Akbar terus menyebut nama Novis, ia percaya temannya sedang kerasukan.
Novis melempar ludah ke Akbar. "Gue gak segan bunuh lu sekarang. Tapi sayangnya gue gak bisa. Sumpah sayang banget!"
Akbar menggeleng. "Enggak! Itu bukan lu! SETAAANNN!!! Keluar lu dari tubuh temen gueeee!" Akbar melelehkan air mata. Ia menangisi temannya Novis yang terambil-alih oleh setan. Ia ingin menolong, tapi telat.
"Please! Gue mohon!!!" Akbar mengisak. "SETAN ***!!! KELUAR LU! Jangan ambil temen gue!" Ia terus merengek.
Novis terbahak. Ia malah pergi meninggalkan Akbar seorang diri di gedung tua itu.
***
Andri termenung, memikirkan kondisinya yang semakin sulit ia pahami. Reyza menawarkan kopi hangat, "minum!" ucapnya.
__ADS_1
"Satu sosok keluar Rey."
"Gue tahu," angguk Reyza. Ia berkata lagi, "Itu bisa jadi si pemarah, bisa juga bukan. Si pemarah itu kalah sama Akbar. Akbar cekik sosok itu. Sedangkan yang tadi, dia angkat Akbar dengan gampangnya."
"Jadi menurut lu, dia sosok yang beda sama yang lu temui sebelumnya?"
Reyza mengiyakan.
Andri bergidik. "Lu jadi buat gue makin takut Rey!"
"Ya sorry!"
"Rey! 'Dia' datang ya?" tanya Andri.
Reyza mundur sedikit, nada bicara Andri beda. Ia yakin itu bukannya temannya. Jantungnya seperti mau copot, terkejut ia mendengar suara Andri yang juga berubah.
"Nara?" tebak Reyza.
"Pintar kamu Rey. Kamu tahu ini aku."
Tentu. Itu karena Reyza sudah berkali-kali bertemu dengan sosok Nara.
"Dia mengajak 'kami' ke suatu tempat. Tampaknya gue harus turuti mau 'dia' kali ini," Nara tersenyum menakutkan.
Reyza menelan ludah, lalu berdiri. "Ayo gue antar Nar," ajak Reyza.
***
Lily jawab, "Ke Intan Yah."
Faktanya, Lily berbelok dari kamar Intan. Ia lurus menuju gedung belakang sekolah. Sembunyi di balik ilalang tinggi, ia memerhatikan Andri dan Reyza berjalan masuk ke gedung itu.
Saat Andri terlelap di UKS dan tidak ada Reyza menemani, Lily menanamkan aplikasi pelacak di handphone Andri. Ini agar Lily bisa tahu kemana Andri pergi. Untuk apa dan kenapa Lily lakukan itu tanpa memberitahu Intan dan Reyza? Gadis ini memang gadis misteri.
Udara malam teramat dingin, belasan derajat Celsius. Lily memeluk tubuhnya, sambil terus mengendap-endap mengikuti Andri dan Reyza.
***
"Gue pamit. Lagi-lagi 'dia' kayaknya mau keluar," ucap Nara.
Reyza bersiap.
Dan proses yang cepat. Sosok yang lebih sangar dari Akbar kembali. Melalui wajah Andri, ia berseringai mengerikan.
Reyza sopan sambil takut-takut berkata, "ada apa di sini?"
"Ikut aku!" suara sosok itu berat dan serak.
__ADS_1
Bagi Reyza ini ganjil, mengapa ke 'gedung tua di belakang sekolah'? Ada apa di sini? Tapi ia tetap mengikuti Andri dengan sosok seram di dalam tubuhnya.
Di dalam gedung itu, mereka berpapasan dengan Novis. Reyza terkejut bukan main. Sementara Novis hanya melotot ke mata Reyza. Ada pisau di tangan Novis.
Reyza mundur melihat pisau itu. Ia waspada, ia takut Novis gegabah.
Tapi tak disangka, Novis berbalik dan berlari kesetanan. Andri mengejarnya dengan cepat.
Reyza tertinggal tak paham. Setelah kedua orang itu pergi entah kemana, gedung ini menjadi sepi. Hanya berpenghunikan Reyza seorang diri. Sayup-sayup ia mendengar suara lirih. "Tolong!" suara laki-laki.
"Tolong gue! Siapapun yang di luar sana!" Reyza hapal itu suara Akbar.
Ia bergegas berlari mencari Akbar. "Bar! Ini gue Reyza! Lu dimana?"
"Rey! Gue di sini!" Panggil Akbar.
Reyza terus berlari mengikuti suara Novis. Ia berhenti di ruangan aneh, penuh dengan koleksi logam tajam. Ia tercengang melihat Akbar yang terikat.
"Lu kenapa bisa di sini? Novis yang buat lu begini?" tanya Reyza sambil melepas ikatan Akbar.
"Novis kayaknya kerasukan. Di mana dia sekarang?"
"Dia dikejar si Andri. Andri juga lagi dikuasai makhluk lain."
Akbar menggeleng tak habis pikir. Kenapa dua orang itu lemah depan setan sih. Dengan mudahnya Andri dan Novis kerasukan!?
"Ayo kita cari mereka!" ajak Akbar.
***
Lily berlari terengah-engah mengikuti Andri. Ia tahu yang Andri kejar. Ia pergi memotong jalan. Ke arah depan, lalu BRUK. Lily menabrak Novis.
"Si*lan!! Minggir lu pelac*r!" hina Novis.
Lily tidak menyerah, ia menahan kaki Novis. Menggigitnya, menjatuhkan tubuh Novis, menimpa Novis dengan tubuhnya. Terakhir, Lily memutar tangan Novis, hendak mematahkan tangan itu. "Menyerahlah! Lu gak akan bisa gerak!" bentak Lily.
Novis meringis kesakitan. Sendinya terkilir. Ia menjerit-jerit, ia minta ampun. Menangis memanggil mama. "Okay gue nyerah *******!" rengek Novis.
"Nara! Keluarlah!" panggil Lily.
Dari tubuh Andri, seseorang berkata sambil tertawa senang. "Selamat! Akhirnya kamu menangkap si tikus."
Lily tersenyum puas.
***
Akbar ☺ Kasar di luar, lembut di dalam ya kan... hehehe
__ADS_1